(16/04/2017) Kecaman terhadap aparat kepolisian Sulbar Kab Majene yang melakukan tindak pemukulan terhadap pemuda Sulbar bernama Aldi kian meluasFPPI MAKASSAR & IM3I KECAM OKNUM KEPOLISIAN YANG MELAKUKAN TINDAKAN PEMUKULAN DI MAJENE
(16/04/2017) Kecaman terhadap aparat kepolisian Sulbar Kab Majene yang melakukan tindak pemukulan terhadap pemuda Sulbar bernama Aldi kian meluasMATINYA PERGERAKAN MAHASISWA
Jika mengacu pada literatur sejarah Indonesia, ada empat fase dari pergerakan mahasiswa Indonesia. Mulai dari fase pergerakan nasional (1900-1945), yang ditandai dengan lahirnya perhimpunan Indonesia oleh mahasiswa Indonesia di Belanda pada 1925. Dari sinilah, ide dan gagasan besar tentang gerakan kaum muda yang terorganisir secara plural lahir. Hal ini ditandai dengan adanya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menjadi episode lanjutan dari gerakan kaum muda tadi.
Fase kedua dari keempat fase pergerakan mahasiswa, dimulai setelah proklamasi kemerdekaan dideklarasikan. Yaitu dari 1945-1965 yang kemudian lebih dikenal sebagai fase orde lama. Fase ketiga pergerakan mahasiswa semenjak orde baru berkuasa (1965-1998), sedangkan fase terakhir dimulai semenjak era reformasi (1998-sekarang).
Reformasi Indonesia menjadi titik nadir peran serta pergerakan kemahasiswaan, dimana mahasiswa menjadi aktor utama dari perubahan bangsa ini. Setelah itu, pergerakan mahasiswa kembali vakum dan terjajah dengan pragmatisme kemahasiswaan mereka. Saat ini, setelah reformasi pergerakan mahasiswa layaknya sebuah semak-semak belukar yang tidak terurus.
Padahal peran serta pergerakan mahasiswa tidak hanya sekedar menjadi agent , tetapi juga menjadi director of change dan director of social control. Glamor dan hedon seakan telah menjadi budaya dan tren baru di kalangan mahasiswa, dunia pergerakan kemahasiswaan sepi seperti tidak berpenghuni. Jikapun berpenghuni para aktivis pergerakan kemahasiswaan terlalu nurut dan patuh terhadap kebijakan kampus ataupun pemerintah yang tidak memihak kepada mereka. Dunia pergerakan kemahasiswaan sudah tidak plural, bahkan mahasiswa seperti halnya boneka percobaan dalam dunia pendidikan Indonesia.
Lebih parahnya lagi, dunia pergerakan kemahasiswaan belakangan ini ditunggangi kepentingan-kepentingan yang tidak pro-rakyat. Terlebih pada saat pemilu legislatif dan pemilu presiden, pergerakan kemahasiswaan terlalu pragmatis dan materialistis. Idealisme pergerakan kemahasiswaan terberangus kepentingan elit, independensi pergerakan kemahasiswaan tergerus oleh politik berbasis patronase.
DOSEN REVOLUSIONER
DOSEN REVOLUSIONER
“Dosen bukanlah Dewa yang selalu benar, dan mahasiswa bukan kerbau.”
Ucapan sang demontran tersebut barangkali bisa menjadi representasi yang kuat dalam membaca kondisi sikap ‘manutan’ mahasiswa sekarang. Ada sebuah kenaifan dalam mahasiswa yang sinis jika membicarakan tentang birokrasi kampus, Pemilwa, pemilihan rektor, dan lain-lain. Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu dalam membaca realitas di sekitar mereka dan memilih lebih baik apatis daripada mengurusi semua itu. Kita digempur secara struktural dan kultural, tinggal siapa yang lebih kuat dia yang menang. Malahan ada oknum-oknum tertentu yang sengaja memanfaatkan keapatisan mahasiswa untuk kepentingan mereka sendiri. Parahnya lagi mereka yang bisa ‘diajak ngobrol’ pun apatis. Lalu bagaimana?
