Krisis-isme Pengetahuan & Pergerakan Mahasiswa
Gaya Hidup Konsumerisme
Mahasiswa Mengikuti Zaman atau Zaman Mengikuti Mahasiswa
![]() |
| Oleh Bung Anas |
Seiring berkembangnya zaman maka segala keperluan dan kebutuhan sudah dipenuhi oleh zaman; entah itu berawal dari yang tiada-ada-mengadakan. Zaman lebih cenderung menciptakan sesuatu hal yang baru, Sesuatu yang tak disangka-sangka, tak pernah dipertanyakan, dan tak pernah dibayangkan akan kehadirannya. Maka segala bentuk kebutuhan seseorang serba instan; maka tidak alasan untuk kita tidak belajar dari sesuatu yang diciptakan atau diberikan oleh zaman tersebut.
Pada mulanya Penemuan alat tekhnologi itu merupakan salah satu bentuk perkembangan zaman. Zaman yang dimana dulu cara produksi manusia itu masih primitif hingga kini sudah beralih kepada cara produksi modern yang sesuai dengan keperluan dan kebutuhan umat manusia pada umumnya.
Zaman kontemporer ini segalanya sudah serba digital dan serba canggih. Kini mahasiswa pun dapat menikmati dan merasakan kecanggihan alat tekhnologi tersebut. Alat tekhnologi kini justru dijadikan sebagai kebutuhan hidup bukan lagi sekedar keperluan hidup. Sehingga mahasiswa pun justru terjebak dalam mengikuti perkembangan zaman dan bukan sebaliknya; karna mereka justru cenderung mengkonsumsi ketimbang memproduksi. Akhirnya mahasiswa diciptakan oleh zaman bukan sebaliknya.
Hadirnya tekhnologi merupakan fenomenal yang paling dahsyat dikalangan mahasiswa; karna dengan memakai tekhnolgi, dengan mengikuti perkembangan zaman, mereka tidak akan diklaim sebagai mahasiswa yang ketertinggalan zaman, mereka justru akan meng-Akukan diri sebagai mahasiswa yang modern. Lewat tekhnolgi mereka justru membanggakan diri bahwa "ohh ini baru mahasiswa modern". Bangga dari hasil produksi orang lain apakah pantas untuk dibanggakan? Sungguh sesuatu yang sangat lucu untuk dibangga-banggakan.
Jika zaman yang mengikuti mahasiswa otomatis tidak ada batasan bagi mahasiswa untuk melakukan resistensi dan justru zaman akan mengikuti kemajuan pergerakan mahasiswa dengan geleng-geleng. Mahasiswa akan lebih menyatakan sikap untuk melawan perkembangan dan tantangan zaman dengan menggunakan tekhnologi sebagai alat propagandis sekaligus sebagai alat untuk menghapus budaya-budaya pembodohan dikalangan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya; Tapi jika mahasiswa yang mengikuti zaman maka kemungkinan akan melahirkan generasi hedon, mereka akan berlagak seperti politisi sewalaulun sebenarnya mereka sudah dipolitiki, mereka akan bersikap acuh tak acuh terhadap kondisi yang sedang dihadapinya; Dan pada akhirnya mereka akan0„2 menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa dalam kerancuan dalam cara berpikir yang terkungkung dalam budaya hedonisme.
Iya lewat tekhnologi dapat mempermudah tugas kuliah, bisa vidio call, internetan, karaokean, bigo live, smulean dan lain sebagainya. Apa mereka memiliki otak untuk berpikir? Apa mereka tidah sadar bahwa tekhnologi bisa menumpulkan kesadarannya? Apa mereka rela otaknya dikendalikan dan dibentuk oleh tekhnologi? Percaya diri mahasiswa sudah dimandatkan kepada tekhnologi karna bagi mereka tekhnologi adalah bagian dari dirinya dan mereka tidak bisa hidup tanpanya. Apa mereka menganggap ini adalah sebuah lelucon kemahasiswaan? Mereka tidak ada satupun yang sadar bahwa mereka telah kehilangan identitasnya sebagai kaum intelektual dan kaum terpelajar.
Segala bentuk perkembangan zaman itu ditandai dengan hadirnya alat tekhnologi (formulasi ) baru. Zaman memang selalu menciptakan dan menghadirkan berbagai macam produk dengan secara cepat dan praktis yang akhirnya membuat mahasiswa atau masyarakat pada umumnya terjebak dalam pemahaman konsumtif tingkat tinggi (KTT). Pelipatan ruang yang dilakukan oleh tekhnologi membuat sebagian mahasiswa terhipnotis dan tertidur dari mimpi panjangnya, mereka tidak sadar bahwa polarisasi kehidupannya itu serba dikendalikan dan dikontrol oleh alat tekhnologi. Sehingga yang menidurkan dan membangunkan mahasiswa kini adalah tekhnologi. "Bukanlah tekhnologi yang menciptakan perubahan tapi mahasiswalah yang seharusnya menciptakan perubahan".
Mei 1998 (ORBA) merupakan pelajaran bagi mahasiswa, pemuda, dan rakyat indonesia; bahwa peristiwa militerisme merupakan fenomenil yang paling represif sepanjang sejarah. Lewat sistem otoritarianisme yang dijalankan oleh rezim orde baru itu selama TIGA PULUH DUA TAHUN BERKUASA menciptakan penyelewengan hukum, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Lewat konsep developmentalisme (REPELITA)nya itu masyarakat mengatakan bahwa "SOEHARTO ADALAH BAPAK PEMBANGUNAN". Pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, perampasan, pembungkaman, itu semua merupakan suatu peristiwa yang harus diselesaikan dan segera dituntaskan oleh gerakan perlawanan mahasiswa. Apakah kita dibungkam selama 32 tahun itu tidak membuat mahasiswa dewasa ini sadar? Apakah kita dipreteli selama 32 tahun itu tidak membangkitkan perlawanan mahasiswa? Tentu mahasiswa sudah seharusnya lebih jeli menganalisis dan mempelajari peristiwa 98 itu, dan menyegerakan diri untuk melakukan pembebasan.
Gerakan mahasiswa harus berani melawan tantangan zaman. Mahasiswa harus menciptakan zamannya sendiri dalam proses penyadaran, perlawanan, dan pembebasan oleh kelas tertindas, untuk kelas tertindas, dan dalam konteks ketertindasan masing-masing. "Gengsi bukanlah harga diri mahasiswa". Esensi mahasiswa harus segera dibuktikan dalam bentuk aksi nyata, aksi murni tanpa ada tunggangan, kepentingan, selain kepentingan seluruh rakyat indonesia.
Ketika zaman lewat tekhnologi bisa melakukan pelipatan ruang (cyberspace) maka mahasiswa harus mampu membuka ruang produktifitasnya dan bukan malah menutup ruang; karna menutup ruang merupakan salah satu bentuk budaya monotheisme. Ruang-ruang publik harus dijadikan sebagai obrolan ideologis bukan digunakan sebagai ruang privat. Ketika ruang publik itu tidak mampu diterjemahkan dalam wujud ideolog maka hanya akan melahirkan ruang publik yang di privatisasikan. Inilah yang disebut sebagai generasi fatalis atau manusia satu dimensi (one dimensional man) seperti yang dikatakan oleh marcuse.
