MAHASISWA DIBALIK KATA-KATANYA

Akhirnya sampailah kita kepada titik dimana esensi ke-mahasiswa-an itu harus di pertanyakan. Sebab kebanyakan mahasiswa masing-masing memperebutkan kekuasaan. Disediakannya ruang-ruang 'penyelamat' oleh pihak kampus menjadikan mahasiswa bernaluri 'maling', berhasrat untuk berkuasa, serta berkehendak untuk menguasai. Seperti halnya dewan mahasiswa (DEMA), senat mahasiswa (SEMA), serta himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Mahasiswa yang berwatak 'maling' itu tidak menjadikannya sebagai ruang-ruang strategis untuk memperbaiki kebobrokkan sistem kampus, justru yang ada mereka menjadi penindas-penindas baru. Saat momentum pemilihan dari ketiga 'ruang penyelamat' diatas, para kandidat (calon) masing-masing membangun kubu.
Mendoktrin mahasiswa baru (junior), serta memanipulasi hak kepemilikan suara dengan mengatasnamakan solidaritas dan perubahan.

Gerombolan mahasiswa diatas sama halnya seperti seribu anjing memperebutkan satu tulang. Saat terpilih, para penindas baru itu tidak meluruskan kebengkokkan sistem kampus; malah yang terjadi adalah menguasai serta mendominasi ruang-ruang itu. Fungsional dari penindas baru diatas bukan sebagai dewan mahasiswa, senat mahasiswa, himpunan mahasiswa jurusan, tapi fungsinya hanya untuk melakukan 'penggelapan uang' ke kantong-kantong pribadi "Bagi-bagi duit"!.
Serta yang paling konyol adalah mereka mendominasi ruang-ruang itu bersama angota-angotanya. Terbukti yang lebih dominan diruang-ruang itu adalah kalangan 'sesama organisasi'. Sehingga yang mengendalikan ruang-ruang mahasiswa adalah 'organisasi'. 

Uang bisa membuat mereka lupa diri. Tak perduli runtuhnya moral padahal ia katanya ber-esensikan moral. Inilah yang disebut sebagai moral kapitalis. Dosen menindas mahasiswa, mahasiswa menindas mahasiswa. Kenapa penindas baru diatas tidak pernah berlaku transparan? Dari mana sumber duitnya? Akan dialokasikan kemana? Fungsinya apa? Atau jutru merekalah yang melakukan politik uang (money politic)?. Renungkan! Pikirkan! Lakukan! Bertindaklah selayak-layaknya mahasiswa!
 
Bagi mahasiswa yang berpikir akdemis nilai (IPK) adalah penunjang utama. Sarjana (title) adalah capaian akhir. Ijazah adalah kitab suci pekerjaan. Tahap penyelesaian adalah tahap penentuan. Melewati segala penentuan dengan persyaratan. Mulai dari mengajukan judul, berkonsultasi dengan 'dosen pembimbing', menyusun draf, membuat proposal, sampai kepada skiprsi. Kesemuanya itu dilakukan atas nama ujian. Seolah tuhan menguji hambanya. Seakan dosen menguji mahasiswanya. Teriakkan lantang 'hidup mahasiswa' sudah terkubur dibawah selimut kesadaran palsu. Seperti inikah mahasiswa dibalik kata-katanya?

Sebagian lainnya mengklaim diri 'aktivis' saat berkecimpung diruang lingkup akdemik kampus. Berpikir kritis bahwa perubahan harus dilakukan. Membenarkan yang salah, menyalahkan yang salah. Pasca berakhir sebagai akademisi apakah masih berpikiran yang sama? Masih berpikir kritis kah? Anti penindasan kah? Kebanyakan dari mereka yang mengklaim dirinya 'aktivis' langgeng berpolitik praktis, menjalankan sistem sebagai penindas baru. Yang dulunya mereka berkata anti sistem, menolak sistem, akhirnya pasca itu mereka menjadi penjilat atas ludahnya sendiri!

Oleh Anas Fardilah

Krisis-isme Pengetahuan & Pergerakan Mahasiswa

Oleh : Anas Fardilah
Memasuki era serba digital mengambil ruang-ruang kompleksitas menandakan adanya pelipatan ruang. Pelipatan ruang merampas segala apa yang tertanam dalam diri mahasiswa. Pemanfaatan ruang kian merajalela dikalangan kaum terpelajar mengakibatkan si pelajar hidup  melampaui realitasnya sendiri (hiper-realitas). Tentu polarisasi kehidupan mahasiswapun terkungkung pada kehidupan yang serba monotheisme. Ini menyebabkan ruang gerak mahasiswa serba fatal. Inilah era dimana generasi sedang lupa diri (amesia).
Kecanggihan tekhnologi mampu menempati segala ruang aktivitas mahasiswa baik dalam proses berpengetahuan maupun berpergerakan. Kurangnya investigasi yang dilakukan akan meredupkan tindakan mahasiswa bersikap kritis akan pemanfaatan ruang atas tekhnologi.
Eksistensi mahasiswa dengan hadirnya tekhnologi diperkuat lewat stasiun televisi dan berbagai macam media sosial membawa mahasiwa ke dalam perpektif yang seolah-olah. Dunia mahasiswa sebatas berputar di tekhnologi saja. Ini sebenarnya yang menjadikan mahasiswa sudah melampaui dari realitasnya sendiri (hiper-realitas). Bahwa piranti tekhnologi itu kemudian membawa mahasiswa ke dalam jurang pembodohan. Jadi dari ke seolah-olahannya itu membuat mahasiswa tidak bernyali untuk bertindak. Menandakan bahwa mahasiswa tidak mampu melakukan proteksi terhadap realitasnya sendiri.
Ironinya mahasiswa justru cenderung menyikapi persoalan politik ketimbang persoalan sosial. Ini menandakan kurangnya kesadaran mahasiswa dalam menyikapi setiap problem yang ada. Ini juga yang mengakibatkan kritisisme mahasiswa mulai prematur.
Dalam ruang lingkup pendidikan mahasiswa tidak lagi dijajah atau ditindas secara fisik seperti halnya yang dilakukan oleh rezim ORBA, tapi mahasiswa sekarang dijajah melalui sistem (regulasi) yang diterapkan birokrasi kampus. Sewalaupun kriminalisasi terhadap mahasiswa kian marak terjadi. Terbukti dengan adanya sistem UKT-BKT, Pelarangan berlembaga, penjualan buku oleh dosen, drop out, KKN berbayar, penetapan kurikulum, penggelapan alokasi APBN, pembatasan masa semester (kuliah), Hal demikian secara sadar atau tidak sadar merupakan modus operandy yang dilakukan oleh birokrasi terhadap mahasiswa.
Penjualan buku oleh dosen di kelas dengan harga mahal dengan berdalih embel-embel itu akan melahirkan penyeragaman cara berfikir dikalangan mahasiswa. Mahasiswa yang takut akan nilai cenderung mengikuti 'dalih pelicin' yang ditawarkan oleh sang dosen. Hubungan mahasiswa dengan dosenpun akhirnya erat dengan jaminan nilai. Mengekor dan mengikut dengan perkataan dosen itu menjadikan mahasiswa tidak lagi mandiri berpengetahuan; karna ia cenderung menerima ketimbang mencari, diatur ketimbang berpikir mandiri.
Kesimpang-siuran yang terjadi dikalangan mahasiswa adalah mempertahankan egosentrisme masing-masing. Sentimentil sesama mahasiswa hanya persoalan perbedaan ideologi, warna bendera, organisasi, menimbulkan perpecahan 'sesama mahasiswa'. Mereka tidak lagi menyatu dalam menyikapi ketimpangan dan kesenjangan sosial. Eksistensial yang sama melahirkan esensial yang berbeda. Berpengetahuanpun tidak menyatu apalagi berpergerakan.
Penyatuan gerakan dikalangan mahasiswa sangat mustahil adanya; karna masing-masing mempunyai kepentingan tersendiri. Jadi apakah sistem yang menindas mahasiswa ataukah mahasiswa yang menindas mahasiswa? Gerakan tanpa arah akan melahirkan tuntutan yang tak terarah pula. Gerakan tanpa dibentengi dengan penyatuan maka mustahil akan menciptakan tuntutan yang tepat 'SASARAN'.
Sikap apatis, budaya hedon, sifat gengsi, mengakibatkan tertindihnya kesadaran. Sehingga tidak menjadikan mahasiswa bersikap kritis. Hal demikian di atas dikarenakan kurangnya perhatian mahasiswa dalam menyikapi berbagai macam problem yang terjadi. Jelaslah kiranya bahwa sekarang mahasiswa sedang mengalami krisis dalam memperoleh pengetahuan dan melakukan suatu gerakan perubahan.
Perlawanan mahasiswa berhasil dibungkam oleh kebijakan kampus. Kebijakan baru melahirkan perlawanan baru. Merupakan bentuk pengalihan issu yang dilakukan oleh pihak birokrasi untuk mengalihkan titik fokus mahasiswa terhadap issu yang satu dengan issu yang lain sehingga Ketuntasan tuntutanpun tidak tercapai sebagaimana dituntut. Gerakan momentuman membawa mahasiswa untuk melakukan politik identitas. 'Kepala harganya murah'.
Gerakan yang sadar, terorganisir, ideologis mampu menciptakan perubahan. Problem kerakyatan yang semakin kompleks membutuhkan resistensi yang betul-betul tuntas; ini membutuhkan sikap politik dan praktek sosial dikalangan mahasiswa yang 'SADAR' akan ketertindasannya. Berawal dari lokal ke nasional dan mengembalikan ke lokal. Artinya mendorong masalah sosial ke politik dan bukan sebaliknya.
"Mendidik Mahasiswa dengan Pergerakan Mendidik Birokrasi dengan Perlawanan"

