Ideologi: Antara Sejarah Ideologi: Antara Sejarah Teori Dan Teori Sejarah

Berangkat dari sebuah pernyataan diatas, membuat kita akhirnya sebagai kaum pergerakan harus berani segera mengambil sikap tegas atas sejarah Indonesia. Sikap yang semata-mata tidak hanya diwujudkan dalam hujatan-hujatan terhadap para penguasa dzolim ataupun tindakan heroisme dan keterburu-buruan semata yang terkadang selalu terjebak dan selalu berujung pada kalkulasi untung rugi sosial saja. Pendekatan atas sejarah teori atau pendekatan teori sejarah menjadi hal yang sangat fundamental untuk dipilih dalam merangkai sebuah bangunan Ideologi. Jikalau kita meyakini bahwa talenta yang dimiliki manusia-manusia di dunia ini memiliki kekayaan dan keanekaragaman (baca:heterogenitas) yang luar biasa, mengapa di dunia ini selalu ada kehendak dari beberapa sekolompok manusia yang masih menginginkan keseragaman (baca: homogenitas)? Apakah maksud-maksud dari ideologi-ideologi besar dunia hadir untuk menglobalisasikan keberadaan dan hakekat manusia di dunia menjadi satu sistem dunia? Sesungguhnya kemana gerangan arah yang dituju gerak cepat kemajuan yang dibikin manusia dengan kecanggungan metafisis yang masih belum bisa selesai bahkan dengan proyek sejarah yang dimulai sejak zaman Pencerahan sekalipun? Atau benarkah komunisme pada akhirnya malah menggali liang kuburnya sendiri karena maksud-maksud dari ideologi itu sendiri tidak sempat diimplementasikan oleh para penganjurnya dan penciptanya sendiri?

Menjadi manusia kaya atau miskin dalam pengertian sikap ideologi menjadi hal yang krusial bagi kaum pergerakan dalam menyusun pentahapan teori revolusinya sendiri. Sikap yang pernah diyakini oleh republik ini ketika memandang kelahiran Nasionalisme bangsa ini sebagai antitesa dari Kapitalisme-Sosialisme adalah merupakan suatu lompatan sejarah dalam republik ini untuk mendudukan kembali bangunan sejarah kembali ke rel yang seharusnya. Tapi ini bukanlah berarti bahwa Nasionalisme republik ini bisa mengungkung gerbong sejarah yang sedang terus berjalan. Disinilah kemudian menjadi hal yang sangat penting, bagaimana kita harus memahami dan memperlakukan ideologi

Jika abad ke-19 dikenal sebagai "abad ideologi" (the age of ideology), ternyata abad ke-20 dipandang sebagai "akhir ideologi"(the end of ideology) lewat sosiolog Daniel Bell, atau oleh pemikir-pemikir liberal Francis Fukuyama malah disebut sebagai periode dari "akhir sejarah" (the end of history), bahwa Kapitalisme telah menjadi dari ujungnya sejarah peradaban umat manusia di dunia. Maka dengan apa kita ingin membuktikan bahwa ideologi belumlah terkubur dan dengan apa pula kita ingin mengatakan bahwa ideologi hadir bukan untuk kepalsuan dan dogmatisme suatu ajaran?

Sekiranya Nasional Demokrasi Kerakyatan (Nademkra) yang telah diusung oleh Front Perjuangan Pemuda Indonesia dalam menghiasi pergerakan di Indonesia selalma ini berusaha ambil andil dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi yang harus disedari dari awal, bahwa ideologi bukanlah ilmu nujum yang disusun untuk impian dan ramal meramal perubahan. Kemampuan rasional manusia melihat masa depan harus dibuktikan dengan membangun relasi substansiil dengan proses yang berlangsung pada saat ini; bukan dengan mengumpul-ngumpulkan busa angan-angan menjadi gambaran yang seakan masuk akal. Pintu akal kita, yang dengannya pikiran kita bakal terbuka dan dapat merencanakan (ingat; merencanakan, bukan meramal) masa depan, adalah tindakan dialektika yang sungguh-sungguh kita wujudkan melalui ukuran dan hitungan kenyataan.(Manipol NDK)

Ini berarti tugas pergerakan di republik ini bukanlah menyusun dan merangkai teks-teks revolusioner di berbagai belahan dunia sebagai bahan untuk membuat karangan ideologi bagi Indonesia, namun tugas pergerakan hari ini adalah bagaimana kita bisa menuliskan ideologi kita sendiri dengan memasuki relung dalam ekonomi politik yang menjadi dasar segala “alasan” berputarnya roda sejarah masyarakat republik ini sebagai jaminan berakhirnya penindasan-penghisapan kemanusiaan. Pada akhirnya itu semua akan bermakna bahwa ideologi bangsa ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia itu sendiri.

Tetapi sebelum kita membahas mengenai formulasi atas Nademkra itu sendiri, mungkin kita harus bisa menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan terdahulu di awal tulisan ini.

AGAMA DAN PROBABILITAS SAINS

                         AGAMA DAN PROBABLITAS SAINS
Oleh: Almufdi


     Sejenak berdiskusi dan berpikir dalam ruang kelas demi kebebasan berpikir. banyak beranggapan bahwa agama dan sains berjalan selaras karena banyak yang menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci selaras dengan teori sains namun klo kita menelisik peristiwa sejarah perkembangan sains, terjadi pertentangan tentang teori heliosentrisme dimana galileo galilei menerima inkuisi dari gereja katolik pada masa itu dukungan, galileo terhadap teori tersebut mengalami pertentangan dengan gereja katolik di roma yang menganggap bahwa pemahaman tersebut bid`ah terhadap ajaran dalam agama katolik. 

     Namun klo digunakan persfektif etika dalam pengetahuan mungkin mampu menjadi solusi, karna keberadaan pengetahuan jika tidak dikontrol dengan etika justru akan menjadi masalah, misalnya saja pengetahuan tentang kekuasaan yang dimana sekarang kita berada situasi ilmu pengetahuan justru menjadi alat menipu jadi alat eksplorasi alam dsb. suatu ketika dalam kelas saya diperhadapkan oleh sahut-sahut yang menyatakan  bahwa setelah lulus saya ingin bekerja di pertambangan biar bisa cepat kaya. Namun dalam kajian dinamika sosial, ternyata 70% persen kerusakan lingkungan akibat operasi tambang. inilah satu bukti jika pengetahuan hanya dibangun dari sikap kapitalisme yang dimana pengetahuan justru menjadi alat penyiksa bagi kaum-kaum yang tak memiliki kuasa, penghisapan akan terus ada dan mungkin semakin berlipat ganda. Ketika pengetahuan tidak dibangun atas dasar etika dan moral dalam berpikir. Kerjanya cuma eksploitasi rusak alam, gusur warga, korupsi. Untuk Apa Berilmu Kalo Hanya Digunakan Untuk Menindas Rakyat. Baca Diskusi Aksi.


                    "MENDIDIK RAKYAT DENGAN PERGERAKAN, MENDIDIK PENGUASA DENGAN PERLAWANAN"

KESADARAN DAN IDENTITAS

                        KESADARAN DAN IDENTITAS
Oleh: Almubdy

     Manusia dibangun akan kesadaran dan pengalaman, setidaknya identitas manusia yaitu berpikir dan bertindak. Namun kadang manusia cenderung membentuk suatu kesadaran yang nyatanya tidak menjadi solusi akan ketertindasan yang dia alami. 

     Sederhananya ketika kamu lapar akan mencari makanan tapi kamu tidak paham apakah hari esok saya akan dapat makan?. Keberagamaan ini yang kadang membentuk suatu kelas di masyarakat, rakyat kecil menganggap dirinya tidak tertindas karna orientasi kebutuhannya hanya berpacu pada makan dan minum, sedangkan para investor menganggap dirinya tertindas karna orientasi kebutuhan tidak berpacu pada makan dan minum.

     Kesadaran yang dibentuk oleh individu-individu tersebut yang kadang membuat semakin terhisab dalam identitas yang menurutnya jelas namun tidak sadar dia semakin lama terbelenggu akan kebutuhannya. 
Keberagamaan dan keselarasan mungkin mampu menjadi solusi akan hiruk pikuk nya dunia sekarang, kadang tokoh-tokoh atau kaum intelektual sudah bergerak untuk membagikan ceramah kepada kelas-kelas ini untuk sama-sama bergerak selaras namun tetap saja sulit dalam menyatukan pemikiran yang berbeda. 

     Pasti ada saja yang bertentangan akan penyelarasan ini pasti saja ada kontroversi atas suatu kebijakan, kadang manusia cenderung menyalahkan sesuatu tapi tidak paham akan masalah yang ia hadapi. Ketika negara memunculkan suatu aturan atau perintah kepada rakyat, kadang-kadang akan melahirkan sebuah kritikan namun kritikan yang kadang ditorehkan oleh sekelompok rakyat yang menganggap itu bukan bagian dari kebutuhan, sedangkan di sisi lain kelompok yang lain  santai-santai saja. 

     Padahal seharusnya manusia akan tertarik berada di suatu keadaan ketika kelompok-kelompok tertentu menjadikan itu suatu kebutuhan. Sederhananya  ketika muncul sesuatu yang baru manusia akan mencari tau hal itu dan menjadikan hal ini sesuatu yang menarik. Dan tak berselang berapa lama ketika hal itu sudah dianggap tidak menarik manusia akan mencari hal-hal baru yang mungkin bisa memunculkan identitas baru akan individu-individunya. 