Pelarangan berlembaga, pembatasan semester, penyuntilan berekspresi, pembatasan ruang aktivitas, ancaman drop out, ancaman error nilai, itu semua merupakan bentuk pembungkaman hak demokratisasi kampus. Sehingga lewat kebijakan, lewat ancaman, itu jugalah yang membuat kesadaran dan perlawanan sebagian mahasiswa sudah mulai redup. Maka mahasiswa tidak lagi berani untuk melakukan kritikan, tidak lagi berani berpendapat, tidak lagi berani beraspirasi, tidak lagi berani berpartisipasi; karna memang mereka justru lebih cenderung takut akan nilainya error, takut di drop out, takut dengan segala macam ancaman yang diberikan oleh borokrasi kampus. Kamu mahasiswa yang hanya mengejar nilai? Kamu mahasiswa nilai? Kamu pelopor atau pengekor? Ancaman-ancaman itu hanyalah strategi birokrasi untuk bagaimana meniadakan perlawanan yang dilakukan oleh mahasiswa; karna yang mereka (dosen) hanya membawa arogansi akademik, arogansi kampus untuk melanggengkan status quo. Ingat kamu telah musyrik ketika menjadikan dosen sebagai tuhan kedua diruang lingkup pendidikan. "Dosen bukanlah dewa, dan mahasiswa bukan kerbau" (soe hok gie). Mahasiswa layaknya bermulut tapi tak bersuara.
Baca buku jauh lebih berguna ketimbang smartphone, diskusi jauh lebih produktif ketimbang nge-gosip, orasi politik jauh lebih tersadarkan ketimbang karaokean, integritas sosial jauh lebih manusiawi ketimbang bazar, pernyataan sikap jauh lebih kritis ketimbang memilih bungkam, membangun kelompok belajar jauh lebih ideologis ketimbang sentimentil, dan melawan jauh lebih revolusioner.
Ketika mahasiswa mempertanyakan tentang kondisi realitas sosial maka itu bukanlah tindakan (praktek), tapi itu hanyalah gosip belaka. Mahasiswa harus bangkit melawan ketika melihat penyelewengan, ketidakadilan, dan penindasan; jangan merasa bangga, merasa jumawa ketika menjadi pengurus DEMA, pengurus HMJ, karna itu semua hanya akan membuat mahasiswa menjadi penindas baru; karna diruang-ruang seperti itulah dimana politik praktis dilakukan. Sehingga efek dominonya akan menjalar dalam diri sang junior.
Mahasiswa sebagai pelaku perubahan (agent of change) harus lebih jeli untuk menyikapi ketimpangan yang terjadi diruang lingkup pendidikan. Hak protes dan soft protes harus dipertumbuhkan terus untuk menjewantahkan suara-suara badut kolonial itu. Tidak perlu takut nilai, tidak perlu takut drop out, karna sesudah setelah kamu memakai toga maka kamu akan menjadi sarjana pengangguran. Kalau mulut tidak berani untuk bicara, maka biarkan pena berbicara. Maka untuk menghapus budaya pembodohan yang dilakukan oleh si badut kolonial itu, mari sekarang bangkit melawan dengan mendidik mahasiswa dengan pergerakan dan mendidik birokrasi dengan perlawanan.
"Menolak tunduk, Menuntut tanggung jawab".
Nahkoda Baru Fokmad
Jumat(16/02/2018). Anas Fardillah menjadi nakhoda baru FOKMAD setelah memperoleh dukungan suara terbanyak, mengalahkan kandidat kedua Ahmad Kadafi Faisal yang hanya mendapat suara sedikit.
Bersatu Kita Bersama
Kenang-kenangan Negeri Agraris
![]() |
| Oleh : Luqman Hakim* |
Di awal tahun 2018 ini, masyarakat digerahkan dengan naiknya harga beras. Penyebab dari kenaikan harga beras pun beragam; mulai dari cuaca buruk hingga alasan klasik soal lambatnya proses distribusi dari petani ke pasar. Namun, Kementerian pertanian berulang kali memberi statement bahwa stok beras berada dalam keadaan surplus. Statement ini ditegur oleh Ombudsman yang menyatakan bahwa data yang dikumpulkan oleh Kementerian tidak akurat karena hanya didasarkan pada perkiraan luas panen dan produksi gabah tanpa disertai jumlah dan sebaran stok beras secara riil.
Kenaikan harga beras coba ditanggulangi dengan upaya pemerintah mengimpor sekitar 500.000 ton beras. Tentu saja rencana ini banyak menjadi perdebatan, terutama oleh kelompok oposisi pemerintah. Banyak yang menganggap rencana impor beras adalah sebuah blunder dan bukti kegagalan pemerintah dalam mengentaskan masalah ketahanan pangan nasional. Meskipun mereka yang mengkritik tidak juga memberikan solusi yang konkret untuk mengentaskan masalah harga beras yang melonjak.
Polemik kenaikan harga beras lantas menjadi isu yang menarik bagi kompetisi politik elit. Setelah urusan Pilkada, dan mahar politik Calon Kepala Daerah mulai surut, kenaikan harga beras adalah wacana yang siap menenggelamkan masyarakat dalam perang opini antara pemerintah dengan kelompok oposisi.
Sebagai Negeri yang pernah mendaku diri sebagai Negeri Agraris, impor beras jelas hal yang tidak rasional. Dalam setiap janji pemerintah, urusan produksi beras dan peningkatan kesejahteraan petani adalah barang kampanye yang selalu seksi. Janji swasembada pangan bukan hal yang baru digaungkan pemerintahan Jokowi, tapi sudah sejak dulu hanya menjadi janji. Pada akhirnya, Negeri Agraris hanya kenang-kenangan dari kejayaan masa lalu. Kita bisa lihat beberapa orang mungkin akan kembali mempopulerkan jargon, "enak jamanku toh?", Sebuah statement dengan diikuti oleh foto senyum dari seorang Jenderal diktator yang pernah dianggap berhasil melaksanakan swasembada beras.
Solusi impor beras untuk menekan harga beras yang naik adalah sesuatu hal yang terus berulang. Ketahanan pangan pada akhirnya hanya menjadi sebuah kebijakan manis setiap pemimpin negara kita dalam setiap kampanye. Tidak pernah ada sebuah konsep yang jelas dan matang tentang bagaimana meningkatkan produksi beras nasional. Sehingga ketika harga beras naik, menurunnya produktifitas panen beras--entah akibat cuaca atau hama--menjadi satu-satunya alasan yang paling masuk akal yang bisa disampaikan pemerintah.
Lagipula, pada kenyataannya pemerintah memang tak serius meningkatkan produktifitas di bidang pertanian. Pemerintah Indonesia hanya fokus pada pembangunan infrastruktur yang katanya akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Itu pun tidak pernah ada data yang riil tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap peningkatan perekonomian. Dan apa pula untungnya bagi masyarakat membaca statistik pertumbuhan ekonomi jika nyatanya harga kebutuhan pokok mereka mahal?