Gaya Hidup Konsumerisme

 Oleh : Anas Fardilah
 "Selama masih cenderung           mengkonsumsi sesuatu maka mustahil untuk bisa menciptakan sesuatu"
Di dalam budaya kapitalisme global, pandangan dunia dan polarisasi cara berpikir masyarakat dikonstruksi sedemikian rupa yang di dalamnya komoditi dijadikan sebagai cara untuk membangun perbedaan dan identitas diri di dalam hubungan sosial yang lebih luas. Konsumsi di dalam masyarakat kapitalisme global, tidak sekedar sarana pemenuhan nilai utilitas dalam pengertian sempit, akan tetapi merupakan cara membangun nilai-nilai simbolik.
Konsumsi kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penciptaan gaya hidup; yaitu gaya konsumsi yang dimuati dengan nilai tanda dan makna simbolik tertentu yang membentuk apa yang disebut sebagai gaya hidup konsumerisme. Memuati kegiatan dengan makna-makna simbolik tertentu (status, kelas) dengan pola dan tempo pengaturan tertentu, itulah sebenarnya esensi dari gaya hidup kosumerisme.
Gaya hidup konsumerisme merupakan gaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan diferensi secara terus menerus (maraton) lewat mekanisme tanda, citra, dan makna-makna simbolik. Gaya hidup konsumerisme juga merupakan budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya didorong oleh logika hasrat dan keinginan, ketimbang logika kebutuhan. Budaya konsumerisme tidak dapat dipisahkan dari lingkungan urban, karna di perkotaan ruang-ruang untuk konsumsi itu secara intensif dibangun.
Di dalam gaya hidup konsumerisme, objek-objek konsumsi dijadikan sebagai medium untuk menyatakan identitas diri, status, kelas, dan nilai-nilai simbolik lainnya. Budaya kapitalisme global hadir ditengah-tengah masyarakat konsumerisme itu merupakan bentuk penipuan, pembodohan, dan eksploitasi kesadaran massa; sehingga si kapitalis menggunakan citra-citra (televisi, media) dimuati menjadi komoditi yaitu sebagai alat untuk mengendalikan selera massa masyarakat (konsumer).
Karl marx mengingatkan bahwa " kapitalisme akan hancur ketika sudah terjadi over produksi". Over produksi yang dimaksud adalah dimana kapitalisme sudah mengalami krisis ekonomi yang dimana daya beli masyarakat sudah mulai melemah; maka dari itu kapitalisme akan melakukan ekspansi pasar dan menurunkan harga barang (pasar) untuk menarik kembali daya beli masyarakat. Inilah yang biasa disebut sebagai monolpoli pasar.
Apa yang hendak dilakukan oleh masyarakat konsumtif kontemporer? Apakah kita harus menciptakan teori revolusioner agar bisa melahirkan aksi revolusioner seperti yang ditegaskan oleh lenin? Apakah kita harus memasuki ruang-ruang politik dengan membawa konsep hegemoni seperti yang ditawarkan oleh antonio gramsci? Ataukah kita hanya berdiam diri sebagai penonton yang menyaksikan si kapitalis melakukan eksploitasi. Tanda kutip"atau justru masyarakat cenderung terkungkung pada pahan konsumeriseme".
Masyarakat kontemporer justru lebih cenderung mengkonsumsi sesuatu ketimbang menciptakan sesuatu. Seperti halnya marx mengatakan bahwa manusia dikatakan sebagai manusia ketika ia mempunyai karya; karna karya adalah bentuk kesosialan manusia terhadap manusia lainnya yaitu dengan cara bekerja (mode of production). Dalam konteks budaya pun masyarakat lebih cenderung dan terjebak dalam mengkonsumsi atau justru lebih mempelajari budaya-budaya barat, eropa, dan lain-lain ketimbang budayanya sendiri. Prusia bisa maju karna mereka mengenal dan mempertahankan budayanya sendiri, sementara masyarakat indonesia justru masih berkembang dibawah kemajuan budaya negara-negara lain; karna memang masyarakat hari ini lebih condong ke-barat-baratan, ke- eropa-an, bukan ke-indonesia-an. Inilah yang disebut sebagai meninggalkan budaya sendiri dan mengikuti budaya orang lain. Sama seperti miskin diatas kekayaannya sendiri.
Konsumerisme memang selalu ada ditengah-tengah kecanggihan dan kemajuan alat produksi dalam konteks alat tekhnologi. Kegensianpun menjadi faktor utama dalam diri masyarakat sehingga ia mengkonsumsi apa saja sesuai dengan apa yang ditawarkan oleh perkembangan dan kemajuan zaman. Akhirnya yang terjadi kemudian adalah menghilangkan budaya lama dan mengideologikan/mengkonsumsi budaya baru. Budaya gotong royong pun yang dulu diterapkan oleh masyarakat tradisional sudah dihilangkan oleh masyarakat modern yang dimodernkan oleh produktifitas asing.
Penguasaan pasar atas  masyarakat bicara soal penawaran produk menjadikan masyarakat terjebak dalam budaya konsumtif tingkat tinggi (KTT). Bentuk kolonialisme gaya baru merenggut peningkatan daya produktifitas masyarakat. Sekarang masyarakat bukan lagi dijajah secara fisik tapi justru di jajah secara sistem (regulasi). Dari segi produksi melemah, kemudian daya konsumsi melambung tinggi, itu hanya melanggengkan sistem kepemilikan atas alat produksi.
Konsumerisme bukan budaya yang mampu melegitimasi kekuaatan pasar, justru hanya akan mendukung proses pengakumulasian modal pasar itu sendiri. Ini sebenarnya yang mengakibatkan kondisi masyarakat serba fatal. Hal paling fundamental akhirnya melahirkan diskursus baru dikalangan masyarakat. Fatalitas inilah yang menyebabkan masyarakat kehilangan identintasnya sebagi manusia; karna mereka cenderung mengkonsumsi bukan memproduksi.
Konsumerisme merupakan representatif dari cara konsumsi berlebihan; sehingga masyarakat kontemporet tidak mampu menciptakan formulasi baru terkait penciptaan alat produksi. Pergeseran budaya mengakibatkan cara produksi masyarakat tidak menentu, ada yang masih primitif (mode of production colonial), feodal (penguasaan tanah), sampai pada cara produksi kapitalis.
Artikulasi cara produksi, cara produksi kolonial, dan internasionalisasi kapital itu akan menghalau sistem kepemilikan atas alat produksi. Dari segi pengelolaan masih melemah, penciptaan alat produksi melemah, sehingga hasil produksinyapun ikut melemah. Ini semua membuktikan bahwa tidak adanya kesadaran masyarakat untuk menciptakan dan meningkatkan daya produktifitasnya dalam penciptaan atau memproduksi.

Mahasiswa Mengikuti Zaman atau Zaman Mengikuti Mahasiswa

Oleh Bung Anas
"Rakyat tidak butuh angka, mereka perlu aksi nyata".

Seiring berkembangnya zaman maka segala keperluan dan kebutuhan sudah dipenuhi oleh zaman; entah itu berawal dari yang tiada-ada-mengadakan. Zaman lebih cenderung menciptakan sesuatu hal yang baru, Sesuatu yang tak disangka-sangka, tak pernah dipertanyakan, dan tak pernah dibayangkan akan kehadirannya. Maka segala bentuk kebutuhan seseorang serba instan; maka tidak alasan untuk kita tidak belajar dari sesuatu yang diciptakan atau diberikan oleh zaman tersebut.

Pada mulanya Penemuan alat tekhnologi itu merupakan salah satu bentuk perkembangan zaman. Zaman yang dimana dulu cara produksi manusia itu masih primitif hingga kini sudah beralih kepada cara produksi modern yang sesuai dengan keperluan dan kebutuhan umat manusia pada umumnya.

Zaman kontemporer ini segalanya sudah serba digital dan serba canggih. Kini mahasiswa pun dapat menikmati dan merasakan kecanggihan alat tekhnologi tersebut. Alat tekhnologi kini justru dijadikan sebagai kebutuhan hidup bukan lagi sekedar keperluan hidup. Sehingga mahasiswa pun justru terjebak dalam mengikuti perkembangan zaman dan bukan sebaliknya; karna mereka justru cenderung mengkonsumsi ketimbang memproduksi. Akhirnya mahasiswa diciptakan oleh zaman bukan sebaliknya.

Hadirnya tekhnologi merupakan fenomenal yang paling dahsyat dikalangan mahasiswa; karna dengan memakai tekhnolgi, dengan mengikuti perkembangan zaman, mereka tidak akan diklaim sebagai mahasiswa yang ketertinggalan zaman, mereka justru akan meng-Akukan diri sebagai mahasiswa yang modern. Lewat tekhnolgi mereka justru membanggakan diri bahwa "ohh ini baru mahasiswa modern". Bangga dari hasil produksi orang lain apakah pantas untuk dibanggakan? Sungguh sesuatu yang sangat lucu untuk dibangga-banggakan.

Jika zaman yang mengikuti mahasiswa otomatis tidak ada batasan bagi mahasiswa untuk melakukan resistensi dan justru zaman akan mengikuti kemajuan pergerakan mahasiswa dengan geleng-geleng. Mahasiswa akan lebih menyatakan sikap untuk melawan perkembangan dan tantangan zaman dengan menggunakan tekhnologi sebagai alat propagandis sekaligus sebagai alat untuk menghapus budaya-budaya pembodohan dikalangan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya; Tapi jika mahasiswa yang mengikuti zaman maka kemungkinan akan melahirkan generasi hedon, mereka akan berlagak seperti politisi sewalaulun sebenarnya mereka sudah dipolitiki, mereka akan bersikap acuh tak acuh terhadap kondisi yang sedang dihadapinya; Dan pada akhirnya mereka akan0„2 menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa dalam kerancuan dalam cara berpikir yang terkungkung dalam budaya hedonisme.

Iya lewat tekhnologi dapat mempermudah tugas kuliah, bisa vidio call, internetan, karaokean, bigo live, smulean dan lain sebagainya. Apa mereka memiliki otak untuk berpikir? Apa mereka tidah sadar bahwa tekhnologi bisa menumpulkan kesadarannya? Apa mereka rela otaknya dikendalikan dan dibentuk oleh tekhnologi? Percaya diri mahasiswa sudah dimandatkan kepada tekhnologi karna bagi mereka tekhnologi adalah bagian dari dirinya dan mereka tidak bisa hidup tanpanya. Apa mereka menganggap ini adalah sebuah lelucon kemahasiswaan? Mereka tidak ada satupun yang sadar bahwa mereka telah kehilangan identitasnya sebagai kaum intelektual dan kaum terpelajar.

Segala bentuk perkembangan zaman itu ditandai dengan hadirnya alat tekhnologi (formulasi ) baru. Zaman memang selalu menciptakan dan menghadirkan berbagai macam produk dengan secara cepat dan praktis yang akhirnya membuat mahasiswa atau masyarakat pada umumnya terjebak dalam pemahaman konsumtif tingkat tinggi (KTT). Pelipatan ruang yang dilakukan oleh tekhnologi membuat sebagian mahasiswa terhipnotis dan tertidur dari mimpi panjangnya, mereka tidak sadar bahwa polarisasi kehidupannya itu serba dikendalikan dan dikontrol oleh alat tekhnologi. Sehingga yang menidurkan dan membangunkan mahasiswa kini adalah tekhnologi. "Bukanlah tekhnologi yang menciptakan perubahan tapi mahasiswalah yang seharusnya menciptakan perubahan".