     Stigma-stigma yang berada atas hal ini mungkin sederhana namun menjadi suatu masalah ketika individu tersebut tidak melakukan suatu upaya atas masalah yang nyata. Entah itu masalah kemiskinan, gizi buruk, buta huruf, pengangguran, kebodohan yang mendara daging. Kalo negara dibentuk akan kesadaran harusnya rakyat bergerak bersama dengan kesadaran, jangan bergerak akan identitas sampe 1000 kali pergantiaan pemimpin tak akan merubah bangsa dan negara ini yang katanya menyimpan segala kekayaaan akan alamnya namun dimiskinkan karna kebodohan yang mendara daging, mudah dihasut dengan isu identitas mudah di adu domba karna ras dan hancur karna candu akan agama. 

     Kesadaran yang dibentuk dan keberagamaan yang ada jangan menjadi masalah tapi jadilah sebuah solusi atas perbedaan itu. Jika perjuangan dan pergerakan manusia berada pada kesadaran fitrah manusia tidak hanya berpacu pada ekonomi dan kekuasaan. Perubahan pasti akan kita raih walaupun butuh waktu lama namun pasti, namun ketika orientasi manusia hanya masih berpacu dalam kerangka hal itu sampe dunia ini berada pada titik nol. Perubahan dan harapan kaum-kaum yang sadar tak akan tercapai. Kalo soekarno bilang berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia, dan berikan aku 100 orang tua maka akan kucabut semeru dari akar-akarnya. Ini sebuah harapan sederhana namun mampu membawa perubahan. Karna tidak ada lagi pertentangan dan tidak ada lagi polemik semua bergerak untuk tujuan bersama. Hidup Rakyat,Hidup Manusia Yang Sadar.

APAKAH TANGGUNG JAWAB YANG AKAN MENGHANCURKAN PERJUANGAN?

Apakah tanggung jawab yang akan menghancurkan perjuangan?
Oleh: Akram Suhendra

     Apabila tanggung jawab yang akan merubah garis perjuangan kenapa harus takut mengemban tanggung jawab? Namun jangan jadikan tanggung jawab sebagai kesewenang-wenangan dalam bertindak yang menanggalkan kesadaran kedewasaan dalam berorganisasi yang akan menghancurkan realnya perjuangan, realnya garis besar haluan organisas"GBHO" Itu sendiri dalam organisasi.

     Terkadang ketakutan akan struktur yang mencekam menjadikan jabatan sebagai kekuatan kekuasaan atas kesewenawenangan yang menjadikan bagian terbawah sebagai kambing hitam atas ketidak jelaskan kerja-kerja yang terjadi terhadap tugas di bagian struktur dalam berorganisasi.

     Yang perlu di garis bawahi bahwa dalam tugas struktur organisasi sudah jelas melalui tanggung jawab individu yang memegang penuh bagian dalam struktur melalui setiap bagian yang telah di tetapkan dalam organisasi. Terkadang individu seringkali melupakan tugas dan tanggung jawab hingga melenceng dalam tuntutan organisasi yang sedang individu itu emban di dalam struktur, sehingga seringkali terlalu takut ketika bagian yang menjadi tanggung jawabnya tak berjalan sesuai apa yang di tetapkan sehingga cenderung mencari kesalahan terhadap bagian terendah dalam struktur organisasi.

     Sikap dalam berorganisasi bukan persoalan kekuasaan dan seberapa cerdas isi otak yang berfikir, namun seberapa baik sikap kesadaran berorganisasi tanpa menjatuhkan individu lain yang akan merusak mental setiap bagian dalam struktur organisasi.

     Yang diharapkan adalah yang menjungjung tinggi kedewasaan berorganisasi. Seseorang yang terlibat dalam organisasi tentunya atau idealnya, harus memiliki hal ini. Legowo menerima kenyataan bahwa tugas dan tanggung jawabnya tidak berjalan selaras atau tak sesuai dengan tuntutan organisasi. Dalam organisasi bukan hanya satu kepala namun isinya banyak kepala, banyak kepentingan dan tidak hanya dia yang mempunyai tugas dan tanggung jawab pribadi. Idealnya dia bisa menekan ego pribadi, dan mengutamakan, dan tentunya mendukung pelaksanaan keputusan bersama dalam organisasi.

     Menjadikan kritik yang masuk sebagai bagian yang wajar dalam berorganisasi adalah salah satu bentuk kedewasaan bukan malah megintimidasi bagian terendah dalam struktur organisasi yang menimbulkan perpecahan dalam organisasi. Dalam kritikan yang masuk individu harusnya menyadari kesalahan dan memulai merekonstruksi kembali kerja-kerja yang dijalankan bukan lagi mencari kambing hitam yang menjadikan bagian bawah struktur organisasi sebagai pelampiasan kesalahan yang akan memperkeruh situasi.

     Yang perlu diingat bahwa, ukuran kedewasaan bukan atas dasar sudah seberapa besar tingkatan kesadaran, seberapa cerdas isi kepala tapi lebih ke seberapa kita mampu memilih tindakan yang positif dalam menyikapi semua yang berbeda yang mulai melenceng dari garis kordinasi organisasi, seberapa kita mampu melihat sisi celah kesalahan yang ada, menyelesaikan secara kolektif sehingga tak terjadi diskomunikasi dalam berorganisasi. 

  "MENDIDIK RAKYAT DENGAN PERGERAKAN, MENDIDIK BIROKRASI DENGAN PERLAWANAN. "

   

Habis wisuda, mau apa?

Sebelumya saya ingin bertanya; apa kabar mahasiswa ini hari? Satu pertanyaan awal dari saya ini, tidak usah kalian jawab. Yang perlu dijawab itu adalah pertanyaan yang saya jadikan sebagai judul dari tulisan diatas.

Jika ternyata salah satu dari banyaknya mahasiswa yang akan diwisudakan bulan ini dengan bulan dua belas mendatang, maka teranglah bahwa pasca wisuda (sudah menjadi sarjana) pertanyaan itu tak lagi dianggap penting oleh para wisudawan dan wisudawati. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah sudah wisuda dan telah sarjana.

Di salah satu kampus negeri yang berada di makassar sulawesi selatan (tepatnya kampus) UIN Alauddin Makassar (UINAM) dengan rektor barunya (hamdan juanis), akan menggelar 'acara wisuda' untuk para mahasiswanya yang sudah lebih dulu telah mendapatkan gelar sarjana (yudisium). Acara itu akan diadakan di bulan ini dan di bulan desember mendatang.

Perlu diperhatikan bahwa yang menjadi topik inti pembahasan kali ini bukan soal rektor barunya, bukan nama rektornya, dan bukan pula acara wisuda yang akan digelarnya. Tapi yang menjadi topik inti pembahasan adalah tentang keberadaan dan keadaan rill mahasiswa itu sendiri pasca diwisudakannya. Oleh karna itu, saya harap para pembaca tidak terkecoh dengan beberapa objek yang saya siratkan diatas. Pembaca lebih kritis dari penulis bukan?

Berdasarkan kenyataan (realitas) yang terjadi dalam diri mahasiswa yang sudah menjadi sarjana sebelumnya mengalami disorientasi pasca statusnya bukan lagi sebagai seorang mahasiswa. Disorientasi yang saya maksud adalah terletak dari orientasi dari pendidikan itu sendiri. Tentu para pembaca tak lagi asing dengan kalimat 'sarjana pengangguran' atau 'sarjana pulang kampung' bukan?

Senada dengan itu, arah pendidikan yang tidak jelas arahnya mau kemana, akan membuat jalan para sarjana semakin tak jelas arah pula. Akhirnya para sarjana-sarjana itu akan menemukan jalan buntu.

Pilihan sementara bagi mereka adalah cari kerja atau pulang kembali ke kampung halamannya. Mereka yang melamar kerja kesana kemari tanpa henti, tepatkah jika dikatakan bahwa orientasi dari pendidikan itu adalah kerja? Jika memang tepat, pekerjaan apa yang ditawari (dijamin) oleh pendidikan (pergurun tinggi) untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah sarjana?

Karena tidak adanya jaminan pekerjaan dari pemerintah untuk mahasiswa yang sarjana itu akhirnya dengan terpaksa mereka lebih memilih pulang ke kampung halaman saja. Sewalaupun ada juga sebagian yang masih tetap semangat membawa lamaran kerjanya ke tempat-tempat yang membuka lowongan kerja. Akhirnya semua bergantung kepada ekonomi. Iya ekonomi.

Selanjutnya, kartu pra-kerja yang diprogramkan oleh jokowi itu bukanlah kartu yang menjamin terbukanya lapangan kerja dengan seluas-luasnya untuk masyarakat menengah kebawah melainkan ia sekadar kartu untuk melancarkan pemerintah melakukan pembodohan secara massal. Ingat, salah satu titik fokusnya negara (pemerintah) saat ini adalah melakukan investasi secara besar-besaran.

Realisasi dari kartu pra-kerja itu sudah benar-benar terbukti tidak? Nyatanya masih banyak mahasiswa-mahasiswa yang sarjana pengangguran. Inilah salah satu disorientasi yang saya maksud diatas.