Pembangunan infrastruktur yang dampaknya hanya dibuktikan dengan deretan angka-angka, nyatanya telah banyak merebut tanah-tanah masyarakat yang digunakan untuk menanam kebutuhan pokok. Pembangunan bandara di Kulonprogo semisal, telah menggusur ribuan hektar lahan pertanian. Pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka yang juga menggusur ribuan hektar lahan pertanian. Praktis tiap tahun luas lahan pertanian selalu berkurang, khususnya di pulau Jawa. Penyebabnya adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan properti, lahan pabrik/industri atau lahan pembangunan transportasi. Kita bisa melihatnya di sekitar kita, sawah yang berubah jadi perumahan, jalan tol, pabrik bandara. Lalu mana mungkin jumlah lahan pertanian yang berkurang mampu menghasilkan produksi yang meningkat?
Pada akhirnya, janji swasembada pangan, janji menjaga ketahanan pangan merupakan janji yang tidak sesuai dengan realisasinya di lapangan. Reforma agraria hanya sebuah poin yang tercantum dalam nawacita, yang kalah menarik daripada usaha pembangunan infrastruktur. Suruh saja masyarakat makan beton, makan angka-angka statistik, atau makan uang yang dihasilkan infrastruktur. Yang mau makan beras, tunggu impor. Masih percaya Indonesia negeri agraris? Kayanya cuma kenangan atau susah move on dipimpin sama jenderal?
*Penulis merupakan Ketua FPPI Pimkot Jakarta
Kepentingan & Dominasi
![]() |
| Ditulis oleh: Anas Fardillah* |
Antara pasar, negara, masyarakat, masing-masing memiliki kepentingan tersendiri. Kepentingan pasar terhadap negara adalah kebijakan (regulasi) dan pendapatan (keuangan) negara. Kepentingan negara terhadap pasar adalah produk. Kepentingan masyarakat terhadap negara adalah ekonomi (kesejahteraan). Apa kepentingan pasar terhadap masyarakat? Apa kepentingan negara terhadap masyarakat? Dan apa kepentingan masyarakat terhadap pasar?
Pasar menurutnya adam smith adalah tangan-tangan yang tak terlihat (invisible hand). Sehingga kondisi negara dan masyarakat hari ini sudah dikontrol oleh pasar; yang seharusnya negara-lah yang mengontrol pasar dan masyarakat. Dalam kajian marxisme revisionisme bahwa mekanisme dalam suatu negara harus bersifat objektif; artinya negara harus dijadikan sebagai kehendak umum. Akhirnya yang mengontrol pasar dan masyarakat adalah negara. Akan tetapi kaum revisionis menekankan pada tatanan parlementer; dimana yang mengatur bagian parlemen atau oknum yang berada didalamnya adalah proletar yang dalam hal ini pun akhirnya lenin menggagas yang namanya diktator proletar (sendem-CC).Akhirnya kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri (karl marx).
Hancurnya kapitalisme ditandai dengan karna adanya kontradiksi internal; dimana kacamata semiotika (yasraf amir pilliang) memandang bahwa "musuhnya kaum sosialisme bukanlah kapitalisme tapi imperialisme, karna kapitalisme justru digunakan sebagai kemajuan sosialisme itu sendiri". Negara indonesia merupakan target (korban) daripada borjuis nasional dan internasional. Dilihat dari eksperimen sejarah bahwa yang mendasari kolonialisme masuk menjajah di indonesia adalah ditandai karna adanya pelayaran yang dilakukan oleh facto de gama (marcopolo), dimana hasil dari pelayaran tersebut ia melihat dua pulau (padi-emas). Sampai kepada abad 21 ini maka imdonesia sudah di kuasai dan di dominasi oleh investor asing (pasar). Akhirnya posisi negara akan mengarah kepada "liberalisasi". Negara indonesia (liberalisasi) pun kini sudah di swastanisasikan; contoh kasus BUMN dijual ke swasta pada era rezim (Jokowi-JK).Salah satu target daripada negara industri internasional (kapitalis) adalah negara dunia ketiga (indonesia) yang masih berkembang (lenin/imperialisme). Lenin sebagai organisatoris revolusioner di rusia (tsar) menggambarkan tentang sistem atau srategi yang dilakukan oleh imperialisme. Imperialisme secara definitif menurut lenin adalah kapitalisme monopol.
Dimana kapitalisme monopol (imperialisme) ini memiliki cabang-cabang, cara, strategi, untuk mensirkulasikan modalnya. Negara indonesia yang dikenal sebagai negara terkaya di dunia akan kekayaan sumber daya alam (SDA)nya merupakan target negara maju (industri). Maka dari itu janganlah heran yang menguasai negara sekarang adalah pasar (investor). Karna memang negara sendiri belum mampu menciptakan formulasi baru terkait penciptaan alat produksi. Sementara bicara sumber daya manusia (SDM)nya indonesia sudahlah cukup untuk mengelola dan mengatur hasil kekayaan alamnya sendiri lewat produksi; dengan begitu masyarakat tidak lagi tergantung atau mengikut dengan hasil ciptaan (produk) pihak asing.Tugasnya negara adalah memberikan corak produksi terhadap masyarakat agar masyarakat bisa lebih produktif dalam mengelola hasil produksinya melalui sarana produksi (tanah) yang dimilikinya. Jika negara (pemerintah) hari ini memberikan corak produksi kepada masyarakat maka negara bisa menjadi negara welvert state (kesejahteraan) yaitu kemandirian secara ekonomi, politik, budaya, agama, pendidikan, dan lain sebagainya. Akhirnya kapitalisme internasional (global) akan mengalami over produksi yang pada konteksnya dimana daya beli masyarakat sudah melemah.
Refleksi Calon Wisudawan
KEDAULATAN YANG TERGADAIKAN
"Dominasi Asing Mengancam Kedaulatan Bangsa Indonesia"
Dominasi Asing kian merajalela seluruh sektor sudah di ambil alih oleh swasta, kita di tuntut untuk bergerak maju namun keadaan membuat kita semakin terbelakang. Hal apa yang membuat demikian adanya ? Pertanyaan besar bagi kita semua.
Periode ke periode sistem pemerintahan kita menawarkan solusi yang sistematis menangani kesenjangan sosial, namun di satu sisi periode tersebut malah menciptkan bentuk kejehatan yang tersistem, sebut saja Korupsi, Kolusi dan nepotisme (KKN), dalam situasi seperti ini negara telah kehilangan kendali dalam mengontrol serta mengawasi kelompok yg melakukan kejehatan tersebut yang di pandang sangat merugikan negara. ironinya lagi bahwa yang melakukan kejehatan yang menyensarakan rakyat tersebut di dominasi oleh mereka yang di percaya oleh rakyat untuk di jadikan sebagai perwakilan dan pemimpin untuk rakyat itu sendiri, baik dari lembaga legislatif maupun eksekutif.