Mei 1998 (ORBA) merupakan pelajaran bagi mahasiswa, pemuda, dan rakyat indonesia; bahwa peristiwa militerisme merupakan fenomenil yang paling represif sepanjang sejarah. Lewat sistem otoritarianisme yang dijalankan oleh rezim orde baru itu selama TIGA PULUH DUA TAHUN BERKUASA menciptakan penyelewengan hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Lewat konsep developmentalisme (REPELITA)nya itu masyarakat mengatakan bahwa "SOEHARTO ADALAH BAPAK PEMBANGUNAN". Pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, perampasan, pembungkaman, itu semua merupakan suatu peristiwa yang harus diselesaikan dan segera dituntaskan oleh gerakan perlawanan mahasiswa. Apakah kita dibungkam selama 32 tahun itu tidak membuat mahasiswa dewasa ini sadar? Apakah kita dipreteli selama 32 tahun itu tidak membangkitkan perlawanan mahasiswa? Tentu mahasiswa sudah seharusnya lebih jeli menganalisis dan mempelajari peristiwa 98 itu, dan menyegerakan diri untuk melakukan pembebasan.

Gerakan mahasiswa harus berani melawan tantangan zaman. Mahasiswa harus menciptakan zamannya sendiri dalam proses penyadaran, perlawanan, dan pembebasan oleh kelas tertindas, untuk kelas tertindas, dan dalam konteks ketertindasan masing-masing. "Gengsi bukanlah harga diri mahasiswa". Esensi mahasiswa harus segera dibuktikan dalam bentuk aksi nyata, aksi murni tanpa ada tunggangan, kepentingan, selain kepentingan seluruh rakyat indonesia.

Ketika zaman lewat tekhnologi bisa melakukan pelipatan ruang (cyberspace) maka mahasiswa harus mampu membuka ruang produktifitasnya dan bukan malah menutup ruang; karna menutup ruang merupakan salah satu bentuk budaya monotheisme. Ruang-ruang publik harus dijadikan sebagai obrolan ideologis bukan digunakan sebagai ruang privat. Ketika ruang publik itu tidak mampu diterjemahkan dalam wujud ideolog maka hanya akan melahirkan ruang publik yang di privatisasikan. Inilah yang disebut sebagai generasi fatalis atau manusia satu dimensi (one dimensional man) seperti yang dikatakan oleh marcuse.

Pelarangan berlembaga, pembatasan semester, penyuntilan berekspresi, pembatasan ruang aktivitas, ancaman drop out, ancaman error nilai, itu semua merupakan bentuk pembungkaman hak demokratisasi kampus. Sehingga lewat kebijakan, lewat ancaman, itu jugalah yang membuat kesadaran dan perlawanan sebagian mahasiswa sudah mulai redup. Maka mahasiswa tidak lagi berani untuk melakukan kritikan, tidak lagi berani berpendapat, tidak lagi berani beraspirasi, tidak lagi berani berpartisipasi; karna memang mereka justru lebih cenderung takut akan nilainya error, takut di drop out, takut dengan segala macam ancaman yang diberikan oleh borokrasi kampus. Kamu mahasiswa yang hanya mengejar nilai? Kamu mahasiswa nilai? Kamu pelopor atau pengekor? Ancaman-ancaman itu hanyalah strategi birokrasi untuk bagaimana meniadakan perlawanan yang dilakukan oleh mahasiswa; karna yang mereka (dosen) hanya membawa arogansi akademik, arogansi kampus untuk melanggengkan status quo. Ingat kamu telah musyrik ketika menjadikan dosen sebagai tuhan kedua diruang lingkup pendidikan. "Dosen bukanlah dewa, dan mahasiswa bukan kerbau" (soe hok gie). Mahasiswa layaknya bermulut tapi tak bersuara.

Baca buku jauh lebih berguna ketimbang smartphone, diskusi jauh lebih produktif ketimbang nge-gosip, orasi politik jauh lebih tersadarkan ketimbang karaokean, integritas sosial jauh lebih manusiawi ketimbang bazar, pernyataan sikap jauh lebih kritis ketimbang memilih bungkam, membangun kelompok belajar jauh lebih ideologis ketimbang sentimentil, dan melawan jauh lebih revolusioner.

Ketika mahasiswa mempertanyakan tentang kondisi realitas sosial maka itu bukanlah tindakan (praktek), tapi itu hanyalah gosip belaka. Mahasiswa harus bangkit melawan ketika melihat penyelewengan, ketidakadilan, dan penindasan; jangan merasa bangga, merasa jumawa ketika menjadi pengurus DEMA, pengurus HMJ, karna itu semua hanya akan membuat mahasiswa menjadi penindas baru; karna diruang-ruang seperti itulah dimana politik praktis dilakukan. Sehingga efek dominonya akan menjalar dalam diri sang junior.

Mahasiswa sebagai pelaku perubahan (agent of change) harus lebih jeli untuk menyikapi ketimpangan yang terjadi diruang lingkup pendidikan. Hak protes dan soft protes harus dipertumbuhkan terus untuk menjewantahkan suara-suara badut kolonial itu. Tidak perlu takut nilai, tidak perlu takut drop out, karna sesudah setelah kamu memakai toga maka kamu akan menjadi sarjana pengangguran. Kalau mulut tidak berani untuk bicara, maka biarkan pena berbicara. Maka untuk menghapus budaya pembodohan yang dilakukan oleh si badut kolonial itu, mari sekarang bangkit melawan dengan mendidik mahasiswa dengan pergerakan dan mendidik birokrasi dengan perlawanan.

"Menolak tunduk, Menuntut tanggung jawab".

Nahkoda Baru Fokmad

Jumat(16/02/2018). Anas Fardillah menjadi nakhoda baru FOKMAD setelah memperoleh dukungan suara terbanyak, mengalahkan kandidat kedua Ahmad Kadafi Faisal yang hanya mendapat suara sedikit.

Setelah mendapatkan amanat dari kawan-kawan FOKMAD, Anas bertekad menjalankan agenda-agenda organisasi secara massif lagi.


Selain itu berdasarkan hasil Keputusan KONFERBA (Konferensi Basis) FOKMAD (Forum Komunikasi Mahasiswa Demokrasi) yang ke - 2 menghasilkan beberapa rekomendasi, Yakni: Mengadakan pra-NDK basis, Membentuk Aliansi, Membuat kurikulum baru,Membangun komunikasi, Memasifkan proses pengawalan & pengorganisiran


Dalam orasi politiknya ketua baru berkata."Mendidik Rakyat Dengan Pergerakan Mendidik Birokrasi Dengan Perlawanan". 

Bersatu Kita Bersama


Makna gambar disamping cukup panjang, intinya yaitu merangkul sesama. Merangkul kesulitan yang ada didepan kita untuk dijalani bersama hingga mencapai kemudahan. Tapi, apakah bersama itu ada?
Ada karena memiliki tujuan yang sama atau juga tidak ada karena sikap dan tujuan berindividu terlalu kuat di benak seakan membuat kita berfikir 'sendiri juga bisa.' ya apatis. Meskipun bisa atau bahkan mustahil kata bersama itu, kita harus bisa menjalankannya sebisa dan seimbang mungkin. Tentu saja bersama dan individu tidak bisa di gabungkan menjadi hal yang lancar.
Menjalankan hal yang disebut bersama itu, tidak selalu dengan hal yg serupa secara kompak. Kita punya cara sendiri agar bisa mewujudkan hal yang baik maupun tidak baik, karena sekali lagi bersama, tidak selalu menuju ke positif bahkan bisa saja berujung negatif.
Intinya, yang dimaksud bersama pada tulisan ku kali ini adalah kekeluargaan.
Keluarga datang bukan karena tali persaudaraan yang lahir dari darah keturunan, tetapi keluarga bisa muncul dari kerjama sama, kekompakan yang dilakukan untuk tujuan bersama.
Ya, banyak sekali kata bersama disini. Ketika kita mengucapkan 'bersama', orang pasti tahu kalau yg dimaksud adalah pergerakan yang kuat. Pergarakan besar yang ditempuh dengan kekuatan seadanya. Berbekal kejujuran , keberanian serta tekad yang susah untuk dilebur pergerakan akan susah untuk dihentikan.
Marilah kita berfikir luas bahwa kebersamaan bisa membuat kita mencapai tujuan lebih baik, apalagi dilakukan dengan keadilan demi kebaikan kita semua. Keluarga yang berasal dari kebersamaan akan muncul dari kejujuran yang kita katakan dari awal.
Salam pemuda!

Kenang-kenangan Negeri Agraris

Oleh : Luqman Hakim* 

D
i awal tahun 2018 ini, masyarakat digerahkan dengan naiknya harga beras. Penyebab dari kenaikan harga beras pun beragam; mulai dari cuaca buruk hingga alasan klasik soal lambatnya proses distribusi dari petani ke pasar. Namun, Kementerian pertanian berulang kali memberi statement bahwa stok beras berada dalam keadaan surplus. Statement ini ditegur oleh Ombudsman yang menyatakan bahwa data yang dikumpulkan oleh Kementerian tidak akurat karena hanya didasarkan pada perkiraan luas panen dan produksi gabah tanpa disertai jumlah dan sebaran stok beras secara riil.

Kenaikan harga beras coba ditanggulangi dengan upaya pemerintah mengimpor sekitar 500.000 ton beras. Tentu saja rencana ini banyak menjadi perdebatan, terutama oleh kelompok oposisi pemerintah. Banyak yang menganggap rencana impor beras adalah sebuah blunder dan bukti kegagalan pemerintah dalam mengentaskan masalah ketahanan pangan nasional. Meskipun mereka yang mengkritik tidak juga memberikan solusi yang konkret untuk mengentaskan masalah harga beras yang melonjak.

Polemik kenaikan harga beras lantas menjadi isu yang menarik bagi kompetisi politik elit. Setelah urusan Pilkada, dan mahar politik Calon Kepala Daerah mulai surut, kenaikan harga beras adalah wacana yang siap menenggelamkan masyarakat dalam perang opini antara pemerintah dengan kelompok oposisi.