Untuk lebih memperjelas pertanyaan dari judul tulisan saya ini, marilah kita membenturkan konsep pendidikan dengan kenyataan yang dirasakan oleh para sarjana pasca wisuda. Satu hal yang paling nyata adanya adalah yaitu bahwa pendidikan itu adalah formalitas masa depan semata.

Realitasnya lebih dari nyata dari segala kebingungan mahasiswa yang sudah menjadi sarjana mau melakukan apa dan mau kemana. Adakah saya keliru?

Yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah apakah ada jaminan untuk para sarjana-sarjana itu langsung kerja jika memang orientasi dari pendidikan itu adalah kerja? Secara langsung itu adalah suatu kemustahilan. Tidak salah jika saya harus mempertanyakannya. Mau apa dan mau kemana? Dua pertanyaan yang saya ajukan itu adalah perwakilan dari ribuan banyaknya realitas yang mengalami kerancuan. Siapakah yang membuatnya rancuh?

Sepenggal tanya jawab antara mahasiswa sarjana pendidikan, mahasiswa sarjana ekonomi, dan mahasiswa sarjana hukum. Ketiga-tiganya sudah lama menjadi seorang sarjana;
"Pasca baru-baru wisuda kemarin, kamu langsung kemana?" tanya mahasiswa sarjana pendidikan kepada kedua temannya.                                                                                  "Aku langsung pulang kampung" jawab mahasiswa ekonomi yang pertama.                     
 "Kalau aku sih, ngadain acara syukuran dulu, setelahnya langsung pulang kampung." jawab sarjana hukum yang kedua.                                                                                          "Kalo kamu sendiri, langsung kemana?" giliran sarjana ekonomi bertanya balik kepada sarjana pendidikan. "Aku nggak kemana-mana kok. Aku hanya menunggu kartu pra-kerja yang diprogramkan oleh jokowi terealisasi." jawab sarjana pendidikan dengan nada sendu.         
"Ah, ngapain menunggu janji-janji politik. Lebih baik kamu tungguin panggilan reviuwmu dari perusahan kemarin." ujar sarjana hukum menawarkan seketika.                                                               
"Benar juga tuh. Iya nih ujung-ujungnya kita mah bicara ekonomi." ungkap sarjana ekonomi melamunkan suasana.                                                                                     "Hmm. Ganti topik deh. Terus, kalian sekarang ngelakuin apa nih?" tiba-tiba sarjana pendidikan mengajukan pertanyaan baru.                                                                                            "Nggak tau nih, nganggur aja mah." jawab sarjana hukum sembari menundukkan kepalanya ke bawah kerikil.                                                                                          "Anjir,,, kita berdua senasib kayaknya sob." ujar sarjana ekonomi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.                                                                                  "Ah bangsat,,, kita bertiga benar-benar senasib." ujar sarjana pendidikan dengan murka.     
"Terus habis ini, kita mau apa dan mau kemana nih sob? Tanya sarjana hukum segera.    
"Nggak tau" jawab sarjana pendidikan dengan sarjana ekonomi serentak sambil sedikit mengangkat kedua bahunya.                                                                                     "Wah sama nih. Lucu yah, kita bertiga pada nggak tau mau apa dan mau kemana. Padahal kita sarjana. Hahaha" ungkap sarjana hukum mengakak.                                                    
"Hahaha, sama-sama sarjana pengangguran kita mah. " ketiga-tiganyapun sama-sama mengakak.

Sepenggal percakapan dari ketiga mahasiswa yang sarjana diatas, kiranya dapat dijadikan sebagai gambaran (bukti) dari realitas yang mereka alami. Kita harus membuat penjelasan terkait disorientasi yang acapkali terjadi. Sebab tanpa menjelaskannya, maka sama saja mahasiswa-mahasiswa saat ini sebagai ayam kampus yang terasing dari dalam kandang para induk-induknya.

Selebihnya, point penting yang saya mau sampaikan dalam tulisan ini adalah; Pertama, mahasiswa ditindas lewat regulasi birokrasi dan regulasi para penguasa. Kedua, regulasi tanpa realisasi sama saja basa basi. Ketiga, title sarjana yang dimasukkan dibelakang nama para mahasiswa tidak menjamin ketuntasan dalam menuntaskan segala tuntutan.

Oleh karena itu, yang harus dipertanyakan adalah; kapan tuntas! bukan kapan wisuda. Dengan mendidik mahasiswa dengan pergerakan, maka proses penyadaran itu harus dilakukan. Dengan mendidik birokrasi dengan perlawan, maka perubahan itu harus diciptakan.
Jadilah MAHASISWA,                                                                             jangan jadi HAMASISWA.

Oleh: Anas Mbojo

Kader Fokmad Angkatan VI


Berpendidikan artinya menciptakan kebudayaan, namun tidak bisa jika pendidikan dilakukan hanya sebagai syarat jika sebuah bangsa sudah beradab atau berbudaya. Karena idealnya pendidikan dilakukan untuk mencapai pembebasan dan melepaskan belenggu penindasan. Idealnya pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Idealnya pendidikan tidak boleh menjadikan manusia menjadi teralienasi dengan masyarakat sebagai penghasil pengetahuan.
Permasalahannya adalah karena pendidikan dianggap menjadi ujung tombak bagi pembebasan, maka lewat pendidikan pula penindasan mampu diciptakan. Penciptaan mental feodal yang sangat mengekang ekspresi kebebasan diciptakan dilingkungan yang secara ideal harus memiliki pikiran yang bebas.


Represifitas yang dilakukan oleh aparatus ideologis kampus dilakukan guna meredam daya kritis mahasiswa dan mereka yang mengkritik segala kebijakan kampus.

Hasilnya adalah kampus mampu menciptakan lulusan2 yang tunduk dan takluk serta tidak memiliki sense of crisis dan sense of humanitiy yang tinggi, sehingga pendidikan tidak beda dengan sarana menciptakan pekerja2 yang tunduk kepada para pemilik pabrik.


Untuk itu, kegiatan PRANDK Basis Fokmad yang Ke-VI  mengusung tema Berkawan & Melawan sebagai proses pembebasan berpikir dan melawan represifitas agar mampu menciptakan perubahan dan pembebasan.



FPPI MAKASSAR Mengecam SK Skorsing UNANDA PALOPO

Sambil membawa spandung bertuliskan "Wujudkan demokratisasi kampus dan cabut sk skorsing terhadap 3 mahasiswa unanda palopo",puluhan pemud berorasi di depan gedung Unismuh.

Sontak aksi demonstrasi tersebut menjadi tontonan sejumlah sivitas akademika Unismuh lainnya.

Mereka menggelar aksi penolakan sanksi skorsing yang dijatuhkan kepada mahasiswa UNANDA PALOPO yang mendapatkan Sanksi Skorsing akibat terlibat aktif dalam perjuangan mahasiswa. Komang Jordi, Febriansyah, & Mardanianto (Mahasiswa Fakultas Ekonomi) mendapat sanksi skorsing melalui Surat Keputusan Rektor Nomor 207/104.02/B/023/I/2019/. Dalam keputusan tersebut menyatakan tuduhan kepada Komang Jordi dkk atas tindakan yang memicu atau menghasut yang menimbulkan keonaran padahal mereka menuntut sarana & prasarana, transparansi uang BOP, turunkan uang final, dan evaluasi kinerja dosen terhadap kampus mereka sendiri. Atas tuduhan tersebut, Rektor melayangkan skorsing selama 2 Semester dan pelarangan untuk berkegiatan non akademik di lingkungan kampus UNANDA PALOPO.

“Kami dari FPPI Makassar berkomitmen dan untuk terlibat dalam mewakili masalah demokrasi dikampus dan kami menuntut cabut SK skorsing terhadap tiga mahasiswa Unanda, tolak represifitas yang dilakukan oleh birokrasi Unanda, wujudkan demokratisasi kampus dan cabut UUPT Nomor 12 tahun 2012,” jelas firdhas sebagai korlap.