Akhir -akhir ini rakyat indonesia di perhadapkan dengan masalah yang begitu besar yang berkemungkinan akan mengancam kedaulatan bangsa indonesia. masalah yang menggerogoti bangsa indonesia saat ini ialah banyaknya dan masifnya Dominasi asing di berbagai sektor, mulai dari sektor kelautan, pertanian sampai pada sektor industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti air, tanah , minyak dan pangan telah di kuasai oleh Asing maupun swasta. Negara berpandangan bahwa dengan di serahkannya sebagian besar aset negara untuk di kelola oleh swasta maupin asing dapat memperbaiki ekonomi indonesia. sebagian rakyat indonesia sadar akan bahaya yang akan timbul dari kebijakan pemerintah tersebut, namun banyak pula yg terbungkam mulutnya untuk meneriakan perlawanan, bibir terasa seperti terjahit dengan rapat, badan terasa tertancap seperti paku, bagaikan paku yang berdiri tegak namun tak mampu berbuat apa-apa. banyak di antara kita tak sadar bahwa penguasa memiliki cara sehingga membuat kita seperti patung, salah satu di antaranya ialah melalui cara yang membuat kesadaran kita terbungkam seperti pemberian bantuan uang maupun pendanaan kepada kita dengan melalui berbagai macam program -program seperti program indonesia sehat, Program indonesia Pintar, dan program-program lainnya yang berjenis bantuan pendanaan. modus melalui program seperti ini telah membungkam kesadaran akan ketertindasan yang sebenarnya sedang berjalan di negeri Kita , kita tidak sadar kalau uang yang telah di berikan kepada kita melalui program bagi bagi uang tersebut merupakan utang atau pinjaman yang bersumber pada asing atau lembaga donor keuangan internasional sepwrti IMF, WB, WTO, MNc, dan lembaga-lembaga donor lainnya yang tidak cukup satu lembar kertas kalaupun di catat nama nama lembaga tersebut.
Lembaga donor seperti IMF, WB, WTO, dan sejenisnya menjalankan modus operandinya dalam bentuk pemberian modal kepada negara berkembang seperti indonesia yang secara ekonomi masih lemah, dengan dalih membangun ekonomi negara berkembang. Pemberian Modal dengan pendanaan yang begitu besar tidak serta merta di berikan begitu saja, tanpa harus ada jaminan.Penggusuran, perampasan hak atas tanah rakyat, reklamasi pantai yang di dominasi oleh segelintir pemodal, swasta, maupun asing merupakan jaminan yg di berikan Negara kepada pihak asing, dan jangan heran banyak rakyat indonesia yang harus kehilangan tanah dan tempat tinggal mereka, belum lagi sistem perpolitikan dan hukum kita yang di intervensi oleh asing sehingga produk kebijakan pemerintah yang di keluarkan selalu berpihak dan menguntungkan para Pemilik Modal (borjuasi) dan tidak selalu berpihak kepada rakyat kecil.
"Hukum dan perpolitikan bangsa kita telah tergadaikan oleh penguasa yang zolim, tidak lama lagi indonesia hanya tinggal nama dan indonesia hanya tinggal kenangan."
Bangkit melawan atau hilang selamanya!
Oleh:MUKHLIS PLANO* Perbudakan "Nilai" Dalam Pendidikan
Seperti halnya yang terjadi di sebuah SD, seorang guru terbukti menerima sejumlah uang dari orangtua murid agar anaknya mendapat nilai yang tinggi saat Try Out Ujian Nasional dan juga saat Ujian Nasional, pola yang dilakukan adalah memberikan soal yang akan diujikan sehari sebelumnya. Dan orangtua murid rela merogoh kocek yang dalam demi mendapatkan hasil nilai yang sempurna.
Liga Indonesia Bercanda
Diawali liga dengan carut marut, segala regulasi dirubah dan dikeluarkan dengan seenak jidat membuat liga Indonesia kali ini sangat tak karuan ditambah lagi dengan memilih anggota militer menjadi ketua di fedarasi yang memang sialan ini.
Entah memang sudah pada dasarnya di negara ini perputaran kapitalis nya yang sangat kuat entah juga semua orang tengah dilanda gelap harta. Ya, bukti kongritnya saat federasi dari awal liga sampai akhir liga sekarang selalu panen sanksi, pun begitu perputaran uangnya selalu kuat. Dari setiap klub saja hampir merogoh uang ratusan juta rupiah untuk membayar sanksi tersebut. Hal gila kan.
Tak hanya soal menyoal tentang uang dan sanksi, sering berubahnya regulasi pun banyak menjadi bahan dagelan para supporter di Indonesia, dari peraturan MP,U22 hingga pasal pasal yang selalu di labas oleh federasi disini.
Ditambahi di penghujung liga ini dimana Bhayangkara FC diplot sebagai kampiun liga lawak,meski dari segelintir anggota pssi masih mengelak, tapi kita bisa nyaksikan bahwa memang klub tersebut bakalan menjadi juaranya + dilaga akhir mendapatkan point ghoib karena dinyatakan menang Walk Out atas Mitra Kukar. Hahaha, sungguh terbahak bahak bukan kita melihat kejadian ini.
Dan satu lagi sebagai penutup, melihat satu cuitan di twitter ada hal menarik yang menjadi bahasan saya. Dia berkata "apakah kalian sadar bahwa kita sedang di adu domba oleh pssi, dimana supporter yang sudah berdamai menjadi musuhan lagi, dan yang musuhan semakin menjadi jadi, dan kita sebagai supporter hanya dijadikan sebagai alat menutupi kebusukan mereka" begitulah kira kira cuitan akun tersebut.
Mungkin, tahun depanpun tidak akan beda jauh dengan tahun tahun sebelumnya. Dimana para mafia sialan,investor dan segalanya yang ingin merusak sepakbola di negara ini semakin hancur.
FPPI MAKASSAR PERINGATI SUMPAH PEMUDA DENGAN AKSI, INI TUNTUTANNYA!
uluan Mahasiswa yang tergabung dalam FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) Makassar telah melakukan unjuk rasa di Jl Sultan Alauddin. Depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar kemudian melanjutkan aksinya didepan Gedung DPRD Kota Makassar.
Adapun poin tuntutan kader FPPI Makassar tersebut adalah mencabut Perppu Ormas, Laksanakan Refoma Agraria, Nasionalisasi Aset Negara, Tolak APBN Pengamanan pilpres 19,2 T, Tuntaskan Pelanggaran HAM, & Stop kriminalisasi Mahasiswa sekaligus Wujudkan Demokratisasi Kampus.
Dalam penyampaian orasinya massa menuntut tegas kepada pemerintah agar mencabut dan menghapus segala bentuk kebijakan yang tidak mendukung rakyat.
Pada, Sabtu (28/10/2017) di depan Kampus I, UIN Alauddin Makassar.
Jendral Lapangan, Anas dalam orasinya meminta pemerintah untuk tunduk & patuh pada keinginan rakyat.
"Kebebasan berserikat dan berkumpul dalam rangka mengawal serta mengontrol kebijakan pemerintah dapat terhambat dikarnakan produk kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, " kata Anas.
Mampus Kau Dikoyak-Koyak Ospek!
Hal Konyol Itu Bernama Ospek !