Sebagai Negeri yang pernah mendaku diri sebagai Negeri Agraris, impor beras jelas hal yang tidak rasional. Dalam setiap janji pemerintah, urusan produksi beras dan peningkatan kesejahteraan petani adalah barang kampanye yang selalu seksi. Janji swasembada pangan bukan hal yang baru digaungkan pemerintahan Jokowi, tapi sudah sejak dulu hanya menjadi janji.  Pada akhirnya, Negeri Agraris hanya kenang-kenangan dari kejayaan masa lalu. Kita bisa lihat beberapa orang mungkin akan kembali mempopulerkan jargon, "enak jamanku toh?", Sebuah statement dengan diikuti oleh foto senyum  dari seorang Jenderal diktator yang pernah dianggap berhasil melaksanakan swasembada beras.

Solusi impor beras untuk menekan harga beras yang naik adalah sesuatu hal yang terus berulang. Ketahanan pangan pada akhirnya hanya menjadi sebuah kebijakan manis setiap pemimpin negara kita dalam setiap kampanye. Tidak pernah ada sebuah konsep yang jelas dan matang tentang bagaimana meningkatkan produksi beras nasional. Sehingga ketika harga beras naik, menurunnya produktifitas panen beras--entah akibat cuaca atau hama--menjadi satu-satunya alasan yang paling masuk akal yang bisa disampaikan pemerintah.

Lagipula, pada kenyataannya pemerintah memang tak serius meningkatkan produktifitas di bidang pertanian. Pemerintah Indonesia hanya fokus pada pembangunan infrastruktur yang katanya akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Itu pun tidak pernah ada data yang riil tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap peningkatan perekonomian. Dan apa pula untungnya bagi masyarakat membaca statistik pertumbuhan ekonomi jika nyatanya harga kebutuhan pokok mereka mahal?

Pembangunan infrastruktur yang dampaknya hanya dibuktikan dengan deretan angka-angka, nyatanya telah banyak merebut tanah-tanah masyarakat yang digunakan untuk menanam kebutuhan pokok. Pembangunan bandara di Kulonprogo semisal, telah menggusur ribuan hektar lahan pertanian. Pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka yang juga menggusur ribuan hektar lahan pertanian. Praktis tiap tahun luas lahan pertanian selalu berkurang, khususnya di pulau Jawa. Penyebabnya adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan properti, lahan pabrik/industri atau lahan pembangunan transportasi. Kita bisa melihatnya di sekitar kita, sawah yang berubah jadi perumahan, jalan tol, pabrik bandara. Lalu mana mungkin jumlah lahan pertanian yang berkurang mampu menghasilkan produksi yang meningkat?

Pada akhirnya, janji swasembada pangan, janji menjaga ketahanan pangan merupakan janji yang tidak sesuai dengan realisasinya di lapangan. Reforma agraria hanya sebuah poin yang tercantum dalam nawacita, yang kalah menarik daripada usaha pembangunan infrastruktur. Suruh saja masyarakat makan beton, makan angka-angka statistik, atau makan uang yang dihasilkan infrastruktur. Yang mau makan beras, tunggu impor. Masih percaya Indonesia negeri agraris? Kayanya cuma kenangan atau susah move on dipimpin sama jenderal? 

*Penulis merupakan Ketua FPPI Pimkot Jakarta

Kepentingan & Dominasi


Ditulis oleh: Anas Fardillah*
Era globalisasi dan digitalisasi sekarang ini sudah membawa pemahaman masyarakat kepada pemahaman objektifitas. Pemahaman yang tanpa didasari dengan landasan teori dan kesadaran. Sehingga melalui perkembangan tekhnologi yang ditawarkan oleh pasar, masyarakat sudah menjadikan (mengkonsumsi) tawaran itu sebagai ideologi tunggal ketimbang realitas sosial masyarakat itu sendiri.


Antara pasar, negara, masyarakat, masing-masing memiliki kepentingan tersendiri. Kepentingan pasar terhadap negara adalah kebijakan (regulasi) dan pendapatan (keuangan) negara. Kepentingan negara terhadap pasar adalah produk. Kepentingan masyarakat terhadap negara adalah ekonomi (kesejahteraan). Apa kepentingan pasar terhadap masyarakat? Apa kepentingan negara terhadap masyarakat? Dan apa kepentingan masyarakat terhadap pasar?


Pasar menurutnya adam smith adalah tangan-tangan yang tak terlihat (invisible hand). Sehingga kondisi negara dan masyarakat hari ini sudah dikontrol oleh pasar; yang seharusnya negara-lah yang mengontrol pasar dan masyarakat. Dalam kajian marxisme revisionisme bahwa mekanisme dalam suatu negara harus bersifat objektif; artinya negara harus dijadikan sebagai kehendak umum. Akhirnya yang mengontrol pasar dan masyarakat adalah negara. Akan tetapi kaum revisionis menekankan pada tatanan parlementer; dimana yang mengatur bagian parlemen atau oknum yang berada didalamnya adalah proletar yang dalam hal ini pun akhirnya lenin menggagas yang namanya diktator proletar (sendem-CC).Akhirnya kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri (karl marx). 

Hancurnya kapitalisme ditandai dengan karna adanya kontradiksi internal; dimana kacamata semiotika (yasraf amir pilliang) memandang bahwa "musuhnya kaum sosialisme bukanlah kapitalisme tapi imperialisme, karna kapitalisme justru digunakan sebagai kemajuan sosialisme itu sendiri". Negara indonesia merupakan target (korban) daripada borjuis nasional dan internasional. Dilihat dari eksperimen sejarah bahwa yang mendasari kolonialisme masuk menjajah di indonesia adalah ditandai karna adanya pelayaran yang dilakukan oleh facto de gama (marcopolo), dimana hasil dari pelayaran tersebut ia melihat dua pulau (padi-emas). Sampai kepada abad 21 ini maka imdonesia sudah di kuasai dan di dominasi oleh investor asing (pasar). Akhirnya posisi negara akan mengarah kepada "liberalisasi". Negara indonesia (liberalisasi) pun kini sudah di swastanisasikan; contoh kasus BUMN dijual ke swasta pada era rezim (Jokowi-JK).Salah satu target daripada negara industri internasional (kapitalis) adalah negara dunia ketiga (indonesia) yang masih berkembang (lenin/imperialisme). Lenin sebagai organisatoris revolusioner di rusia (tsar) menggambarkan tentang sistem atau srategi yang dilakukan oleh imperialisme. Imperialisme secara definitif menurut lenin adalah kapitalisme monopol. 

Dimana kapitalisme monopol (imperialisme) ini memiliki cabang-cabang, cara, strategi, untuk mensirkulasikan modalnya. Negara indonesia yang dikenal sebagai negara terkaya di dunia akan kekayaan sumber daya alam (SDA)nya merupakan target negara maju (industri). Maka dari itu janganlah heran yang menguasai negara sekarang adalah pasar (investor). Karna memang negara sendiri belum mampu menciptakan formulasi baru terkait penciptaan alat produksi. Sementara bicara sumber daya manusia (SDM)nya indonesia sudahlah cukup untuk mengelola dan mengatur hasil kekayaan alamnya sendiri lewat produksi; dengan begitu masyarakat tidak lagi tergantung atau mengikut dengan hasil ciptaan (produk) pihak asing.Tugasnya negara adalah memberikan corak produksi terhadap masyarakat agar masyarakat bisa lebih produktif dalam mengelola hasil produksinya melalui sarana produksi (tanah) yang dimilikinya. Jika negara (pemerintah) hari ini memberikan corak produksi kepada masyarakat maka negara bisa menjadi negara welvert state (kesejahteraan) yaitu kemandirian secara ekonomi, politik, budaya, agama, pendidikan, dan lain sebagainya. Akhirnya kapitalisme internasional (global) akan mengalami over produksi yang pada konteksnya dimana daya beli masyarakat sudah melemah.

*penulis adalah kader Forum Komunikasi Mahasiswa Demokrasi

Refleksi Calon Wisudawan

Mungkin tidak ada satupun di dunia ini yang memacu adrenalin selain mempertaruhkan hidup. Lepaskan dulu sementara pengetahuan agama samawimu, hingga kepercayaan kepada pagan. Sebab membaca tulisan ini harus benar-benar menjadi seorang yang agnostik. Jangan kritisi tulisan ini dengan kepercayaan, karena pintu rezeki tidak berbanding lurus dengan status pekerjaan.
Wisuda merupakan kegiatan yang tidak wajib dilaksanakan bagi sebagian orang, kegiatan ini hampir mirip-mirip mahasiswa baru dihadapkan dengan ospek. Euforianya mirip, melepas status dari mahasiswa ke pengangguran begitupula sebaliknya ospek dari siswa menjadi lebih keren yaitu mahasiswa. Sama-sama dihadapkan kepada kekejaman realitas, padatnya kegiatan akademik dan non-akademik, di satu sisi melepaskan semuanya. Poin pentingnya tidak semua mahasiswa dapat ikut serta dalam ajang wisuda, dan tidak semua pemuda dapat merasakan ospek di perkuliahan. Lebih pentingnya lagi dalam pandangan absurditas, baik wisuda atau tidak manusia harus menjalankan hidupnya sebagai manusia, bukan sebagai hewan.
Kembali lagi pada poin WISUDA, ia menjadi satu fase pendewasaan metamorfosis mahasiswa. Ada yang menjadi kupu-kupu, namun adapula berubah menjadi kecoa. Kehidupan seperti itu harus dilalui, sebagai nihilis tetaplah hidup hanya untuk kematian, tidak lebih dan tidak kurang.
Ketika sebuah pertanyaan dilemparkan kepada calon wisudawan. "Habis ini mau ngapain?" tentu jawabannya akan abu-abu, meskipun ada juga yang dapat menjawab secara lugas hingga menggunakan slide power point. "Pastilah kerja", tukasnya. Kita sama-sama paham jika setelah meraih gelar sarjana tentu bekerja. Pertanyaanya pun menjadi semakin berlipat ganda seperti puisi widji thukul. "Terus mau kerja apa?" sesaat percakapan menjadi sedih di tengah keriuhan wisuda. Temanmu hanya mampu memberi selamat, kalo lebih mungkin dia punya modal membuat usaha untuk siap merekrutmu menjadi pegawainya. "Ya, nantilah coba lempar-lempar CV ke lowongan kerja yang ada" usaha seperti ini jelas akan dilakukan. Tunggu dulu daritadi kita membicarakan kerja sedangkan belumlah kita membedakan kerja manusia dengan aktivitas hewan.
Sejak kita sudah mempunyai pengetahuan yaitu ketika kita mampu membedakan peran kedua orangtua kita, siapa yang ayah dan siapa yang ibu kita sudah mempunyai pengetahuan sedikit tentang kerja dari aktivitas mereka. Sesederhana itu kita mengerti kerja, pengetahuan kita hanya sebatas aktivitas mereka. Baru kemudian setelah kita memasuki ruang pendidikan, ibu atau bapak guru mengenalkan pada kerja-kerja lainnya. Entah mencontoh orang tua teman-teman kita. Ada berbagai macam kerja yang kesimpulannya semuanya harus menghasilkan uang.
Jelas sejak manusia muncul hanya mencari keuntungan, begitu ujar aristoteles menyebut manusia sebagai homo economicus. Secara naluri individu bolehlah bila kerjamu hanya untuk diri sendiri, cukup bertahan hidup dari ancaman ekosistem. Namun individu memiliki fungsi sosial dan memiliki peran terhadap realitas.
Sebagai manusia tentu membedakan dirinya dengan konsepsi kerja, untuk membedakan dari tumbuhan dan hewan. "Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja", ujar Buya Hamka. Lantas apa perbedaannya?
Seluruh makhluk hidup di jagat kosmos pasti memiliki sifat adaptif. Mulai dari mikroorganisme hingga yang tampak kasat mata. Namun manusia adalah makhluk paling lemah diantara golongan hewan dan tumbuhan. Hidupkan mesin waktu ingatanmu dan mari kembali ke masa lalu, tepat disaat usia kita balita. Manusia butuh proses untuk mengenali lingkungannya, di awal keluarga hingga berbagai macam lingkaran in-groupnya. Semuanya harus diajari, bahkan hal yang bersifat untuk dirinya sendiri yaitu berjalan, berbicara, mengingat dan lain-lain. Manusia sangat-sangatlah lemah seperti lirik lagu AdaBand "teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja". Berbeda dengan hewan, baru lahir beberapa minggu kemudian dapat berjalan. Hidup manusia tidak lebih keras dari hewan dalam rantai makanan. Karena manusia memiliki akal untuk dapat menghabisi rasa keingintahuannya, berbeda dengan hewan. Lantas setiap kegiatan manusia adalah sejarah bagi dirinya dan sekitarnya. Jika hewan ia tak pernah menorehkan sejarah, karena rantai makanan dan jaring-jaring makanan adalah suatu keharusan.
Perkembangan harus terus berlangsung. Perubahan tak akan bisa dibendung. Tugas manusia adalah menciptakan sejarah. Membantu manusia lainnya dalam kehidupan masyarakat. Marilah seksama merefleksikan kembali fungsi sosial dan peran dalam masyarakat. Masihkah pandangan kerja hanya sebatas menambah pundi-pundi rekening deposito? Ataukah kita akan ikut terlibat dalam menorehkan sejarah dalam sebuah perubahan?. Itu adalah pilihan hidup.

KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN

"Dominasi Asing Mengancam Kedaulatan Bangsa Indonesia"

Dominasi Asing kian merajalela seluruh sektor sudah di ambil alih oleh swasta, kita di tuntut untuk bergerak maju namun keadaan membuat kita semakin terbelakang. Hal apa yang membuat demikian adanya ? Pertanyaan besar bagi kita semua. Periode ke periode sistem pemerintahan kita menawarkan solusi yang sistematis menangani kesenjangan sosial, namun di satu sisi periode tersebut malah menciptkan bentuk kejehatan yang tersistem, sebut saja Korupsi, Kolusi dan nepotisme (KKN), dalam situasi seperti ini negara telah kehilangan kendali dalam mengontrol serta mengawasi kelompok yg melakukan kejehatan tersebut yang di pandang sangat merugikan negara. ironinya lagi bahwa yang melakukan kejehatan yang menyensarakan rakyat tersebut di dominasi oleh mereka yang di percaya oleh rakyat untuk di jadikan sebagai perwakilan dan pemimpin untuk rakyat itu sendiri, baik dari lembaga legislatif maupun eksekutif. Akhir -akhir ini rakyat indonesia di perhadapkan dengan masalah yang begitu besar yang berkemungkinan akan mengancam kedaulatan bangsa indonesia. masalah yang menggerogoti bangsa indonesia saat ini ialah banyaknya dan masifnya Dominasi asing di berbagai sektor, mulai dari sektor kelautan, pertanian sampai pada sektor industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti air, tanah , minyak dan pangan telah di kuasai oleh Asing maupun swasta. Negara berpandangan bahwa dengan di serahkannya sebagian besar aset negara untuk di kelola oleh swasta maupin asing dapat memperbaiki ekonomi indonesia. sebagian rakyat indonesia sadar akan bahaya yang akan timbul dari kebijakan pemerintah tersebut, namun banyak pula yg terbungkam mulutnya untuk meneriakan perlawanan, bibir terasa seperti terjahit dengan rapat, badan terasa tertancap seperti paku, bagaikan paku yang berdiri tegak namun tak mampu berbuat apa-apa. banyak di antara kita tak sadar bahwa penguasa memiliki cara sehingga membuat kita seperti patung, salah satu di antaranya ialah melalui cara yang membuat kesadaran kita terbungkam seperti pemberian bantuan uang maupun pendanaan kepada kita dengan melalui berbagai macam program -program seperti program indonesia sehat, Program indonesia Pintar, dan program-program lainnya yang berjenis bantuan pendanaan. modus melalui program seperti ini telah membungkam kesadaran akan ketertindasan yang sebenarnya sedang berjalan di negeri Kita , kita tidak sadar kalau uang yang telah di berikan kepada kita melalui program bagi bagi uang tersebut merupakan utang atau pinjaman yang bersumber pada asing atau lembaga donor keuangan internasional sepwrti IMF, WB, WTO, MNc, dan lembaga-lembaga donor lainnya yang tidak cukup satu lembar kertas kalaupun di catat nama nama lembaga tersebut. Lembaga donor seperti IMF, WB, WTO, dan sejenisnya menjalankan modus operandinya dalam bentuk pemberian modal kepada negara berkembang seperti indonesia yang secara ekonomi masih lemah, dengan dalih membangun ekonomi negara berkembang. Pemberian Modal dengan pendanaan yang begitu besar tidak serta merta di berikan begitu saja, tanpa harus ada jaminan.
Penggusuran, perampasan hak atas tanah rakyat, reklamasi pantai yang di dominasi oleh segelintir pemodal, swasta, maupun asing merupakan jaminan yg di berikan Negara kepada pihak asing, dan jangan heran banyak rakyat indonesia yang harus kehilangan tanah dan tempat tinggal mereka, belum lagi sistem perpolitikan dan hukum kita yang di intervensi oleh asing sehingga produk kebijakan pemerintah yang di keluarkan selalu berpihak dan menguntungkan para Pemilik Modal (borjuasi) dan tidak selalu berpihak kepada rakyat kecil.

"Hukum dan perpolitikan bangsa kita telah tergadaikan oleh penguasa yang zolim, tidak lama lagi indonesia hanya tinggal nama dan indonesia hanya tinggal kenangan."

Bangkit melawan atau hilang selamanya!

Oleh:MUKHLIS PLANO* 
*Penulis adalah kader Front Perjuangan Pemuda Indonesia Kota Makassar

Perbudakan "Nilai" Dalam Pendidikan

Perbudakan ternyata tidak hanya dalam hal pemaksaan fisik saja, tapi bisa juga dalam hal mental atau pikiran. Perbudakan dalam KBBI berarti system yang membuat segolongan manusia dirampas kebebasan hidupnya untuk bekerja demi kepentingan golongan manusia lain. Dalam hal perbudakan fisik, yang dirampas adalah kebebasan untuk memilih apa yang harus mereka kerjakan menggunakan badan mereka, sedangkan perbudakan mental yang dirampas adalah hak untuk melakukan apapun yang diinginkan oleh manusia.
Begitu juga bagi para pelajar, pelajar di Indonesia dari tingkat SD sampai SMA masih mengalami perbudakan. Pelajar-pelajar saat ini sangat dibudaki oleh “Nilai”. Nilai yang tinggi menurut para pelajar dan orang tua saat ini adalah hal yang wajib didapat dan hal yang dijadikan patokan seberapa sukses pelajar tersebut dalam proses pembelajaran.
Pemikiran seperti itu akhirnya membuat pelajar rela melakukan apa saja demi mendapatkan nilai yang tinggi. Sehingga cara-cara curang pun banyak dilakukan oleh para siswa, cara-cara yang sering dilakukan contohnya mencontek, membuat catatan dan sebagainya. Ini dilakukan para siswa karena mereka takut kalau mereka tidak mendapatkan yang terbaik saat ujian, akan mendapatkan masa depan yang buruk.
Seperti halnya yang terjadi di sebuah SD, seorang guru terbukti menerima sejumlah uang dari orangtua murid agar anaknya mendapat nilai yang tinggi saat Try Out Ujian Nasional dan juga saat Ujian Nasional, pola yang dilakukan adalah memberikan soal yang akan diujikan sehari sebelumnya. Dan orangtua murid rela merogoh kocek yang dalam demi mendapatkan hasil nilai yang sempurna.
Hal ini tentu saja mencederai proses pendidikan di sekolah. Karena tujuan pendidikan sesungguhnya adalah seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire dan di amini oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu memanusiakan manusia. Lalu manusia mana yang dimanusiakan dengan proses pendidikan yang penuh kecurangan seperti itu? Selain itu, guru yang seharusnya sebagai penuntun siswa dalam belajar disini justru memberikan jalan bagi para siswa untuk berbuat curang dengan cara menjual nilai. Mungkin itu adalah satu dari banyaknya kasus yang terjadi di lingkungan Pendidikan Dasar, masih banyak sekali persoalan yang terjadi karena siswa diperbudak oleh “Nilai”.
Hal ini juga yang harus menjadi perhatian bagi orangtua murid. Yang perlu ditekankan adalah sekolah bukan tempat untuk memproduksi nilai di raport, tetapi proses belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dari kasus-kasus yang ada membuktikan bahwa nilai raport yang selama ini diagung-agungkan ternyata tidak sesuai dengan nilai moral yang didapat oleh anak. Kejujuran digadaikan demi “Nilai” yang justru malah memperbudak siswa.
Lalu, jika kejadian ini terus berulang, kesalahannya terdapat dimana? Guru yang salah? Siswa yang salah? Atau memang dari awal system pendidikan kita yang salah? Mari sama-sama berpikir.

Liga Indonesia Bercanda

Diawali liga dengan carut marut, segala regulasi dirubah dan dikeluarkan dengan seenak jidat membuat liga Indonesia kali ini sangat tak karuan ditambah lagi dengan memilih anggota militer menjadi ketua di fedarasi yang memang sialan ini.