Perempuan Bukan Boneka Kapitalisme

Oleh:Rika Sahutri
Pada zaman primitif dimana kaum lelaki dan perempuan bekerja sama dalam melangsungkan kehidupannya.Tidak ada kelas maupun kelompok di dalamnya dan saling melindungi antara satu sma lain. bekerja karena keinginan hatinya tidak ada unsur pemaksaan dari siapapun. menggantungkan hidupnya pada alam,  ketika persediaan  alam itu berkurang maka mereka memilih untuk berpindah-pindah tempat.  sehingga keadaan itu mengharuskan mereka bertemu dengan kelompok lainnya, pertentanganpun terjadi yang akhirnya melahirkan 2 kelompok yaitu kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah. inilah cikal bakal lahirnya kelas.
Seiring dengan berkurangnya persediaan alam disertai adanya rasa takut terhadap musuhnya maka kelompok itu memilih untuk tinggal menetap pada suatu wilayah. terjadilah pembagian kerja, di karnakan ada salah seorang perempuan yang sedang mengandung maka perempuan tersebut dibiarkan tinggal dan tidak di bolehkan untuk berburu. ide brilian muncul dari pengalaman seorang perempuan yang melihat biji buah yang jatuh kemudian tumbuh sehingga mereka memutuskan untuk bercocok tanam. Kaum laki-laki pun tak mau kalah dengan kaum perempuan sehingga mereka memutuskan untuk berternak.
Sebelum negara didirikan,  manusia hidup dalam keadaan alami. Suatu keadaan dimana watak manusia adalah bebas, tanpa ada batasan apapun. Dalam masyarakat ini yang berlaku adalah hukum alam, dimana tiap-tiap orang berusaha mempertahankan dirinya untuk hidup, kalau perlu dengan menyerang orang lain. Dalam keadaan seperti inilah yang membuat setiap individu selalu merasa tak aman, selalu dalam keadaan ketakutan atas keselamatan dirinya,  karena pada dasarnya manusia adalah serigala bagi manusia lain ( homo homini lupus).
Dari pertentangan-pertentangan kemudian hadirlah negara untuk menciptakan perdamaian. Negaralah yang menjadi agen sejarah untuk membantu manusia yang sekarang berproses menjadi manusia yang sempurna di kemudian hari.  Keinginan negara adalah keinginan umum untuk kebaikan semua orang. (budiman, 1996:5).
Tetapi seperti kita lihat dari sejarah terbentuknya negara hingga pada konteks sekarang negara justru dijadikan alat dari kelas yang berkuasa,  walaupun negara bertujuan mendamaikan pertentangan kelas itu namun konflik itu tetap tidak terdamaikan ketika masih ada kepemilikan pribadi. Negara seharusnya dapat memberikan keadilan terhadap setiap warga negaranya baik dalam pekerjaan maupun pendidikan, laki-laki maupun perempuan.
Sejak awal 1900-an, ketika terjadi perubahan besar di era industrialisasi dunia, diiringi juga dengan meningkatnya jumlah penduduk dan munculnya ideologi-ideologi radikal. Salah satunya adalah perubahan status perempuan di ruang publik dan ruang privat. Keadaan perempuan indonesia pada waktu itu masih dalam konservatisme dan sangat terikat oleh adat. Pengajaran di sekolah hanya di peruntukkan bagi anak laki-laki,  sedangkan anak-anak perempuan hanya mendapat pendidikan di rumah atau dilingkungan keluarga dan pendidikan yang di perolehnya tidak lebih dari persiapan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Memasak,  menjahit,  membatik merupakan sebagian besar kegiatan anak-anak perempuan. Ikatan adat sangat kuat yang tidak memungkinkan mereka lepas dari kungkungan adat dan keluarga, dan kalau di bandingkan dengan anak laki-laki mereka jauh ketinggalan.
ketika kita melihat nasib kaum perempuan, dimana sejak awal masuknya penjajah sampai sekarang perempuan hanya menjadi objek seksual bagi kaum lelaki.  Dimana perempuan hanya dijadikan budak oleh kaum-kaum yang berkuasa. belanda menjadikan perempuan pribumi sebagai pemuas hasrat seksual para tentara belanda pada saat itu. Mereka tidak dibiarkan untuk berperang dan berpendidikan.
RA kartini, pelopor gerakan emansipasi, menyerukan agar bangsa indonesia di beri pendidikan,  khususnya kepada perempuan indonesia karena mereka yang memikul tugas suci. Oleh karna kaum muda harus berpartisipasi dalam kemajuan dan menolak konservatisme dan untuk mencapai itu semua kartini meminta "agar bangsa jawa di beri pendidikan". Dalam hal ini jelas bahwa bagi kartini pendidikan merupakan persoalan pokok dalam masyarakat indonesia. Pendidikan bukan hanya ditujukan kepada kaum laki-laki tetapi pendidikan bagi kaum wanita juga harus mendapat prioritas.
Di dunia pekerjaan pun terdapat pendiskriminasian terhadap perempuan, buruh perempuan di pekerjakan dengan waktu yang sama dengan buruh laki-laki tetapi gaji yang didapat tidak sama, laki-laki mendapatkan gaji yg lebih tinggi dibanding dengan perempuan. Padahal ketika kita membandingkan dari segi kebutuhan,  kebutuhan perempuanlah yg lebih banyak ketimbang laki-laki.
Konteks sekarang ini Perempuan mendapatkan penindasan yg double ketimbang laki-laki. selain bekerja mereka juga harus merawat keluarganya. Disaat mereka bekerja otomatis mereka tidak dapat merawat keluarganya.  Inilah yang menjadi beban berat terhadap perempuan ketika ada masa dimana perempuan itu seharusnya tidak bekerja karna kesehatannya akan terganggu tetapi ketika mereka tidak bekerja maka gajinya akan di kurangi. Contohnya ketika si perempuan menstruasi atau ketika perempuan hamil seharusnya mereka di berikan cuti yang cukup agar kesehatan bayi dan dirinya tidak terganggu tetapi perusahaan hanya memberi mereka cuti dengan waktu 2 hari.
Sungguh ironis nasib perempuan milenial yang di jadikan komoditi oleh penguasa. Bukan saja tenaganya yang di eksploitasi tetapi bentuk dari tubuhnya pun di eksploitasi.  Tenaga pekerja perempuan dibuat sedemikian rupa agar bisa menarik pelanggan bahkan pakaiannya pun di tentukan oleh si pengguasa. Harus berpenampilan cantik dan berpakaian seksi. Itu adalah salah satu cara agar perempuan mendapatkan pekerjaan.
Dalam agama juga terdapat pendiskriminasian terhadap perempuan.  Contohnya semisal laki-laki di bolehkan untuk berpoligami sedangkan perempuan tidak di bolehkan, Seorang istri tidak di bolehkan keluar rumah tanpa izin dari suaminya, laki-laki mendapakan warisan lebih banyak ketimbang perempuan.
Budaya patriarki sangat awet hingga saat ini. Agama menjadi pendukung utama dari budaya patriarki sehingga stigma yang muncul itu adalah stigma negatif terhadap perempuan. perempuan diharuskan memakai jilbab dan rok,  perempuan dilarang keluar malam, dilarang berdemonstrasi, dilarang bersuara besar, dilarang berbaur dengan laki-laki, harus pintar masak dan masih banyak lagi. ketika mereka melanggar maka mereka di anggap sebagai perempuan nakal/tidak bermoral.
Jadi jangan heran ketika ada laki-laki yang mengatakan bahwa tugas perempuan hanya di dapur,  sumur dan di kasur,  karena perempuan sekarang tidak mampu melawan ketertindasannya. Tidak mampu merubah keadaan sosial seperti yang di cita-citakan oleh RA kartini. Terkungkung dalam jeratan kapitalisme yang menghegemoni kita melalui doktrin-doktrin agama agar tidak mampu melakukan aksi perlawanan.
Melalui momentum internasional women's day ini yang merupakan sejarah pergerakan perempuan.  Untuk kaum laki-laki jangan hanya merayakannya dengan bunga atau bingkisan-bingkisan hadiah  tetapi berilah hadiah dengan menyadarkan perempuan dari konteks ketertindasannya.  Dan bagi kaum perempuan buktikan kepada kaum laki-laki bahwa kita sebagai perempuan  juga mampu merubah keadaan sosial, rubahlah persepsi laki-laki tentang perempuan karna lewat sejarah kita dapat melihat bagaimana keahlian seorang perempuan dengan ide-ide briliannya.  Lanjutkan perjuangan RA kartini " habis gelap terbitlah terang" jangan sampai kata-kata itu hanya menjadi hiasan tak bermakna.

Berjuang atau Cari Tenar?

Penampilan merupakan salah satu syarat masyarakat modern untuk mengada. Demikian pula dalam setiap lingkup hidupnya, pengakuan atas predikat subjek menjadi penting seiring dengan perlombaan manusia mencari identitas. Hal ini tidak hanya terjadi pada subjek, namun juga kepada institusi atau organ masyarakat tertentu. Ketika subjek dalam organ masyarakat haus akan pengakuan, dengan demikian gerakan akan menjadi salah satu sarana eksisten. Kebanalan yang digambarkan Hannah Arendt dalam pribadi Adolf Eichmann kini tidak hanya terkait dengan kriminalitas. Kebanalan merasuk ke dalam moralitas dan mengeringkan rongganya, sehingga manusia berlaku bukan karena dirinya sendiri namun tuntutan atas pengakuan, yaitu predikat yang ditempelkan. Manipulasi identitas dan miskonstruksi jati diri.

Menjadi kecacatan yang biasa ketika demokrasi, feminisme, sosialisme atau nasionalisme, dsb dijadikan pisau tipu kubu yang berseberangan. Suatu partai yang mengatas namakan demokrasi misalnya, justru menerapkan sistem feodal dalam pelaksanaan kegiatannya. Namun keborokan yang lebih lagi terjadi apabila topeng ideologi dan gerakan dijadikan kostum untuk memperoleh tepuk tangan. Yang lebih parah lagi, sering kali gerakan abal-abal justru populer karena apa yang 'dijual' tidak mendalam dan tidak menuntut keringat dan keberanian yang sesungguhnya. Penyakit macam ini tidak dapat tertolong lagi. Dan celakanya, hal itulah yang merambak belakang ini, terutama di era kehausan eksistensi individu-individu yang sudah menjadi alien bagi dirinya sendiri.
'Kehausan eksisten' ini menjadi tantangan dalam tiap gerakan. Demi meraih pengakuan atau pujian, seorang anggota komunal atau kolektif dapat jadi melakukan ideological fallacy
Mari fokus pada bagaimana mereka menyikapi suatu movement fallacy dengan sepele. Bukannya meralat atau menerima kritik, akun tersebut justru mengafirmasi kebutuhan mereka atas gambar bagus dan banyaknya like. Dalam dialog media sosial ini dapat kita lihat bahwa gerakan atas nama perjuangan tidak selamanya murni. Ada -bahkan banyak- gerakan palsu (sebut saja fake movement) yang mengatas namakan gerakan demi eksistensi gerakan atau bahkan pribadi pengelola. Ego pribadi dibawa pada lajunya gerakan dan hal ini yang menyebabkan perlawanan kita kepada penindas nyaris selalu gagal.
Untuk diingat; tidak semua kelompok yang mengatas namakan perjuangan proletar, kaum tertindas atau kelas tertentu merupakan suara yang otentik berasal dari akar rumput. Gerakan-gerakan sosial media harus diwaspadai sebagai gerakan eksistensialis belaka. Tidak perlu menunjuk hidung, kita cukup menilai dan tidak terlibat dalam perjuangan abal-abal. Gerakan bukan tentang dengan siapa kamu berfoto, apa bajumu saat berdemo, atau berapa ribu orang yang mem-follow. Pergerakan adalah mengenai ketertindasan manusia dan alam, bukan popularitas dan ke'kerenan' gerakan.