Akhirnya kita kembali dalam semester ganjil. Selesai sudah kegembiraan liburan dan kembali juga kita bersama di hadapan dosen- dosen galak itu. Dimana tahun ajaran baru juga kembali bergulir di berbagai kampus. Tentu, hal ini gak luput dari dimulai nya melankolia dunia kuliah bagi ribuan mahasiswa yang baru saja diterima di perkuliahan ini.
Ciee, yang sekarang sudah jadi mahasiswa, bolehlah kalian berbangga. Karena sudah hampir berhasil merdeka dari sistem pendidikan yang kita tahu sangat memperbudak ini. Meski ya, naif juga jika berpikir bahwa kuliah sendiri itu tidak memperbudak. Tapi, bersyukurlah kalian tidak harus berkutat dengan seragam serta mata pelajaran yang tidak kalian sukai. Jadi, sesedikit bersyukur aja lah..
Aku sebagai mahasiswa butiran rinso yang sudah dijajah oleh tugas dan dosen selama satu tahun ini akan mulai membahas tentang sebuah ritual yang selalu diadakan kampus setiap tahun ajaran baru. Ya, ritual yang punya sebutan halus “pengenalan” agar terlihat lebih manusiawi. Permasalahannya apakah ritual tersebut masih perlu untuk dilestarikan dalam dunia kampus kita?
Akhir- akhir ini mulai banyak mahasiswa yang menggugat kampusnya sendiri dikarenakan sistem yang merugikan mahasiswa. Contoh saja adalah bagaimana bergulir sistem pembayaran UKT yang melilit leher banyak mahasiswa dikarenakan mahalnya harga yang harus dibayar untuk bisa belajar di dalam kampus. Penindasan ini tak hanya berhenti dalam bentuk UKT saja, melainkan juga lewat sebuah perubahan sistem yang dilakukan oleh pemerintah lewat kampus- kampus negerinya. Salah satunya adalah penetapan status Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH) yang sudah mulai ditetapkan di banyak kampus. Awalnya memang kebijakan- kebijakan ini terlihat baik dikarenakan akan membuat sistem pengajaran di kampus berjalan efektif. Namun, kenyataan yang terlihat malah jauh lebih menyedihkan. Pendidikan sekarang menjadi sebuah komoditas yang dijual oleh otoritas kampus untuk mencari keuntungan. Lihat saja, banyak dari mahasiswa yang mendapatkan UKT yang sangat mahal dan bahkan tidak wajar melihat kondisi keluarga mahasiswa tersebut.
Selain itu, birokrat kampus seakan tidak peduli dengan fasilitas pendidikan yang ada. Banyak gedung yang dibangun dengan kualitas seadanya, bahkan banyak juga yang terhenti pembangunannya. Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM-pun juga banyak yang kesulitan mendapatkan dana yang pantas untuk acara- acara yang mereka jalankan. Sehingga banyak dari mereka harus berusaha keras mencari dana agar acara mereka tetap lancar terlaksana. Malah, kampus yang didukung oleh regulasi komersialisasi macam PTN- BH melakukan pemborosan dan memberikan jalan masuk untuk para pemodal kedalam kampus. Tak heran jika kantin kampus serta gedung- gedung fakultas sudah ada sponsor layaknya klub bola. Mereka juga turut mencari keuntungan dari kantong para mahasiswa yang sejatinya sudah dieksploitasi oleh regulasi dan institusi kampus.
Jadi, apa hubungannya ospek dengan berbagai fenomena mahasiswa yang menuntut hak yang dikebiri oleh kampusnya sendiri?
Ospek atau yang dikenal dengan pengenalan lingkungan kampus,PBAK, atau semacamnya ini menghabiskan dana yang tidak kecil dengan sementara sarana prasarana kampus yang begitu memprihatinkan. Jelas, acara megah sekelas ospek kampus itu tidak main- main dana nya. Kita semua sadar soal itu dan malah mengaminkan hal tersebut tetap terjadi. Saya berani fair jika adek- adek(kata-kata para kandayya) bisa berpikir lebih terbuka, merdeka, dan kritis dengan diadakan nya hal konyol sebesar itu. Namun nyatanya? Contoh saja apa yang saya liat dan alami di kampus sendiri adalah bagaimana perjuangan mahasiswa seakan dilupakan. Okelah jika lagu- lagu perjuangan seperti “DARAH JUANG” atau “Buruh Tani” seringkali dikumandangkan saat acara tersebut. Ditambah pula dengan pekikan “Hidup Mahasiswa ! dan Hidup Rakyat Indonesia” yang dilakukan oleh pejabat- pejabat organisasi pemerintahan mahasiswa dengan muka penuh sangar seakan ketika memekikan jargon tersebut kemenangan revolusi sudah didepan mata. Cuman ya, maaf nih. Semua itu sebatas pemanis saja. Jadi, saya yakin ditelinga para maba hanya akan terdengar sebagai sebuah identitas manis agar keliatan keren aja. Toh juga gak menutup kemungkinan jika banyak yang merasa terpaksa ketika disuruh meneriakkan atau menyanyikan itu akibat tubuh dan pikiran yang sudah lelah setelah ceramah berbagai orang penting dan teriakan- teriakan korlap yang ga jauh beda sama Satpol PP.
Yang perlu saya soroti lagi adalah bagaimana ritual ini mengenalkan isi kampus sebagai tempat yang gitu- gitu aja. Konten yang diperkenalkan bukanlah mengenai pergerakan mahasiswa atau bagaimana perjuangan mahasiswa yang menuntut akan hak- hak mereka. Melainkan malah hanya memperkenalkan kampus tersebut dengan sederetan prestasi yang tiada habisnya. Saya menggunakan kata “hanya” karena wacana yang coba disampaikan serasa tidak komplit. Cobalah kita memperkenalkan secara seimbang antara prestasi dan pergerakan. Sembari beromong kosong ria soal jumlah medali dan penemuan, konten acara bisa bicara banyak soal kampus tersebut punya sejarah dalam berjuang bersama rakyat yang tertindas. Bisalah kawan-kawan baru kita ini diperkenalkan soal lulusan- lulusannya yang pernah berjuang atas nama melawan penindasan.. Meski terkesan romantisme belaka, bagiku sendiri ga ada salahnya untuk sedikit mengintip alimni nya buat menambah pengetahuan dan belajar soal perjuangannya dulu. Ketimbang dicekokin prestasi terus sampai mampus, memang dikira mahasiswa itu tujuan nya jadi buruh penghasil prestasi untuk kampusnya?
Lalu kita kembali pada hal yang sering kita saksikan fenomena senior-junior. Disini yang senior merasa bahwa dia adalah pahlawan kesiangan yang tahu akan segala hal mengenai dunia kampus dan mungkin ialah yang paling berhak dalam memberikan wejangan dan cerita nabi- nabi kepada dinda-dinda nya sambil mencoba menjalin romantisme. Lalu dalam sistem hirarki pendidikan kita yang feodalistik ini, mahasiswa baru dianggap seperti barang atau komoditas yang perlu dipoles lagi agar lebih kece di kampus nya. Dengan simbolisasi pakaian hitam putih yang gak jelas apalagi sampai ngurus- ngurus masalah rambut. Mereka ini diposisikan sebagai manusia yang tidak mengerti apa- apa dan hanya ikut pada jalan yang ada. Adakah titik resistensi disana?