Entah memang sudah pada dasarnya di negara ini perputaran kapitalis nya yang sangat kuat entah juga semua orang tengah dilanda gelap harta. Ya, bukti kongritnya saat federasi dari awal liga sampai akhir liga sekarang selalu panen sanksi, pun begitu perputaran uangnya selalu kuat. Dari setiap klub saja hampir merogoh uang ratusan juta rupiah untuk membayar sanksi tersebut. Hal gila kan.

Tak hanya soal menyoal tentang uang dan sanksi, sering berubahnya regulasi pun banyak menjadi bahan dagelan para supporter di Indonesia, dari peraturan MP,U22 hingga pasal pasal yang selalu di labas oleh federasi disini.

Ditambahi di penghujung liga ini dimana Bhayangkara FC diplot sebagai kampiun liga lawak,meski dari segelintir anggota pssi masih mengelak, tapi kita bisa nyaksikan bahwa memang klub tersebut bakalan menjadi juaranya + dilaga akhir mendapatkan point ghoib karena dinyatakan menang Walk Out atas Mitra Kukar. Hahaha, sungguh terbahak bahak bukan kita melihat kejadian ini.

Dan satu lagi sebagai penutup, melihat satu cuitan di twitter ada hal menarik yang menjadi bahasan saya. Dia berkata "apakah kalian sadar bahwa kita sedang di adu domba oleh pssi, dimana supporter yang sudah berdamai menjadi musuhan lagi, dan yang musuhan semakin menjadi jadi, dan kita sebagai supporter hanya dijadikan sebagai alat menutupi kebusukan mereka" begitulah kira kira cuitan akun tersebut.

Mungkin, tahun depanpun tidak akan beda jauh dengan tahun tahun sebelumnya. Dimana para mafia sialan,investor dan segalanya yang ingin merusak sepakbola di negara ini semakin hancur.

FPPI MAKASSAR PERINGATI SUMPAH PEMUDA DENGAN AKSI, INI TUNTUTANNYA!

uluan Mahasiswa yang tergabung dalam  FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) Makassar telah melakukan unjuk rasa di  Jl Sultan Alauddin. Depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar kemudian melanjutkan aksinya didepan Gedung DPRD Kota Makassar.

Adapun poin tuntutan kader FPPI Makassar tersebut adalah mencabut Perppu Ormas, Laksanakan Refoma Agraria, Nasionalisasi Aset Negara, Tolak APBN Pengamanan pilpres 19,2 T, Tuntaskan Pelanggaran HAM,  & Stop kriminalisasi Mahasiswa sekaligus Wujudkan Demokratisasi Kampus.

Dalam penyampaian orasinya massa menuntut tegas kepada pemerintah agar mencabut dan menghapus segala bentuk kebijakan yang tidak mendukung rakyat.

Pada, Sabtu (28/10/2017) di depan Kampus I, UIN Alauddin Makassar.
Jendral Lapangan, Anas dalam orasinya meminta pemerintah untuk tunduk & patuh pada keinginan rakyat.

"Kebebasan berserikat dan berkumpul dalam rangka mengawal serta mengontrol kebijakan pemerintah dapat terhambat dikarnakan produk kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, " kata Anas.

Mampus Kau Dikoyak-Koyak Ospek!

Hal Konyol Itu Bernama Ospek !

Akhirnya kita kembali dalam semester ganjil. Selesai sudah kegembiraan liburan dan kembali juga kita bersama di hadapan dosen- dosen galak itu.  Dimana tahun ajaran baru juga kembali bergulir di berbagai kampus. Tentu, hal ini gak luput dari dimulai nya melankolia dunia kuliah bagi ribuan mahasiswa yang baru saja diterima di perkuliahan ini.

Ciee, yang sekarang sudah jadi mahasiswa, bolehlah kalian berbangga. Karena sudah hampir berhasil merdeka dari sistem pendidikan yang kita tahu sangat memperbudak ini. Meski ya, naif juga jika berpikir bahwa kuliah sendiri itu tidak memperbudak. Tapi, bersyukurlah kalian tidak harus berkutat dengan seragam serta mata pelajaran yang tidak kalian sukai. Jadi, sesedikit bersyukur aja lah..

Aku sebagai mahasiswa butiran rinso yang sudah dijajah oleh tugas dan dosen selama satu tahun ini akan mulai membahas tentang sebuah ritual yang selalu diadakan kampus setiap tahun ajaran baru. Ya, ritual yang punya sebutan halus “pengenalan” agar terlihat lebih manusiawi. Permasalahannya apakah ritual tersebut masih perlu untuk dilestarikan dalam dunia kampus kita?

Akhir- akhir ini mulai banyak mahasiswa yang menggugat kampusnya sendiri dikarenakan sistem yang merugikan mahasiswa. Contoh saja adalah bagaimana bergulir sistem pembayaran UKT yang melilit leher banyak mahasiswa dikarenakan mahalnya harga yang harus dibayar untuk bisa belajar di dalam kampus. Penindasan ini tak hanya berhenti dalam bentuk UKT saja, melainkan juga lewat sebuah perubahan sistem yang dilakukan oleh pemerintah lewat kampus- kampus negerinya. Salah satunya adalah penetapan status Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH) yang sudah mulai ditetapkan di banyak kampus. Awalnya memang kebijakan- kebijakan ini terlihat baik dikarenakan akan membuat sistem pengajaran di kampus berjalan efektif. Namun, kenyataan yang terlihat malah jauh lebih menyedihkan. Pendidikan sekarang menjadi sebuah komoditas yang dijual oleh otoritas kampus untuk mencari keuntungan. Lihat saja, banyak dari mahasiswa yang mendapatkan UKT yang sangat mahal dan bahkan tidak wajar melihat kondisi keluarga mahasiswa tersebut.

Selain itu, birokrat kampus seakan tidak peduli dengan fasilitas pendidikan yang ada. Banyak gedung yang dibangun dengan kualitas seadanya, bahkan banyak juga yang terhenti pembangunannya. Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM-pun juga banyak yang kesulitan mendapatkan dana yang pantas untuk acara- acara yang mereka jalankan. Sehingga banyak dari mereka harus berusaha keras mencari dana agar acara mereka tetap lancar terlaksana. Malah, kampus  yang didukung oleh regulasi komersialisasi macam PTN- BH melakukan pemborosan dan memberikan jalan masuk untuk para pemodal kedalam kampus. Tak heran jika kantin kampus serta gedung- gedung fakultas sudah ada sponsor layaknya klub bola. Mereka juga turut mencari keuntungan dari kantong para mahasiswa yang sejatinya sudah dieksploitasi oleh regulasi dan institusi kampus.

Jadi, apa hubungannya ospek dengan berbagai fenomena mahasiswa yang menuntut hak yang dikebiri oleh kampusnya sendiri?

Ospek atau yang dikenal dengan pengenalan lingkungan kampus,PBAK, atau semacamnya ini menghabiskan dana yang tidak kecil dengan sementara sarana prasarana kampus yang begitu memprihatinkan. Jelas, acara megah sekelas ospek kampus itu tidak main- main dana nya. Kita semua sadar soal itu dan malah mengaminkan hal tersebut tetap terjadi. Saya berani fair jika adek- adek(kata-kata para kandayya) bisa berpikir lebih terbuka, merdeka, dan kritis dengan diadakan nya hal konyol sebesar itu. Namun nyatanya? Contoh saja apa yang saya liat dan alami di kampus sendiri adalah bagaimana perjuangan mahasiswa seakan dilupakan. Okelah jika lagu- lagu perjuangan seperti “DARAH JUANG” atau “Buruh Tani” seringkali dikumandangkan saat acara tersebut. Ditambah pula dengan pekikan “Hidup Mahasiswa ! dan Hidup Rakyat Indonesia” yang dilakukan oleh pejabat- pejabat organisasi pemerintahan mahasiswa dengan muka penuh sangar seakan ketika memekikan jargon tersebut kemenangan revolusi sudah didepan mata. Cuman ya, maaf nih. Semua itu sebatas pemanis saja. Jadi, saya yakin ditelinga para maba hanya akan terdengar sebagai sebuah identitas manis agar keliatan keren aja. Toh juga gak menutup kemungkinan jika banyak yang merasa terpaksa ketika disuruh meneriakkan atau menyanyikan itu akibat tubuh dan pikiran yang sudah lelah setelah ceramah berbagai orang penting dan teriakan- teriakan korlap yang ga jauh beda sama Satpol PP.

Yang perlu saya soroti lagi adalah bagaimana ritual ini mengenalkan isi kampus sebagai tempat yang gitu- gitu aja. Konten yang diperkenalkan bukanlah mengenai pergerakan mahasiswa atau bagaimana perjuangan mahasiswa yang menuntut akan hak- hak mereka. Melainkan malah hanya memperkenalkan kampus tersebut dengan sederetan prestasi yang tiada habisnya. Saya menggunakan kata “hanya” karena wacana yang coba disampaikan serasa tidak komplit. Cobalah kita memperkenalkan secara seimbang antara prestasi dan pergerakan. Sembari beromong kosong ria soal jumlah medali dan penemuan, konten acara bisa bicara banyak soal kampus tersebut punya sejarah dalam berjuang bersama rakyat yang tertindas. Bisalah kawan-kawan baru kita ini  diperkenalkan soal lulusan- lulusannya yang pernah berjuang atas nama melawan penindasan.. Meski terkesan romantisme belaka, bagiku sendiri ga ada salahnya untuk sedikit mengintip alimni nya buat menambah pengetahuan dan belajar soal perjuangannya dulu. Ketimbang dicekokin prestasi terus sampai mampus, memang dikira mahasiswa itu tujuan nya jadi buruh penghasil prestasi untuk kampusnya?

Lalu kita kembali pada hal yang sering kita saksikan fenomena senior-junior. Disini yang senior merasa bahwa dia adalah pahlawan kesiangan yang tahu akan segala hal mengenai dunia kampus dan mungkin ialah yang paling berhak dalam memberikan wejangan dan cerita nabi- nabi kepada dinda-dinda nya sambil mencoba menjalin romantisme. Lalu dalam sistem hirarki pendidikan kita yang feodalistik ini, mahasiswa baru dianggap seperti barang atau komoditas yang perlu dipoles lagi agar lebih kece di kampus nya. Dengan simbolisasi pakaian hitam putih yang gak jelas apalagi sampai ngurus- ngurus masalah rambut. Mereka ini diposisikan sebagai manusia yang tidak mengerti apa- apa dan hanya ikut pada jalan yang ada. Adakah titik resistensi disana?