FPPI Makassar Bakal Gelar NDK I Se-Indonesia Timur

Pengurus Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) kota Makassar bakal menggelar jenjang pendidikan Nasional Demokrasi Kerakyatan  (NDK I) di Benteng Somba Opu kota Makassar.

Sekjen FPPI Makassar, Muslim mengatakan, NDK I rencananya digelar 21 Desember 2018.

"Kami rencana menggelar NDK I di Makassar, untuk tempat pelaksanaannya akan kami adakan di benteng somba opu," kata Muslim.

Menurut beliau, rencananya peserta NDK I adalah perwakilan tiap2 kota di daerah timur.

"Pelaksanaannya sudah siap, kami juga sudah melakukan pendidikan menuju NDK I disekret" tuturnya.

Pesimisme Ber-Negara

Oleh: Muhlis

Semalam saya sangat bosan, tidak tahu mau berbuat apa, beberapa kali bolak-balik ambil gitar digantungan paku di dinding kamar, teriak lampiaskan kebosanan, kupaksa juga seorang kawan main catur sampai-sampai justru menambah kebosanan saya karena selalu saja saya kalah. Baiklah, saya kekamar saja, berbaring, menghadap plafon. Kegilaan pun muncul, bertanya konyol, dapatkah negara berperan mengatasi kebosanan saya ini? Atau paling tidak saya merasakan kehadiran negara, tidak seperti kata seorang kawan saya beberapa hari yang lalu. Katanya, ia hanya merasakan kehadiran negara waktu ia di sweeping Polisi lalu lintas.

Sudah, itu tidak penting, kita hentikan basa-basinya.

Pesimisme adalah cara pandang mengesankan, segala sesuatu kita pandang dari sisi buruknya.

Dalam hal bernegara, kira-kira apa yang dapat membuat kita riang gembira?
Misalnya dari jawaban-jawaban ini;
Buruh: saya makan 3 kali sehari, jam kerja 8 jam, dan UMK sesuai.
Mahasiswa: semua diberikan hak memperoleh pendidikan formal.
Petani: negara tidak impor beras.
Gelandangan: saya dipelihara negara.
Kaisar: pembangunan bisa saya maksimalkan.

Jawaban-jawaban diatas bisa saja terjadi. Tapi, pada jawaban Kaisar menarik untuk kita tanggapi. Khususnya di Indonesia sendiri, terserah pembaca ingin menganggapnya seperti apa, tapi bagi saya, Indonesia bisa saja dikategorikan Overdeveloped State (negara yang terlalu maju). Asumsi negara dalam hal kemajuan adalah Pembangunan besar-besaran. Sekali lagi, ini menarik untuk dibahas. Sekalipun pembangunan besar-besaran belum sepenuhnya merata di seluruh daerah, lambat laun akan terjadi juga. Selama negara ber-Mazhab ekonomi Neoliberalisme, daerah-daerah tertinggal akan dilirik juga untuk melangsungkan pembangunan.

Paradigma ini mesti diuji. Apakah ukuran sebuah negara maju adalah pembangunan atau keadaan bahagia masyarakat? Kalau pembangunan hanya membuat bahagia kelas dominan atau kelas berkepentingan saja, berarti paradigma ini gagal.

Baiklah, kita lanjutkan pembahasan pada hal yang lebih membuat pesimis lagi.

Masih terkait soal pembahasan diatas, kali ini orientasinya lebih kepada membangun paradigma baru, jika memang paradigma mainstream tadi gagal. Artinya kita butuh aktor-aktor ideal atau Dewan-Dewan Revolusioner. Kita ambil contoh, sebut saja Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Beberapa waktu lalu, ada asumsi yang berkembang dalam masyarakat, bahwa Majene adalah wilayah yang dianak tirikan di Sulawesi Barat, asumsi itu berkembang pada waktu sengketa blok Migas kemarin. Menurut hemat saya, pasti ada hal menarik dibalik itu. Misalnya, Majene bisa saja adalah pusat lawan politik Pilgub kemarin, atau hal yang lebih mengerikan lagi adalah Dewan yang mewakili suara rakyat Majene di Provinsi itu tidak ideal.

Dari pembacaan diatas, sekali lagi, terserah para pembaca ingin menanggapinya seperti apa, tapi yang jelas saya mengajak para pembaca agar mampu menamai realitasnya sendiri, apakah kursi-kursi misalnya dalam tataran legislator itu benar-benar di isi oleh orang-orang ideal atau hanya dengan niat mencari kedudukan saja? Jika iya, maka wajar saya pesimis dan wajar saya selalu dibelenggu kebosanan.

Kita butuh refleksi, apakah eksistensi negara membuat kita aman dan sejahtera atau justru membahayakan? Kalau memang membahayakan, maka jangan salahkan para pemberontak.

FPPI Makassar Peringati Sumpah Pemuda. Ini Tuntutannya..

Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam  FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) Makassar telah melakukan unjuk rasa di Fly Over Makassar.

Adapun grand issue dari aksi mereka kali ini mengusung tema "Sumpah Pemuda Bukan Sampah Pemuda" Selain itu poin tuntutan kader FPPI Makassar tersebut adalah Stop Perampasab Lahan, Tolak Penggusuran PK5, Laksanakan Refoma Agraria Sejati, Nasionalisasi Aset Negara, Naikkan Upah Buruh, ,  & Laksanakan Pendidikan Murah Wujudkan Demokratisasi Kampus.

Dalam penyampaian orasinya massa menuntut tegas kepada pemerintah agar mencabut dan menghapus segala bentuk kebijakan yang tidak mendukung rakyat.

Pada, Minggu (28/10/2018) di bahu jalan Fly Over Makassar.
Jendral Lapangan, Firman Ardianto dalam orasinya meminta pemerintah untuk tunduk & patuh pada keinginan rakyat.

"Kebebasan berserikat dan berkumpul dalam rangka mengawal serta mengontrol kebijakan pemerintah dapat terhambat dikarnakan produk kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, " kata Firman.

IMF-WB, Indonesia, Majene, dan Rakyat Miskin

Oleh: Muhlis*
Annual meeting IMF-WB di Bali yang dihadiri oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara dijadikan ajang euforia ekonomi nasional. Rapat tahunan ini dimanfaatkan Pemerintah Indonesia untuk promosi investasi.

Investasi merupakan salah satu instrumen pendapatan nasional. Dalam hal perekonomian, negara ataupun dalam lingkup daerah sangat membutuhkan investasi.

Terkait soal investasi, gejolak yang beberapa waktu lalu di Kabupaten Majene adalah Blok Sebuku Lere-lerekang yang saat ini pada tahap eksplorasi telah dijanjikan soal Investasi China dan potensi MIGAS di Blok Malunda yang masih pada tahap Survey Seismic dikelola oleh Thailand.

Dalam hal mempercepat kesejahteraan ekonomi masyarakat ada tiga poin penting, yakni;
1. Kas Dalam Negeri
2. Utang Luar Negeri
3. Investasi Asing
Indonesia dalam tataran Negara Dunia Ketiga (Negara Berkembang), bicara soal mempercepat kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa dibilang mandek jika hanya terfokus pada poin pertama. Jadi, negara butuh modal lewat utang atau investasi.

Sejak krisis moneter 1997-1998 negara mengalami ketergantungan terhadap IMF-WB dan lambat laun justru menjadikan negara terjerumus dalam utang.

Diterapkannya Undang-Undang PMA di Rezim Soeharto membuka lebar-lebar jalur investasi dalam negeri. Dalam logika investasi, pemilik modal (investor) sepenuhnya memiliki Hak Veto dalam investasi selain negara bersangkutan.

Dari Rezim Soeharto sampai sekarang tidak ada terapan yang sepenuhnya menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat, apalagi masyarakat miskin. Masing-masing dari rezim itu bicara soal ekonomi pemerintah dan negara di dunia.

Muncul opini terapan tandingan "Nasionalisasi Aset Negara" yang sejatinya menjunjung tinggi kesejahteraan ekonomi masyarakat dalam negara. Aset-aset dalam negara harusnya dikuasai oleh negara sendiri agar terhindar dari intervensi-intervensi dari pemilik modal. Statement-statement tentang ketidakmampuan negara mengadakan alat produksi dan kekurangan SDM hanyalah mitos-mitos atau hegemoni dari si pemilik modal.