Sepengetahuanku, banyak juga mahasiswa baru kita yang jauh lebih jenius dan bahkan lebih kritis ketimbang kakak- kakaknya yang sudah terkena sindrom ketertundukkan. Namun karena sistem pendidikan kita masih menganut “bahwa yang tua adalah segalanya” maka tidak heran jika maba ini tidak diberikan ruang agar ia bisa bersuara. Banyak cara untuk mematikan hal tersebut. Bisa lewat peminggiran sosial dengan sistem angkatan yang harus “solid dan satu”. Atau malah yang lebih
bar-bar lagi adalah penggunaan emosi dan tekanan fisik pada sang maba.
Hal konyol diatas ini bagiku sendiri hanyalah sebuah kontrol atas tubuh belaka agar mahasiswa yang sadar bahwa dunia ini tidak baik- baik saja makin minor jumlahnya. Lebih baik kampus mengembangbiakkan mahasiswa yang suka jadi Event Organizer atau pengusaha peralatan ospek ketimbang mereka yang melihat realita dengan kesadaran kritis. Yang ada cuma bikin rektorat pusing terus! Kadang saya juga miris melihat pengabdian hanya diartikan sebagai penelitian sambil memberi bantuan tanpa mencoba benar- benar menganalisa masalah atau seminimalnya ya coba berikan solusi gitu. Tidak usah lah berpikir luas bahwa pengabdian atas nama kemanusiaan itu hanya untuk masyarakat luar kampus saja. Coba tengok lingkunganmu. Adakah dari mereka yang terancam tidak bisa kuliah karena tak punya uang? Adakah pedagang kantin kampus yang terancam digusur? Adakah Ospek yang mengajarkan seperti itu? Jika ada saya berani yang paling terdepan untuk mengapresiasi. Karena disanalah seharusnya mahasiswa berdiri. Manusia berlabel mahasiswa itu adalah kemewahan bagi spesiesnya. Mahasiswa memiliki akses lebih dalam ilmu pengetahuan yang nantinya akan membentuk kerangka berpikir dalam memecahkan masalah. Dan sekarang tinggal pilihan kita aja mau jadi mahasiswa kaya apa, Membiarkan pembodohan dan perbudakan ini berlanjut atau hanya diam saja?
Mampus kau dikoyak-koyak ospek !
MATINYA KAMPUS
Mendambakan Tempat belajar nyaman adalah impian manusia yang memiliki semangat untuk melepaskan diri dari belenggu pemikiran setelah, berabad-abad lamanya manusia direndahkan dan dihinakan oleh suatu legitimasi atas tafsir kebenaran tunggal raja dan agama. Dorongan lahiriah manusia sebagai homo sapiens membentuk sejarah dialektika manusia, atas keadaan yang membentuk kesadaran objektif dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat.
Perkembangan pengetahuan yang sangat pesat tersebut, merupakan buah dari perjuangan panjang masyarakat dunia dalam sederetan aksi membangun peradaban yang maju. Salah satu tempat terjadinya proses dialektika tersebut berada di kampus, tokoh dunia serta pemikiran fundamental dan eksentrik yang diperoleh dan dirumuskan dalam kampus telah mempengaruhi dinamika peradaban manusia sampai detik ini. Kampus telah hadir dengan irama yang menggetarkan hati setiap orang yang memiliki naluri revolusioner untuk ikut serta “bermetamorfosis” dalam setiap perubahan yang dihasilkan oleh kampus.
Sejarah telah menyuguhkan berbagai pengalaman Mahaguru, lewat usaha mereka mendirikan kampus sebagai tempat untuk mentransformasikan pengetahuan dan seluruh konsep tentang manusia yang “merdeka”. Merdeka dalam menentukan pemikiran, merdeka dalam melakukan tindakan dan merdeka atas dirinya sendiri dalam berfikir dan bertindak.
Kampus menjadi medan juang bagi musafir yang ingin menata hidupnya dengan pengetahuan yang akan menaikkan derajatnya kelak. Pengetahuan; teori yang beredar di sekolah dan perguruan tinggi haruslah menjadi corong untuk memecahkan persoalan masyarakat bukan malah menjadi trouble maker atas penderitaan rakyat.Menceburkan diri ke dalam dunia pendidikan seperti menyelami lautan dalam yang tiada ujung untuk mendapatkan sekelumit pengetahuan berharga tiada tandingan. Namun pada suatu kondisi, ketika sikap hidup yang “miskin kesadaran objektif atas keadaan orang lain”, maka pengetahuan bisa berubah menjadi buah simalaka buat jiwa yang tak bersalah atau cikal bakal “revolusi” demi kesejahteraan rakyat suatu bangsa.
Matinya kampus, bukanlah sekedar metafora yang ingin mengerakkan ribuan hingga jutaan orang mengambil barisannya di jalan raya, serta meneriakkan ketidakadilan. Namun sebuah refleksi; apakah akal budi yang diberikan oleh tuhan diperuntukan merampas hak orang lain?. Yah !, pertanyaan sederhana yang akan diabaikan oleh mereka dengan label “Mahaguru” dalam dunia kampus penuh pergulatan kotor para pemikir yang “sok idealis” seolah ingin memajukan peradaban.
Kenapa hal tersebut perlu diutarakan dalam tulisan ini karena sudah cukup banyak “penghuni kampus” dengan pengetahuan yang menyebabkan rakyat semakin melarat. Program SDGs (suistanble development goals); pembangungan berkelanjutan di masa pemerintahan Jokowi-JK, telah melakukan kerjasama dengan berbagai kampus unggulan Indonesia untuk melakukan pembangunan infrasturktur tanpa melihat secara objektif kebutuhan masyarakat terhadap pembangunan tersebut. Sederhananya beberapa kasus yang hari ini dapat kita lihat tentang rencana pembangunan yang ditopang pengetahuan mapan dan digunakan untuk merampas kesejahteraan rakyat.
Reklamasi pesisir Makassar, reklamasi teluk benoa bali, pengerukan gunung kendeng untuk dijadikan sumber semen dan beberapa lagi program pembangunan yang juga secara tegas mendapat penolakan masyarakat karena pembangunan tersebut dianggap warga tidak memberikan kesejahteraan untuk mereka kelak. Ironinya untuk menyatakan bahwa pembangunan CPI (central pointIndonesia) dipesisir Makassar layak dan tidak merusak lingkungan, maka diutuslah beberapa tenaga ahli lingkungan dari Universitas Hasanudin untuk melakukan riset untuk memperkuat izin bahwa reklamasi pesisir Makassar bisadilakukan.
Penolakan warga terhadap tindakan kampus yang menjadikan pengetahuan suatu hal yang orientasi profit membuat kesal banyak warga diberbagai daerah di Indonesia. Seperti yang kita saksikan di beberapa media berita, dimana masyarakat sekitar gunung kendeng yang melakukan aksi di depan Universitas Gajah Mada karena sikap kampus yang telah melegitimasi upaya dari pabrik semen tiga roda untuk melakukan pengerukan secara leluasa di daerah pemukiman warga gunung kendeng. Tak hanya itu, kampus ternama lainnya yakni Institut Pertanian Bogor Juga telah mendatangkan kekecewaan bagi warga, terlihat dari puluhan warga yang bekerja sebagai tukang ojek melakukan aksi demonstrasi sebagai respon atas kebijkan kampus yang melarang adanya kegiatan ojek di dalam kampus. Hal ini sangat membuat kesal para warga, khususnya para ojek yang menyatakan bahwa sumber penghasilan mereka didapatkan dari ojek di dalam kampus.