Sepengetahuanku, banyak juga mahasiswa baru kita yang jauh lebih jenius dan bahkan lebih kritis ketimbang kakak- kakaknya yang sudah terkena sindrom ketertundukkan. Namun karena sistem pendidikan kita masih menganut “bahwa yang tua adalah segalanya” maka tidak heran jika maba ini tidak diberikan ruang agar ia bisa bersuara. Banyak cara untuk mematikan hal tersebut. Bisa lewat peminggiran sosial dengan sistem angkatan yang harus “solid dan satu”. Atau malah yang lebih
bar-bar lagi adalah penggunaan emosi dan tekanan fisik pada sang maba.

Hal konyol diatas ini bagiku sendiri hanyalah sebuah kontrol atas tubuh belaka agar mahasiswa yang sadar bahwa dunia ini tidak baik- baik saja makin minor jumlahnya. Lebih baik kampus mengembangbiakkan mahasiswa yang suka jadi Event Organizer atau pengusaha peralatan ospek ketimbang mereka yang melihat realita dengan kesadaran kritis. Yang ada cuma bikin rektorat pusing terus! Kadang saya juga miris melihat pengabdian hanya diartikan sebagai penelitian sambil memberi bantuan tanpa mencoba benar- benar menganalisa masalah atau seminimalnya ya coba berikan solusi gitu. Tidak usah lah berpikir luas bahwa pengabdian atas nama kemanusiaan itu hanya untuk masyarakat luar kampus saja. Coba tengok lingkunganmu. Adakah dari mereka yang terancam tidak bisa kuliah karena tak punya uang? Adakah pedagang kantin kampus yang terancam digusur? Adakah Ospek yang mengajarkan seperti itu? Jika ada saya berani yang paling terdepan untuk mengapresiasi. Karena disanalah seharusnya mahasiswa berdiri.  Manusia berlabel mahasiswa itu adalah kemewahan bagi spesiesnya. Mahasiswa memiliki akses lebih dalam ilmu pengetahuan yang nantinya akan membentuk kerangka berpikir dalam memecahkan masalah. Dan sekarang tinggal pilihan kita aja mau jadi mahasiswa kaya apa, Membiarkan pembodohan dan perbudakan ini berlanjut atau hanya diam saja?

Mampus kau dikoyak-koyak ospek !

MATINYA KAMPUS

Mendambakan Tempat belajar nyaman adalah impian manusia yang memiliki semangat untuk melepaskan diri dari belenggu pemikiran setelah, berabad-abad lamanya manusia direndahkan dan dihinakan oleh suatu legitimasi atas tafsir kebenaran tunggal raja dan agama. Dorongan lahiriah manusia sebagai homo sapiens membentuk sejarah dialektika manusia, atas keadaan yang membentuk kesadaran objektif dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat.

Perkembangan pengetahuan yang sangat pesat tersebut, merupakan buah dari perjuangan panjang masyarakat dunia dalam sederetan aksi membangun peradaban yang maju. Salah satu tempat terjadinya proses dialektika tersebut berada di kampus, tokoh dunia serta pemikiran fundamental dan eksentrik yang diperoleh dan dirumuskan dalam kampus telah mempengaruhi dinamika peradaban manusia sampai detik ini. Kampus telah hadir dengan irama yang menggetarkan hati setiap orang yang memiliki naluri revolusioner untuk ikut serta “bermetamorfosis” dalam setiap perubahan yang dihasilkan oleh kampus.
Sejarah telah menyuguhkan berbagai pengalaman Mahaguru, lewat usaha mereka mendirikan kampus sebagai tempat untuk mentransformasikan pengetahuan dan seluruh konsep tentang manusia yang “merdeka”. Merdeka dalam menentukan pemikiran, merdeka dalam melakukan tindakan dan merdeka atas dirinya sendiri dalam berfikir dan bertindak.

Kampus menjadi medan juang bagi musafir yang ingin menata hidupnya dengan pengetahuan yang akan menaikkan derajatnya kelak. Pengetahuan; teori yang  beredar di sekolah dan perguruan tinggi haruslah menjadi corong untuk memecahkan persoalan masyarakat bukan malah menjadi trouble maker atas penderitaan rakyat.Menceburkan diri ke dalam dunia pendidikan seperti menyelami lautan dalam yang tiada ujung untuk mendapatkan sekelumit pengetahuan berharga tiada tandingan. Namun pada suatu kondisi, ketika sikap hidup yang “miskin kesadaran objektif atas keadaan orang lain”, maka pengetahuan bisa berubah menjadi buah simalaka buat jiwa yang tak bersalah atau cikal bakal “revolusi” demi kesejahteraan rakyat suatu bangsa.

Matinya kampus, bukanlah sekedar metafora yang ingin mengerakkan ribuan hingga jutaan orang mengambil barisannya di jalan raya, serta meneriakkan ketidakadilan. Namun sebuah refleksi; apakah akal budi yang diberikan oleh tuhan diperuntukan merampas hak orang lain?. Yah !, pertanyaan sederhana yang akan diabaikan oleh mereka dengan label “Mahaguru” dalam dunia kampus penuh pergulatan kotor para pemikir yang “sok idealis” seolah ingin memajukan peradaban.

Kenapa hal tersebut perlu diutarakan dalam tulisan ini karena sudah cukup banyak “penghuni kampus” dengan pengetahuan yang menyebabkan rakyat semakin melarat. Program SDGs (suistanble development goals); pembangungan berkelanjutan di masa pemerintahan Jokowi-JK, telah melakukan kerjasama dengan berbagai kampus unggulan Indonesia untuk melakukan pembangunan infrasturktur tanpa melihat secara objektif kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan tersebut. Sederhananya beberapa kasus yang hari ini dapat kita lihat tentang rencana pembangunan yang ditopang pengetahuan mapan dan digunakan untuk merampas kesejahteraan rakyat.

Reklamasi pesisir Makassar, reklamasi teluk benoa bali, pengerukan gunung kendeng untuk dijadikan sumber semen dan beberapa lagi program pembangunan yang juga secara tegas mendapat penolakan masyarakat karena pembangunan tersebut dianggap warga tidak memberikan kesejahteraan untuk mereka kelak. Ironinya untuk menyatakan bahwa pembangunan CPI (central pointIndonesia) dipesisir Makassar layak dan tidak merusak lingkungan, maka diutuslah beberapa tenaga ahli lingkungan dari Universitas Hasanudin untuk melakukan riset untuk memperkuat izin bahwa reklamasi pesisir Makassar bisadilakukan.

Penolakan warga terhadap tindakan kampus yang menjadikan pengetahuan suatu hal yang orientasi profit membuat kesal banyak warga diberbagai daerah di Indonesia. Seperti yang kita saksikan di beberapa media berita, dimana masyarakat sekitar gunung kendeng yang  melakukan aksi di depan Universitas Gajah Mada karena sikap kampus yang telah melegitimasi upaya dari pabrik semen tiga roda untuk melakukan pengerukan secara leluasa di daerah pemukiman warga gunung kendeng. Tak hanya itu, kampus ternama lainnya yakni Institut Pertanian Bogor  Juga telah mendatangkan kekecewaan bagi  warga, terlihat dari  puluhan warga yang bekerja sebagai tukang ojek melakukan aksi demonstrasi sebagai respon atas  kebijkan kampus yang melarang adanya kegiatan ojek di dalam kampus. Hal ini sangat membuat kesal para warga, khususnya para ojek yang menyatakan bahwa sumber penghasilan mereka didapatkan dari ojek di dalam kampus.

Matinya kampus tidak seutuhnya disebabakan “kecelakaan berfikir” oleh pimpinan kampus semata  namun di kalangan mahasiswa juga demikian. Tradisi ilmiah dalam kampus secara signifikan mengalami kemunduran, serta mempengaruhi pergerakan beberapa tahun terakhir ini. Mahasiswa yang seharusnya punya sikap “politik” terhadap perubahan sosial dengan “pisau analisis yang tajam” dan, secara objektif bisa menyimpulkan langkah baru yang dapat menginspirasi kembali massifnya gerakan yang akan datang untuk menghancurkan 3 musuh rakyat yaitu Imperialisme , feodalisme, dan kapitalisme birokrat.

Kekeliruan dalam mengenal siapa musuh rakyat di dalam kampus berefek kepada banyaknya permusuhan di kalangan mahasiswa. Hal ini bersumber dari berbagai permasalahan yang dianggap sepele, seperti perbedaan ideologi organisasi, dan berbeda suku. Namun tiga tahun terakhir ini, krisis identitas benar-benar melanda mahasiswa. Pertarungan gagasan dan ide diabaikan dan watak barbar telah menjadi ciri khas bagi mahasiswa diajang demokrasi. Keadaan tersebut sangat menguntungkan bagi kelompok “liberal” dari kalangan mahasiswa untuk berafiliasi bersama kapitalis birokrat kampus secara perlahan-lahan, dengan cara menempatkan “kaki tangan birokrasi di kursi-kursi vital” organisasi kemahasiswaan.

Kurangnya evaluasi mengakibatkan tidak adanya otokritik terhadap langkah yang diambil oleh mahasiswa. Mengandalkan kemampuan retorika semata adalah hal konyol tanpa data dan fakta serta win-win solution untuk menaikkan lagi derajat mahasiswa dalam tatanan sosial masyarakat yang lebih luas.       

Pengetahuan menjadi ancaman bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.Masihkah pantas kampus dijadikan tempat untuk mendapatkan pengetahuan yang akan diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat di Negara ini? Dunia kampus juga telah menjadi donimasi para pemikir (sofis), yang hanya bisa berceloteh menyatakan bahwa “kita sedang sekarat” namun, tak memiliki satu pun aksi yang lengkap dengan gagasan dinamis untuk merubah kampus menjadi benteng pertahanan rakyat. 