Setiap daerah bertumpu pada kebijakan negara. Kasihan banyak rakyat yang kelaparan dan kasihan banyak anak yang tidak mampu bersekolah.

*Penulis adalah kader dari FPPI Makassar

Rasisme Tetap Eksis Dalam Kesukuan


Tulisan ini kubuat ketika berdiskusi dengan seorang perempuan. Aku sadar, di luar sana terdapat perempuan-perempuan yang berfikir sama. Oleh sebab itu, saya merasa perlu membuat tulisan ini.


Pertama kali aku bicara tentang suku adalah ketika Semester 3 di bangku kuliah. Saat itu, aku tergabung dalam sebuah organisasi FOKMAD (Forum Komunikasi Mahasiswa Demokrasi) di kampus. Kawan FOKMAD ku, yang adalah orang mandar, menyukai seorang gadis Bugis. Salah seorang teman FOKMAD ku juga orang Bugis. 


Ketika bercerita bahwa dia menyukai orang Bugis, Kawan mandar bertanya kepada si teman bugis, "Orang Bugis nggak boleh nikah sama suku lain ya?". Si teman menjawab, intinya, tidak boleh atau sulit. Saat itulah aku baru tahu bahwa di dunia ini ada larangan nikah beda suku.

Namun saat itu hingga beberapa waktu setelahnya, aku pikir cuma orang Bugis yang tidak boleh menikah dengan suku lain, sedangkan suku-suku lain boleh. Tetapi nyata nya itu tampak berbeda. Realitas terlalu kejam untuk diceritakan. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilai setiap orang sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok atau suku mana mereka termasuk serta dari aliran apa mereka berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.

Dari situ aku berpikir Ego akan kesukuan masih membudaya pada sebagian masyarakat kita. Hal ini menyangkut pandangan bahwa hanya sukunya saja yang terbaik dan menganggap sebelah mata pada mereka yang tidak sesuku. Keegoan ini pun sering terjadi pada masalah perjodohan.

Selama kuliah hingga saat ini, aku melihat beberapa teman pacaran beda suku dan banyak dari mereka yang akhirnya putus karena perbedaan tersebut. Sebagian dari mereka tidak direstui, ditentang, bahkan diperlakukan tidak baik oleh orang tua mereka.

Aku selalu merasa kasihan dan prihatin ketika peristiwa semacam itu menimpa kawanku. Bagiku, aturan itu tidak masuk akal. Kalau sudah sama-sama kenal Tuhan, apa masalahnya coba? Adakah Tuhan melarang pernikahan beda suku? Hal ini menjadikan perilaku-perilaku rasis tetap eksis dalam kehidupan kita.

Lalu coba kulihat dari segi budaya atau adat. Mungkin ada keberatan karena alasan beda budaya. Kapankah kita melakukan praktek adat? Dari yang kulihat, sebagian besar dari kita melakukan praktek adat hanya pada momen-momen tertentu, seperti pernikahan dan kematian. Sedangkan dalam praktek hidup sehari-hari, aku hampir tidak melihatnya. 

Coba kita bandingkan, apa saja yang kita lakukan setiap hari, mulai pagi hingga malam, mulai Senin hingga Minggu, apakah bisa secara signifikan disebut "beda budaya"?. Aku melihat, suku apapun kita, cara hidup kita serupa. 

Sebagian besar makanan kita sama. Kita belajar, bekerja, beribadah, berolahraga, jalan-jalan, dll, dengan cara yang sama. Jika begitu, apa masalahnya jika kita menikah maupun berkawan?

Kalau kita sama para kapitalis rente, layaklah disebut "beda budaya", tapi kita yang sama-sama tinggal di tanah ini, menurutku sama saja..

Lahirnya Represifitas Akibat Kurang Ngopi

   

Belakangan terakhir, aku banyak melihat jejeran kopi hitam di meja, anehnya kopi kopi ini membawa inspirasi dalam sebuah wacana , dimana wacana tersebut lahir dari bacaan kondisi objektif yang akhir akhir ini sangat membuat mata pedih dalam arus politik negara ini.
Reformasi sudah berjalan lebih dari 19 tahun, produk orba berjalan mulai terkikis dari alur perpolitikan dan demokrasi bangsa ini, namun perlahan keyakinan para penguasa terkait arus demokrasi massa rakyat pun mulai sangat terkikis , ini ditandai dengan berbagai macam tindakan yang sangat frontal untuk menutup kembali keran demokrasi itu sendiri.
Alur keberpihakan dan legitimasi kekuasaan mulai ditunjukan atas dasar sisi subjektifnya, meruaknya isu isu yang semakin hari semakin berkembang , isu isu keterpurukan dan dinamisasi politik yang semakin runcing ke bawah. 
Dinamika berbangsa dan bernegara kembali tidak stabil, ini di buktikan dari setiap fenomena di basis basis rakyat yang mengalami kegundahan dan kebisingan, baik di sektor mahasiswa, buruh dan tani. Isu terkait komersialisasi dan komoditas pendidikan, PHk sepihak dan regulasi yang semakin kacau, serta perampasan lahan yang semakin marak. Semuanya di legitimasi dalam sebuah aspek refresifitas, atas nama perubahan dengan nilai nilai pembangunan di paksakan tumbuh berkembang tanpa memperdulikan nilai nilai dan aspek yang lain.
Prioritas negara kembali dipertontonkan melalui pembangunan yang semakin massif , atas dasar pembangunan yang dipaksakan investor dan di rampasnya hak hak hidup bernegara dan bermasyarakat serta pengusiran masyarakat dari ruang hidupnya.
Jika kita melihat perkembangan isu akhir akhir ini, semua dilandaskan atas dasar kepentingan subjektif, tidak melihat bagaimana fungsi masyarakat yang majemuk, serta estetika kehidupan berbangsa dan bernegara, negara sangat memliki peran penting dalam kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya, seperti yang tertuang dalam UUD 45 alinea ke 4 yaitu melindungi segenap bangsa indonesia, dimana jelas makna yang terkandung dalam kalimat tersebut bahwa negara wajib menjaga kedaulatan dan kepentingan massa rakyatnya secara utuh tanpa pandang bulu.
Namun beda dengan kondisi hari ini, dimana pemerintahan indonesia lebih banyak berbicara tentang penguasaan atas dasar pembangunan dan industri yang secara nyata lebih banyak menguntungkan para pengusahan dan investor, sehingga lupa trahnya negara indonesia sebagai negara agraris. Tidak hanya itu ketimpangan dan kontradiksi sosial terjadi dari seluruh elemen rakyat.
Berbicara teori sebab akibat, kalau kita melihat banyak gerakan rakyat yang tumbuh subur baru baru ini di seluruh sektor memunculkan banyak spekulasi, apakah pemerintah hari ini sudah sangat condong melihat kekuasaan dan menghormati para luluhur investornya dibanding rakyatnya sendiri.
Gerakan yang dibangun oleh massa rakyat bahkan sudah sangat sempit dalam polanya, hari ini aksi demonstrasi yang Lahir dari kalangan mahasiwa, buruh, petani, nelayan, masyarakat desa, dan elemen elemen rakyat yang lain sudah semakin di persempit. Dengan macam macam legitimasi yang dibangun serta refresifitas yang dikedepankanpun sangat menonjol untuk menghalau segala kritikan dan ruang demokrasi di persempit sedemikian rupa.
Rezim hari ini seperti sedang memainkan irama dan ritmenya untuk menggoncang panggung politik rakyat yang semakin hari semakin merugikan massa rakyat. Sehingga timbul pertanyaan , dari setiap kritikan yang dibangun lalu dihalau dengan berbagai cara refresifitas membuat berbagai nyali elit petinggi negeri ini semakin ciut untuk dikritik, dan mirisnya seolah yang dikedepankan adalah tindakan subjektif dalam bingkai fasis, yang beranggapan bahwa kebenaran pemimpin merupakan kebenaran yang absolut, serta setiap orang yang berbeda pandangan dianggap lawan.
Berbicara fasisme ada beberapa ciri gerakan fasis menurut pengamat politik asal jerman Timo duile Yakni, Pertama, gerakan fasis berdasar pada prinsip kepemimpinan yang punya otoritas absolut, sehingga individualitas manusia hilang dan para pengikut menjadi massa yang seragam. Otomatis, manusia sebagai individu hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan gerakan fasis. Azas perintah dan kepatuhan berlaku tanpa pengecualian.
Kedua, dan oleh karena itu, militerisme merupakan elemen yang sangat penting dalam ideologi dan politik fasis. Militarisme menjadi penting, karena fasisme selalu butuh membayangkan adanya musuh, sehingga militer dan pemimpin harus kuat untuk menjaga negara, karena suatu gerakan fasis memiliki tugas utama untuk melawan musuh bangsa. Gerakan fasis dipersatukan dengan tujuan yang sama, yakni: penghancuran musuh. Itu ciri khas gerakan fasis ketiga. Musuh tersebut dikonstruksi dalam sebuah kerangka konspirasi atau ideologi. Dalam pola pikir fasis, musuh berada di mana-mana. Musuh berada baik di medan perang maupun dalam bangsa sendiri sebagai elemen yang tidak sesuai dengan ideolgi fasis. Karena itu, ciri khas keempat ideologi fasis adalah ideolgi identitas. Biasanya, ideolginya mengajar bahwa suku/ras atau bangsa harus murni, yaitu bebas unsur-unsur yang mengangap sebagai unsur yang tidak asli.
Dari pandangan dan pernyataan diatas bisa kita kaji bahwa tindakan yang dilakukan oleh pemerintah hari ini mengarah kepada ideologi seperti apa ? 
Ketika unsur pemerintahan lebih takut kepada para investor, Memaksakan kehendak dalam Menentukan kebijakannya, serta sangat anti kritik dan menghancurkan gerakan gerakan elemen rakyat lewat berbagai macam refresifitas, bisa dikatakan kalau hari ini rezim sudah sangat fasis atau Kurang ngopi

FPPI Makassar Mengecam Perilaku Aparat Mamuju

(23/09/2018) Kecaman terhadap aparat kepolisian Mamuju yang melakukan tindak pemukulan terhadap pemuda Sulbar bernama Arif, Fandi & Anca yang merupakan kader dari FPPI makin meluas.