Matinya kampus tidak seutuhnya disebabakan “kecelakaan berfikir” oleh pimpinan kampus semata namun di kalangan mahasiswa juga demikian. Tradisi ilmiah dalam kampus secara signifikan mengalami kemunduran, serta mempengaruhi pergerakan beberapa tahun terakhir ini. Mahasiswa yang seharusnya punya sikap “politik” terhadap perubahan sosial dengan “pisau analisis yang tajam” dan, secara objektif bisa menyimpulkan langkah baru yang dapat menginspirasi kembali massifnya gerakan yang akan datang untuk menghancurkan 3 musuh rakyat yaitu Imperialisme , feodalisme, dan kapitalisme birokrat.
Kekeliruan dalam mengenal siapa musuh rakyat di dalam kampus berefek kepada banyaknya permusuhan di kalangan mahasiswa. Hal ini bersumber dari berbagai permasalahan yang dianggap sepele, seperti perbedaan ideologi organisasi, dan berbeda suku. Namun tiga tahun terakhir ini, krisis identitas benar-benar melanda mahasiswa. Pertarungan gagasan dan ide diabaikan dan watak barbar telah menjadi ciri khas bagi mahasiswa diajang demokrasi. Keadaan tersebut sangat menguntungkan bagi kelompok “liberal” dari kalangan mahasiswa untuk berafiliasi bersama kapitalis birokrat kampus secara perlahan-lahan, dengan cara menempatkan “kaki tangan birokrasi di kursi-kursi vital” organisasi kemahasiswaan.
Kurangnya evaluasi mengakibatkan tidak adanya otokritik terhadap langkah yang diambil oleh mahasiswa. Mengandalkan kemampuan retorika semata adalah hal konyol tanpa data dan fakta serta win-win solution untuk menaikkan lagi derajat mahasiswa dalam tatanan sosial masyarakat yang lebih luas.
Pengetahuan menjadi ancaman bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.Masihkah pantas kampus dijadikan tempat untuk mendapatkan pengetahuan yang akan diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat di Negara ini? Dunia kampus juga telah menjadi donimasi para pemikir (sofis), yang hanya bisa berceloteh menyatakan bahwa “kita sedang sekarat” namun, tak memiliki satu pun aksi yang lengkap dengan gagasan dinamis untuk merubah kampus menjadi benteng pertahanan rakyat.
Seandainya Hatta Ada
Andaikata Mohammad Hatta masih ada, hari kemerdekaan 17 Agustus ini, dirinya mungkin saja didaulat untuk berkisah seputar kejadian bersejarah tersebut. Lebih penasaran lagi, apa kiranya nasehat sosok proklamator itu untuk kehidupan kini?Ya, politik hari ini terlalu gaduh. Sialnya, banyak urusan rakyat kecil jadi terlantar. Biarlah Hatta menjawil telinga para elit. Sembari berkata-kata, “Hei, hidup kalian sudah terlalu mewah!”
Elit yang sekarang berada di panggung petarungan politik nasional merupakan keturunan, anak-cucu, para kemenakan bekas petinggi, pejabat, ataupun konglomerat. Untuk sekadar sekolah ke luar negeri, mereka tak perlu repot-repot memburu beasiswa atau utang sana-sini. Mereka sudah diberkati dengan pendana yang pasti.
Begitupun Sjahrir, Tan Malaka, atau Semaun sekalipun. Mereka harus pontang-panting menutup utang akibat ongkos studi ataupun hidup sebagai pelarian/buangan. Maklum, dunia pergerakan bukan “tiket” hidup gratis, para tokoh tersebut harus tetap bekerja dan memikirkan urusan dompet.
Cobalah lihat sekarang. Elit mana yang nasibnya mengenaskan serupa mereka. Prabowo, Bakrie, JK, Harytanoe, SBY, Megawati, atau Jokowi? Jawabnya tak satupun.
Kebiasaan atau hobi Hatta mengoleksi buku. Bahkan saat dibuang ke Boven Digul, terdapat belasan peti berisi buku bacaan yang ikut diboyong. Selain kutu buku, kebiasaan Hatta yang patut dicatut bagi para elit kini, adalah taat asas, terutama perihal waktu.
Tiap hari, Hatta hampir selalu menaati jadwal harian yang dibuat. Mulai dari jam bangun pagi, sholat, lari pagi, belajar, kuliah, hingga kumpul rapat dan diskusi. Pada detik jelang proklamasi sekalipun Hatta tak menginap di rumah Soekarno, saat waktu yang dijanjikan berkumpul pukul tujuh kurang lima menit, dirinya telah muncul.
Kerja para elit sekadar lobi-lobi politik, main golf. Memikirkan nasib bangsa? Serahkan saja pada tim ahli yang juga mendapat gaji negara.
Koran Persatuan Indonesia pernah menyerang pendirian Hatta terkait undangan menjadi calon wakil majelis rendah di Belanda. Hatta, lewat Daulat Rakyat pun menangkis dan menyerang balik Soekarno-Partindo.
Dari ragam sosial media yang tersedia, para elit hanya bisa menelorkan sumpah serapah dan saling nyinyir. Sialnya, mereka-mereka itulah yang dijadikan kiblat bagi kehidupan politik seluruh lapisan masyarakat. Apa boleh buat, Hatta dan generasinya telah tiada.
(Disarikan dari Memoar Hatta)
ANTONIO GRAMSCI, SEPOTONG KRITIK
Gramsci melihat bahwa faktor ekonomi bukanlah satu-satunya keniscayaan prasyarat revolusi, melainkan hanya salah satu kondisi dan terdapat kompleksitas lain termasuk masalah kultural, intelektual, dan moral yang perlu dianalisis. Berbeda dengan pandangan Marx yang hanya memandang sekedar sebagai ranah ekonomis, tetapi sebagai ajang kontestasi dan perjuangan memenangkan hegemoni. Gramsci mengartikan bahwa banyak faktor-faktor lainnya dalam pembentukan kelas-kelas yang terjadi di dalam masyarakat, sebagai contoh misalnya selain kelas yang dibedakan dari sudut pandang ekonomi yaitu dalam masalah kultural, misal adanya perbedaan kebudayaan, agama, ataupun kebiasaan antara daerah yang satu dengan lainnya, hal ini tentu saja sangat rentan dalam terciptanya konflik. Pendapat Gramsci ini juga dikuatkan oleh pemikiran Georg Lukacs yang mengingatkan kita pada gerak dan perhitungan dalam matematika dapat memiliki kemungkinan irasional. Sehingga kita tidak dapat bergantung hanya pada kemungkinan yang positivistik semata. Dibandingkan pemikiran Marx, apa yang diutarakan oleh Gramsci merupakan suatu jawaban yang multidimensi.