Seandainya Hatta Ada

Andaikata Mohammad Hatta masih ada, hari kemerdekaan 17 Agustus ini,  dirinya mungkin saja didaulat untuk berkisah seputar kejadian bersejarah tersebut. Lebih penasaran lagi, apa kiranya nasehat sosok proklamator itu untuk kehidupan kini?
Paling tidak, bagi siapapun yang telah membaca Memoar Hatta, kehidupannya kontras dengan kehidupan enak para elit dewasa ini. Karena itu, bagaimana kalau si Bung itu diminta saja mengomeli para elit.
Ya, politik hari ini terlalu gaduh. Sialnya, banyak urusan rakyat kecil jadi terlantar. Biarlah Hatta menjawil telinga para elit. Sembari berkata-kata, “Hei, hidup kalian sudah terlalu mewah!”
Hari ini, tak satupun elit politik-- yang pastinya mengepalai gerbong partai-- adalah orang-orang pergerakan dengan hidup penuh keterbatasan. Hatta, meski tergolong dari keluarga saudagar-agamawan,  kehidupannya sederhana.
Elit yang sekarang berada di panggung petarungan politik nasional merupakan keturunan, anak-cucu, para kemenakan bekas petinggi, pejabat, ataupun konglomerat. Untuk sekadar sekolah ke luar negeri, mereka tak perlu repot-repot memburu beasiswa atau utang sana-sini. Mereka sudah diberkati dengan pendana yang pasti.
Hingga menjabat Wakil Presiden RI Pertama, Hatta masih meninggalkan utang sekolah f6.000 (gulden). Sekelas wapres mencicil pokok utang dan bunga. Utang itu baru terlunasi seluruhnya pada 1950.
Begitupun Sjahrir, Tan Malaka, atau Semaun sekalipun. Mereka harus pontang-panting menutup utang akibat ongkos studi ataupun hidup sebagai pelarian/buangan. Maklum, dunia pergerakan bukan “tiket” hidup gratis, para tokoh tersebut harus tetap bekerja dan memikirkan urusan dompet.
Cobalah lihat sekarang. Elit mana yang nasibnya mengenaskan serupa mereka. Prabowo, Bakrie, JK, Harytanoe, SBY, Megawati, atau Jokowi? Jawabnya tak satupun.
Tan Malaka, hingga kembali ke Tanah Air kali pertama setelah studi di Belanda pada 1919, dirinya harus bekerja mengajar di perkebunan Deli, Sumatra Utara. Hasil kerja itu untuk menutup utang kepada sang guru Horensma dan Engku Fonds di kampung halaman.
Lebih lucu lagi, para tokoh itu tak menjadikan kedudukan--untuk yang sempat-- sebagai garansi pengganti utang pribadi. Ehm, kalau para anggota dewan yang terhormat generasi sekarang, para pucuk pimpinan partai, hingga para pejabat di daerah, mungkin mengejar kekuasaan untuk tidak saja melunasi utang, peluang bisnis dan profit pun disabet.
Tak percaya? Bolehlah menjembreng sekian banyak kasus dari sayap bisnis para penguasa itu yang pada akhirnya dibebankan ke negara lewat APBN. Lapindo salah satunya saja, atau mungkin nanti utang Harytanoe. Toh, diam-diam banyak yang menyambi sebagi pelayan mesin uang dan aset partikelir milik pengusaha yang mendomplengi anggaran ataupun program negara.
Kontras dengan Hatta. Terbukti dengan mencicil utang hingga selang beberapa tahun menjabat orang nomor dua di republik ini, gaji Hatta mungkin minim pada waktu itu. Sederhananya tak sebesar gaji ataupun tunjangan pensiunan jenderal seperti Prabowo yang mampu membangun kediaman tak ubahnya istana di Hambalang, atau SBY di Cikeas sana.
Kebiasaan
Kebiasaan atau hobi Hatta mengoleksi buku. Bahkan saat dibuang ke Boven Digul, terdapat belasan peti berisi buku bacaan yang ikut diboyong. Selain kutu buku, kebiasaan Hatta yang patut dicatut bagi para elit kini, adalah taat asas, terutama perihal waktu.
Kalau ada lomba kehadiran tepat waktu, Hatta di antara kawan pergerakan lainnya selalu nomor satu. Untuk urusan membagi waktu dan ketertiban hidup, duet maut Soekarno itu telah terbiasa sejak belia.
Tiap hari, Hatta hampir selalu menaati jadwal harian yang dibuat. Mulai dari jam bangun pagi, sholat, lari pagi, belajar, kuliah, hingga kumpul rapat dan diskusi. Pada detik jelang proklamasi sekalipun Hatta tak menginap di rumah Soekarno, saat waktu yang dijanjikan berkumpul pukul tujuh kurang lima menit, dirinya telah muncul.
Dari satu pelajaran dagang, Hatta berkesempatan dan lulus memuaskan dalam studi lain, hukum internasional dan ekonomi politik. Berlembar karangan pun dibuat untuk koran Neratja di Batavia. Berjilid-jilid Daulat Rakyat, media milik PNI, dibesut Hatta.
Dari sana tak ada yang sia-sia. Konsepsi demokrasi pancasila, demokrasi ekonomi dalam wujud koperasi, merupakan buah pikiran Hatta yang dapat  memandu jalan republik muda.
Kalau untuk elit masa kini, Hatta mungkin berucap “Kalian itu sontoloyo. Apa yang harus dikerjakan, ditinggalkan. Apa yang bukan urusan, kalian recoki!”
Kerja para elit sekadar lobi-lobi politik, main golf. Memikirkan nasib bangsa? Serahkan saja pada tim ahli yang juga mendapat gaji negara.
Tim ahli inilah yang menyedot banyak biaya dan anggaran. Bahkan sekelas riset-riset kementerian, boleh dicek, banyak digarap para vendor. Atau malah untuk lembar akademik dikaji oleh lembaga think tank dari luar yang mengongkosi pagelaran dagelan politik.
Tak pelak, kehidupan politik tak lagi substansial, terasa gersang karena saking banyaknya debat kusir di televisi atau saling serang di media sosial. Untuk sekadar “sama” dengan rakyat yang dianggap mereka wakili, para elit itu susah payah bersandiwara naik becak, pokoknya memasang tampang susah.
Mereka minim imaji, cenderung menghindari polemik yang konseptual. Satu-satunya bakat yaitu mengumbar kenyinyiran. Tak perlu menelanjangi bukti kemampuan para elit yang hanya bisa memamerkan kenyinyiran; mulai dari SBY, Prabowo, Jokowi, JK, Mega, hingga Amien Rais.
Dulu, kehidupan antar insan gerakan tak begini. Hatta versus Soekarno, Tan Malaka versus Soekarno-Hatta, Sjahrir versus Soekarno, atau Semaun-Darsono versus Agus Salim. Semuanya berbalas melalui kolom artikel yang panjang-panjang.
Koran Persatuan Indonesia pernah menyerang pendirian Hatta terkait undangan menjadi calon wakil majelis rendah di Belanda. Hatta, lewat Daulat Rakyat pun menangkis dan menyerang balik Soekarno-Partindo.
Keduanya jelas terlihat mengadu konsep terkait subjek politik non koperatif terhadap Kolonial Belanda. Kedua kubu berlandaskan argumentasi yang kuat. Khusus polemik tersebut, keduanya memberikan acuan dan paradigma politik non-kooperatif.
Dari polemik, publik mendapat wawasan baru terkait garis politik, pengetahuan sejarah, serta paradigma yang dibangun kedua kubu. Tentu, tidak seperti sekarang.
Dari ragam sosial media yang tersedia, para elit hanya bisa menelorkan sumpah serapah dan saling nyinyir. Sialnya, mereka-mereka itulah yang dijadikan kiblat bagi kehidupan politik seluruh lapisan masyarakat. Apa boleh buat, Hatta dan generasinya telah tiada.
(Disarikan dari Memoar Hatta)

ANTONIO GRAMSCI, SEPOTONG KRITIK

Gramsci melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah satu-satunya keniscayaan prasyarat revolusi, melainkan hanya salah satu kondisi dan terdapat kompleksitas lain termasuk masalah kultural, intelektual, dan moral yang perlu dianalisis. Berbeda dengan pandangan Marx yang hanya memandang sekedar sebagai ranah ekonomis, tetapi sebagai ajang kontestasi dan perjuangan memenangkan hegemoni. Gramsci mengartikan bahwa banyak faktor-faktor lainnya dalam pembentukan kelas-kelas yang terjadi di dalam masyarakat, sebagai contoh misalnya selain kelas yang dibedakan dari sudut pandang ekonomi yaitu dalam masalah kultural, misal adanya perbedaan kebudayaan, agama, ataupun kebiasaan antara daerah yang satu dengan lainnya, hal ini tentu saja sangat rentan dalam terciptanya konflik. Pendapat Gramsci ini juga dikuatkan oleh pemikiran Georg Lukacs yang mengingatkan kita pada gerak dan perhitungan dalam matematika dapat memiliki kemungkinan irasional. Sehingga kita tidak dapat bergantung hanya pada kemungkinan yang positivistik semata. Dibandingkan pemikiran Marx, apa yang diutarakan oleh Gramsci merupakan suatu jawaban yang multidimensi.

Kaum borjuis membuat kaum proletar harus membayar mahal atas kesalahan-kesalahan mereka, kelemahan yang ditunjukkan mereka karena rasa takut. Kaum Borjuis sendiri tidak pernah terpecah, tidak pernah menunjukkan  rasa takut dalam menyerang, dalam bereaksi terhadap serangan-serangan yang dilancarkan terhadap dirinya. Kaum borjuis menurut Gramsci memiliki kekuatan yang memadai untuk memberikan sebuah solusi terhadap kelas buruh. Kelas buruh tidak dapat sendiri, mereka tidak tahu bagaimana merebut kekuasaan dan menggulingkan musuh-musuhnya tanpa pendidikan atau pengalaman mereka. Tidak seperti kaum borjuis yang memiliki kesempatan untuk menyadari, memiliki waktu untuk menganalisa dan merancang gerakan bersama. Katakanlah di Indonesia, kaum borjuis yang sering diumpamakan sebagai pemilik modal ataupun pemilik perusahaan tidak takut akan serangan yang dilancarkan oleh gerakan dari para kaum buruh ataupun masyarakat miskin ataupun kaum proletar, penguasa dapat dengan mudah memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang terjadi, mereka dapat mengatur hukum dengan uang mereka dan bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk memenangkan suatu perkara.

Gramsci memperhitungkan faktor afeksitas, relasi spiritual, retorik dan aturan sosial yang dinegosiasikan bahkan dalam konflik kepentingan dan ideologi. Dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi diperlukan adanya negosiasi antara pihak yang berkonflik, agar permasalah dapat diselesaikan. Gramsci meletakkan kekuasaan (power) tidak sekedar di dalam superstruktur bernama negara melainkan menyediakan sebuah lahan kontestasi kekuatan dalam pemilihannya akan civil society. Apa yang dapat dikritisi kembali pada pemikiran Gramsci adalah bagaimana kemudian kontestasi dapat terbentuk dalam konteks masyarakat kapitalis individualistis yang pada masa ini.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html