Kecaman tersebut kali ini disampaikan oleh pengurus Front Perjuangan Pemuda Indonesia ( FPPI) kota Makassar.

Semula aksi yang dilakukan oleh FPPI Mamuju berjalan kondusif dengan tuntutan menolak kedatangan IMFtolak utang baru hapus utang lama, nasionalisasi, wujudkan reforma agraria, & tolak intervensi asing, namun tiba-tiba salah satu oknum kepolisian datang memukul massa aksi sehingga menimbulkan chaos dalam aksi tersebut.

FPPI Makassar menilai tindakan aparat hukum polres Mamuju jelas pelanggaran hukum, karena telah melanggar kode etik kepolisian RI UU No 2 tahun 2002 tentang fungsi kepolisian NKRI.

Menurutnya, tindakan yg dilakukan aparat adalah perbuatan keji dan tidak manusiawi.

PK5 Bukan Untuk Digusur

Menanggapi isu terkait penggusuran PK5 akibat pembangunan jembatan layang & Rektor UNM yang ingin mempercantik kampusnya membuat lagi-lagi kaum miskin kota dipinggirkan dan dialienasikan dengan alat produksinya. Mereka akan digusur dan diusir karena menganggu pemandangan. Padahal jika diatur dengan seksama maka akan tampak keteraturan. Mereka pun sudah mengatur sedemikian rupa, agar dapat tercipta keserasian dengan para pedestrian. Namun demi frasa serta persepsi yang estetik, serta hak pejalan kaki, hingga diskursus kemacetan, mereka dipinggirkan oleh pemerintah kota. Saya yakin kemacetan bukan soal PK5, jika telah tertata rapi. Saya yakin para pedestrian dapat berjalan dengan nyaman jika tertata. Semua butuh duduk bersama, bukan penggusuran kepada kaum miskin kota.

Di depan kampus negeri yang mendaku diri, mengkultuskan diri sebagai institusi kerakyatan. Tak lebih dari kampus penghamba CSR, gerbang penindas kaum agraris dan masyarakat adat. Mereka juga tak mendapatkan solusi dari para intelektual, yang sering berbicara ketimpangan dan toleransi. Intelektual tradisional penghamba rezim.

Lantas, pk5 depan UNM dan tempat pk 5 lainnya harus tetap ada dan menjadi tempat bersosialisasi, ramah pedestrian dan menjadi tempat mengais rezeki. Kami tidak butuh janji, namun berdialog dan merumuskan bersama. Bukan mengusir, seolah-olah kaum miskin kota itu hina

Budaya Senioritas

Dunia kemahasiswaan adalah penuh dengan pertentangan. Pertentangan berlangsung atas dasar adanya unsur dominasi yang berakibat kepada cara didikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Unsur dominasi yang dimaksud adalah sistem senioritas. Kata senior secara konteks tidak lagi menjadi asing terdengar diruang lingkup kemahasiswaan, kata itu seolah memiliki aturan serta hukum tersendiri. Dalam memasuki jenjang pendidikan diperguruan tinggi baik itu negeri maupun swasta sudah menjadi tradisi menjengkelkan diruang lingkup akademik kampus. Dimana peralihan status dari siswa menuju mahasiswa melahirkan suatu pemilahan antara mahasiswa dengan mahasiswa dalam eksistensi kemahasiswaan. Pemilahan dimaksud tak lain dengan adanya status senior dengan status junior yang dibungkus oleh status yang sebenarnya sama.

Pemilahan diatas dapat dilihat atau dinilai melalui momentum mahasiswa baru. Secara konteks mahasiswa baru yang baru menginjakkan kaki diperguruan tinggi itu senantiasa akan berhadapan dengan mahasiswa lama yang biasa disapa sebagai senior. Bentuk penghadapannya kerap terjadi saat-saat masa orientasi pengenalan akademik (opak) atau biasa disebut sebagai masa pengenalan mahasiswa baru. Dimana dimasa-masa pengenalan itu berlangsung kurang lebih tiga hari lamanya. hari pertama oleh universitas, hari kedua oleh fakultas, dan hari ketiga oleh jurusan. Nah dihari ketiga itulah dimana mahasiswa yang disapa senior itu melakukan tindakan yang kurang mendidik dengan mengatasnamakan himpunan mahasiswa jurusan (hmj) seperti baris berbaris , membersihkan kotoran sampah disekitar area fakultas atau jurusan. Dengan sistem komando (perintah). Pada momentum itu merupakan awal bagi senior untuk berlaku memerintah junior. Bahwa budaya senioritas adalah budaya ketertundukan. Budaya seperti ini tidak jauh bedanya dengan sistem perbudakan. Seperti sistem tuan tanah kepada hamba zaman kerajaan feodalis dulu.

Hal diatas menjadi tolak ukur bahwa sistem ketertundukan yang dilakukan oleh senior kepada junior sudah menjadi tradisi diruang lingkup kemahasiswaan. Seperti melakukan doktrin-doktrin pada saat moment mahasiswa baru; bahwa 'pasal 1, senior tidak pernah salah, pasal 2, jika senior salah maka kembali ke pasal 1'. Bahkan ada doktrin-doktrin yang lebih membungkam; bahwa 'suara senior adalah suara tuhan'. Maka hancurlah dunia kemahasiswaan jika dididik oleh orang-orang yang tidak berpengalaman!

Hal yang membingungkan adalah adanya unsur dominasi diruang lingkup kemahasiswaan. Artinya secara konteks senior itu mendominasi esensi junior bahkan mendominasi ruang-ruang privat (subjektif)nya. Dengan dalih 'menghormati yang lebih berusia'. Ini sebenarnya yang berakibat kepada pertentangan atau akan melahirkan konflik horizontal sesama mahasiswa. Bahwa budaya senioritas sekarang tidak lagi memandang esksistensi kemahasiswaan tapi lebih kepada politik identitas. Hal kemudian tercipta disaat mereka memaksa junior untuk memasuki organisasi yang digelutinya. Bukankah itu cara didikan yang mendoktrin? Lantas dalam hal apa junior mesti menghormati senior? Semester? Usia? Atau segala yang menyangkut eksistensi senior? Jika pendekatan senior kepada junior lebih kepada pendekatan ideologis maka esensi senioritasnya memiliki fungsi real. Artinya senior yang baik itu jika ia melakukan proses pengideologisasian dan melakukan proses penyadaran terhadap junior dalam kontesk sama-sama beresensialkan mahasiswa. Ketika bentuk pengawalan senior kepada junior lebih kepada politik identitas (doktrinasi) atau intimidasi maka pemanfaatan senior terhadap junior pastilah terjadi dan nyata adanya. Dan hal itu sekarang terjadi. Bahwa jika kita betul-betul secara totalitas beresensikan mahasiswa maka kelas senior dengan kelas junior haruslah segera dihapuskan atau dihilangkan diruang lingkup kemahasiswaan.

Ketika pertentangan antara golongan tua dengan golongan muda dalam peristiwa rengasdengklok pra-kemerdekaan 45, tak terelakkan bahwa peristiwa itu dipelopori oleh kelompok pemuda. Maka tidak jauh bedanya dengan pertentangan antara senior dengan junior dalam peristiwa 'pemaksaan hak suara' serta 'pemanfaatan hak pilih'. Padahal senior dengan junior itu sama-sama berstatuskan mahasiswa. Kenapa mesti adanya dua kelas itu? Olehnya jika tidak segera dihilangkan budaya senioritas itu maka konflik horizontal pastilah terjadi. Bahwa dominasi tetap berlangsung kepada cara berpikir pragmatis yang berujung kepada politik praktis. Juga terhadap cara didikan yang tidak menyisahkan pengetahuan apapun. Justru yang ada hanyalah pengetahuan yang terdoktrin. Akhirnya seniorpun bertindak sebagai hakim yang membenarkan.

Dalam arti apa senior itu dihormati? Budaya ketertundukan dilakukan hanya akan memperpanjang garis perbudakan. Maka dalam perspektif akademik kita semua berstatuskan mahasiswa. Yang membuat pembagian (pemilahan) kelas mahasiswa itu tidak lain hanyalah mereka-mereka yang menganggap dirinya sebagai senior. Mulai dari ciri-ciri mahasiswa, definisi mahasiswa, fungsi mahasiswa, sampai kepada tugas mahasiswa, itu sebagian besar hanyalah doktrin-doktrin yang diberikan oleh senior untuk membodohi pikiran serta meredupkan kesadaran junior. Dan terbukti bahwa kebanyakan dari pemberian pemahaman yang sifatnya doktrin itu hanya sebatas konsep, tidak mendorong secara praktek perlawanan. Seandainya tidak ada senior dengan junior tapi lebih kepada satu pemikiran yaitu sama-sama berstatuskan mahasiswa maka penyatuan dalam melakukan gerakan perlawanan akan terlaksana. Maka mahasiswa secara definitif akhirnya adalah mahasiswa, yang sama-sama beresensialkan kemahasiswaan.