Kaum borjuis membuat kaum proletar harus membayar mahal atas kesalahan-kesalahan mereka, kelemahan yang ditunjukkan mereka karena rasa takut. Kaum Borjuis sendiri tidak pernah terpecah, tidak pernah menunjukkan rasa takut dalam menyerang, dalam bereaksi terhadap serangan-serangan yang dilancarkan terhadap dirinya. Kaum borjuis menurut Gramsci memiliki kekuatan yang memadai untuk memberikan sebuah solusi terhadap kelas buruh. Kelas buruh tidak dapat sendiri, mereka tidak tahu bagaimana merebut kekuasaan dan menggulingkan musuh-musuhnya tanpa pendidikan atau pengalaman mereka. Tidak seperti kaum borjuis yang memiliki kesempatan untuk menyadari, memiliki waktu untuk menganalisa dan merancang gerakan bersama. Katakanlah di Indonesia, kaum borjuis yang sering diumpamakan sebagai pemilik modal ataupun pemilik perusahaan tidak takut akan serangan yang dilancarkan oleh gerakan dari para kaum buruh ataupun masyarakat miskin ataupun kaum proletar, penguasa dapat dengan mudah memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang terjadi, mereka dapat mengatur hukum dengan uang mereka dan bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk memenangkan suatu perkara.
Gramsci memperhitungkan faktor afeksitas, relasi spiritual, retorik dan aturan sosial yang dinegosiasikan bahkan dalam konflik kepentingan dan ideologi. Dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi diperlukan adanya negosiasi antara pihak yang berkonflik, agar permasalah dapat diselesaikan. Gramsci meletakkan kekuasaan (power) tidak sekedar di dalam superstruktur bernama negara melainkan menyediakan sebuah lahan kontestasi kekuatan dalam pemilihannya akan civil society. Apa yang dapat dikritisi kembali pada pemikiran Gramsci adalah bagaimana kemudian kontestasi dapat terbentuk dalam konteks masyarakat kapitalis individualistis yang pada masa ini.
BERGURULAH PADA PETANI
[BERGURULAH KEPADA PETANI]
Selalu ada hal menarik ketika mengamati kehidupan para petani. Petani adalah salah satu guru kehidupan terbaik. Di setiap langkah hidupnya ada pelajaran yang bisa dipetik untuk cermin berkaca bagi siapapun. Salah satunya, petani adalah simbol keiklasan dan ketulusan dalam menjalankan profesi. Jutaan petani rela bersimbah peluh, berlepotan lumpur sawah, berjemur ditengah terik matahari untuk menanam dan memelihara tanaman di sawah dan ladangnya. Tidak ada sedikitpun rasa enggan dan malas ketika harus terjun ke sawah di pagi buta, menyiangi tanaman di siang hari, dan memupuk di sore hari. Tidak ada sedikitpun keluhan ketika harus berburu tikus yang menyerang lahan tanamnya, atau menyemprot pestisida karena tanaman padinya diserbu wereng.
Keiklasan dan ketulusan itu makin tampak ketika mereka harus melepas hasil panen untuk dijual ke pasar atau tengkulak. Tidak pernah ada pernyataan keluar dari bibir mereka bahwa kerja keras merekah yang telah menghidupi jutaan warga negeri ini. Para petani padi tidak pernah berpikir bahwa merekalah yang telah memberi makan jutaan penduduk negeri ini dengan beras yang pulen dan wangi. Para petani buah dan sayuran juga tidak pernah merasa bahwa merekalah yang telah menyehatkan jutaan warga negeri ini. Bahkan mereka juga iklas dan tulus menerima nasib ketika dipaksa menerima harga murah hasil panen mereka.
Lebih dari itu, pada sosok petani kita bisa berguru tentang alur kehidupan yang lurus, jujur, dan berjalan apa adanya. Tidak ada kepalsuan, jalan pintas, sogok menyogok, apalagi korupsi pada diri petani sejati. Sejak awal tanam, mereka harus mengolah tanah lebih dulu, menyiapkan saluran air, membeli benih, menanam, menjaga dan memelihara, baru kemudian memanen. Tahapan itu harus dilalui dengan konsisten, tanpa ada celah untuk mengambil jalan pintas. Tidak mungkin menanam tanpa mencangkul terlebih dahulu, dan juga tidak mungkin memanen tanpa menanam, memelihara dan menjaga dari serangan hama dan penyakit. Alur itu harus mereka lalui dengan sabar dan kerja keras, disertai doa penuh harapan.
Oleh karena itu, kita juga bisa belajar tentang kesabaran kepada para petani. Sabar yang bukan berarti kepasrahan, tetapi kesabaran yang dibalut dengan energi ikhtiar dan kerja keras, serta tidak pernah lepas dari doa dan harapan. Lihat saja, para petani padi sabar menunggu panen hingga tiga bulan lebih, dan dalam menunggu itu mereka tidak pernah diam. Mereka harus berjuang memelihara dan menjaga agar tanaman padi mereka tumbuh subur, menghasilkan bulir padi yang padat dan bernas, serta dipanen dengan hasil melimpah. Mereka adalah simbol kesabaran dalam menyikapi dan menyiasati kehidupan.
Petani adalah guru kehidupan sejati. Selamat menanam dan berjuang hingga masa panen nanti.
Dirgahayu Tan Malaka
Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun).
Seorang luar biasa yang diberi julukan "Bapak Republik Indonesia" oleh Mohammad Yamin dan bahkan dianggap oleh sebagian kalangan sebagai the true founding father of Indonesia. Perjuangan panjangnya bagi negeri ini dari mulai Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, keliling pulau Jawa, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa (Moscow), Xiamen (Amoy), Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang.
Selamat ulang tahun ke-120 Tan Malaka (2 Juni 2017), semoga generasi Indonesia ke depannya dapat mewujudkan impian beliau untuk membangun masyarakat yang berpikir secara kritis, logis, rasional, dan mampu berdialog secara sehat. Merdeka 100%!
"Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, bumi dan bintang sebagai benda, ya, "engkau" sebagai benda, tak ada buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, gambaran dari jeruk, lembu, bumi, bintang dan engkau. "Engkau",kata hume, cuma "ide" buat saya.
Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku ide saja, membatalkan adanya diri sendiri, mengakui, bahwa sebetulnya dia sendiri tak ada."
Tan Malaka, Madilog (bab 2 filsafat - halaman 35)
"Revolusi Indonesia, bukanlah Revolusi Nasional semata-mata seperti diciptakan beberapa gelintir orang Indonesia, yang maksudnya cuma membela atau merebut kursi buat dirinya saja, dan bersiap sedia menyerahkan semua sumber pencaharian yang terpenting kepada bangsa Asing, baik musuh atau sahabat. Revolusi Indonesia, mau tak mau terpaksa mengambil tindakan ekonomi dan sosial serentak dengan tindakan merebut dan membela kemerdekaan 100%. Revolusi kemerdekaan Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan dibungkusi dengan revolusi-nasional saja. Perang kemerdekaan Indonesia harus diisi dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus."
Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya-Politik-Ekonomi
