Budaya senioritas mestinya harus beralih kepada budaya mahasiswa. Tapi hal demikian mustahil dapat dilakukan oleh mereka-mereka yang kepingin disapa dan disebut sebagai senior. Dengan dalih harga diri serta wibawa senior itu harus ditinggikan sebagai bentuk penghromatan junior. Seperti apa sih didikan senior itu? Apakah mewajibkan junior dengan memanggilnya senior atau kanda? Pengawalannya lebih mengarah kemana? Jika mereka-mereka ingin dipanggil senior maka hilangkan budaya ketertundukan. Sebab saya akan rela serta ikhlas memanggil atau menyebut atau bahkan mengakui mereka sebagai senior jika mereka melakukan proses pengideologisasian serta melakukan proses penyadaran kemudian dengan secara bersama-sama dalam menyatukan gerakan dan sikap (tuntutan). Dengan begitu mereka akan mendapatkan gelar 'senior baik' jika itu mungkin. Senior bukanlah dewa yang selalu benar dan junior bukan kerbau yang harus menunduk.

ADA APA DENGAN KITA?

                           Oleh: Anas Fardilah
Mei 98 merupakan pelajaran. Runtuhnya rezim orde baru bukan berarti sistem kekuasaannya juga ikut runtuh. Kejatuhannya hanya sekadar formalitas, sementara kekuasaannya akan tetap berjalan menjalar sampai saat ini. Sudah terbukti bahwa yang mengendalikan sistem perekonomian nasional sekarang adalah antek-antek rezim orde baru yaitu koloni serta keluarga cendana. Reformasi total sebagai jargon aktivis 98 adalah reformasi yang gagal. Secara totalitas bukanlah reformasi. Olehnya pasca keruntuhan rezim otoritarian itu bukanlah capaian dalam pergerakan melainkan pelajaran untuk pergerakan. Pembungkaman, penindasan, itulah yang membuat 'mahasiswa' secara sadar melakukan suatu gerakan perlawanan. Namun apakah yang di tindas dan yang di bungkam sekarang sadar akan hal itu?

Terjadinya peleburan budaya di kalangan mahasiswa mengakibatkan mahasiswa itu tak lagi menyikapi kebijakan-kebijakan kampus yang di anggap melenceng. Akhrinya krisis pengetahuan dan pergerakan pastilah terjadi. Justru yang muncul adalah kontradiksi vertikal dan horizontal. Terutama dalam menyikapi tindakan represif, intimidasi, serta pembungkaman birokrasi oleh aparatur kampus. Kriminalisasipun di anggap sebagai hal yang wajar-wajar saja dan biasa-biasa saja. Dalam menyikapi sistem pendidikan khususnya hanyalah tindakan pra-sadar yang mengarah kepada gerakan momentum yang akhirnya melahirkan tuntutan yang tidak tepat sasaran. Disebabkan tidak adanya penyatuan sesama mahasiswa. Baik itu penyatuan gerakan maupun penyatuan sikap. Akhirnya hubungan sesama mahasiswa melahirkan sentimen. Sudah termasuk budaya mahasiswakah sentimen itu? Bukankah penyatuan itu adalah kekuatan? 

Birokrasi-birokrasi kampus dengan gampang mengeluarkan segala macam regulasi. Regulasi yang secara real untuk menghancur-leburkan kesadaran mahasiswa. Dengan membuat segala doktrinasi serta intervensi kepada mahasiswa; salah satunya adalah membatasi masa perkuliahan terhadap mahasiswa. Akibatnya mahasiswa yang berpikiran akademisi akan berlomba-lomba untuk menuju kepada tahap penyelesaian. Apakah komersialisai pendidikan adalah cara mahasiswa untuk memperoleh nilai (IPK) yang tinggi? Bukankah itu bentuk tindakan 'melacurkan pengetahuan'?

Sekarang mayoritas ada yang sibuk mengemis meminta-minta tanda tangan dari sang dosen,  Ada juga sebagian kecil berlaku sentimen, ada lagi yang mempertahankan ego-sentrisnya, juga ada yang hendak melakukan politik identitas. Eksistensi mahasiswa menjadi terpilah-pilahkan. Seakan kata menyatu itu sifatnya ilegal. Birokrasi melahirkan konflik, mahasiswa juga ikut melahirkan konflik. Birokrasi berkepentingan, mahasiswapun juga berkepentingan. Entah itu kepentingan lembaga (organisasi) maupun kepentingan ideologi. Dosen bersentimen dengan mahasiswa, lagi dan lagi mahasiswa itu juga bersentimen dengan sesama mahasiswa. Kata mahasiswa akhirnya bukanlah satu kesatuan melainkan bermacam-macam satuan. Kenapa kita sesama mahasiswa terbecah-belah? Kenapa masing-masing dari kita saling bersentimen? Bukankah musuhnya kita adalah kapitalisme? Bukankah lawan kita adalah pembungkaman? Apa kita membiarkan tindakan represif aparatur kampus itu?
                                     "Menolak tunduk-menuntut tanggung jawab".!

MAHASISWA DIBALIK KATA-KATANYA

Akhirnya sampailah kita kepada titik dimana esensi ke-mahasiswa-an itu harus di pertanyakan. Sebab kebanyakan mahasiswa masing-masing memperebutkan kekuasaan. Disediakannya ruang-ruang 'penyelamat' oleh pihak kampus menjadikan mahasiswa bernaluri 'maling', berhasrat untuk berkuasa, serta berkehendak untuk menguasai. Seperti halnya dewan mahasiswa (DEMA), senat mahasiswa (SEMA), serta himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Mahasiswa yang berwatak 'maling' itu tidak menjadikannya sebagai ruang-ruang strategis untuk memperbaiki kebobrokkan sistem kampus, justru yang ada mereka menjadi penindas-penindas baru. Saat momentum pemilihan dari ketiga 'ruang penyelamat' diatas, para kandidat (calon) masing-masing membangun kubu.
Mendoktrin mahasiswa baru (junior), serta memanipulasi hak kepemilikan suara dengan mengatasnamakan solidaritas dan perubahan.

Gerombolan mahasiswa diatas sama halnya seperti seribu anjing memperebutkan satu tulang. Saat terpilih, para penindas baru itu tidak meluruskan kebengkokkan sistem kampus; malah yang terjadi adalah menguasai serta mendominasi ruang-ruang itu. Fungsional dari penindas baru diatas bukan sebagai dewan mahasiswa, senat mahasiswa, himpunan mahasiswa jurusan, tapi fungsinya hanya untuk melakukan 'penggelapan uang' ke kantong-kantong pribadi "Bagi-bagi duit"!.
Serta yang paling konyol adalah mereka mendominasi ruang-ruang itu bersama angota-angotanya. Terbukti yang lebih dominan diruang-ruang itu adalah kalangan 'sesama organisasi'. Sehingga yang mengendalikan ruang-ruang mahasiswa adalah 'organisasi'. 

Uang bisa membuat mereka lupa diri. Tak perduli runtuhnya moral padahal ia katanya ber-esensikan moral. Inilah yang disebut sebagai moral kapitalis. Dosen menindas mahasiswa, mahasiswa menindas mahasiswa. Kenapa penindas baru diatas tidak pernah berlaku transparan? Dari mana sumber duitnya? Akan dialokasikan kemana? Fungsinya apa? Atau jutru merekalah yang melakukan politik uang (money politic)?. Renungkan! Pikirkan! Lakukan! Bertindaklah selayak-layaknya mahasiswa!
 
Bagi mahasiswa yang berpikir akdemis nilai (IPK) adalah penunjang utama. Sarjana (title) adalah capaian akhir. Ijazah adalah kitab suci pekerjaan. Tahap penyelesaian adalah tahap penentuan. Melewati segala penentuan dengan persyaratan. Mulai dari mengajukan judul, berkonsultasi dengan 'dosen pembimbing', menyusun draf, membuat proposal, sampai kepada skiprsi. Kesemuanya itu dilakukan atas nama ujian. Seolah tuhan menguji hambanya. Seakan dosen menguji mahasiswanya. Teriakkan lantang 'hidup mahasiswa' sudah terkubur dibawah selimut kesadaran palsu. Seperti inikah mahasiswa dibalik kata-katanya?

Sebagian lainnya mengklaim diri 'aktivis' saat berkecimpung diruang lingkup akdemik kampus. Berpikir kritis bahwa perubahan harus dilakukan. Membenarkan yang salah, menyalahkan yang salah. Pasca berakhir sebagai akademisi apakah masih berpikiran yang sama? Masih berpikir kritis kah? Anti penindasan kah? Kebanyakan dari mereka yang mengklaim dirinya 'aktivis' langgeng berpolitik praktis, menjalankan sistem sebagai penindas baru. Yang dulunya mereka berkata anti sistem, menolak sistem, akhirnya pasca itu mereka menjadi penjilat atas ludahnya sendiri!

Oleh Anas Fardilah
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html