Setidaknya ada dua faktor yang menjadi penyebab sakaratul maut-nya kekritisan mahasiswa sekarang. Pertama mahasiswa kurang kritis pada diri sendiri. Kedua, mahasiswa kurang kritis pada temannya sehingga saat ingin mengkritisi realitas sosial itu buntu. Dilihat dari lalu lalang informasi sendiri, pamphlet kurang apa? Acara seminar kurang berapa banyak? Pers kurang apa? Setiap hari saja portal berita online kampus update. Dalam sebulan beribu bulletin pers di tingkat universitas dan fakultas terbit. Pers sudah melakukan counter-hegemoni, tetapi kesadaran tetap saja tak terbentuk, belum ada kesadaran massa disana. Mahasiswa hanya diam saja, merasa baik-baik saja, masih mending jika mau membaca berita-berita kampus atau hanya sekedar bilang, “Oh, iyo-iyo” thok.
Tak hanya pers, di tataran fakultas sendiri ada beberapa fakultas yang melakukan diskusi rutin yang sifatnya fakultatif tapi yang bertahan lagi-lagi hanya segelintir saja. Lalu masalah apa yang sebenarnya terjadi pada mahasiswa sehingga keapatisan itu bisa sedemikian parahnya?
Di sisi lain ada kenyamanan dalam mahasiswa itu sendiri. Banyak sekali faktor kenyamanan itu. Misalnya, mahasiswa terhegemoni kenyamanan kampus. Ada pola pikir yang mempengaruhi mahasiswa yang itu terulang setiap hari: masuk kelas, duduk, diam mendengarkan, pulang. Ditambah mahasiswa terkungkung dalam media sosial (setelah BBM, mampu menggeser fungsi FB sendiri, juga pastinya menggeser buku-buku). Mahasiswa seolah memiliki dua dunia yang membelenggu mereka, antara realitas nyata dan menjadi aktivis maya. Juga ada pergeseran budaya yang membunuh kesadaran mahasiswa, kebudayaan yang menyamankan itu seperti maraknya café, mall, warkop, dan lain sebagainya.
Angin segarnya, ada semacam kesadaran ‘mahasiswa harus sadar, mahasiswa harus kritis, mahasiswa harus baca buku’. Kesadaran seperti itu muncul dari mereka para intelektual organik, baik kalangan aktisvis terlebih lagi dosen. Jika ranahnya kelas, sekarang yang dikritik tak cuma mahasiswa, tapi juga dosen!
Revolusi Dosen
Saat bicara mahasiswa kita juga bicara dan berhadapan dengan sistem di atasnya yaitu dosen. Posisi jadi dosen itu nyaman. Banyak dosen sekarang yang membiarkan mahasiswanya terlontang lantung. Dan parahnya sistem menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Dosen pun juga merasa tenang-tenang saja dengan kultur mahasiswa yang apatis seperti itu. Ada juga sebagian dosen yang melakukan penelitian yang hasilnya tidak jelas dan ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan sendiri, semisal prasyarat gaji dan kenaikan pangkat. Dosen yang mengikuti logika pasar, innalillahi…
Yang ingin saya katakan melalui tulisan ini ialah semacam kritik terhadap keapatisan mahasiswa melalui prolog mahasiswa di atas dan kritik terhadap “dosen”. Kenapa dosen? Karena setiap hari yang didengar mahasiswa adalah dosen (baik itu mahasiswa ktitis, apatis, lebih-lebih mahaiswa kupu-kupu—yang tak tahu dunia luar, kecuali kamar kos dan kelasnya saja). Secara psikologi, sadar atau tidak dosen bisa memberikan ruang penyadaran yang masif terhadap mahasiswa. Jika pemantiknya dari kalangan sebaya tidak ada legitimasi, kalau dosen pasti ada.
Manusia asli adalah manusia yang mau berbagi
FPPI KOTA MAKASSAR GELAR RAKORWIL SE-INDONESIA TIMUR
FPPI KOTA MAKASSAR SUKSES GELAR RAKORWIL SE-INDONESIA TIMUR
SELAMA dua hari, Front Perjuangan Pemuda Indonesia menggelar rapat koordinasi wilayah Se-Indonesia timur Sabtu-Minggu (25-26 Februari 2017) di Minasa Upa kota makassar.
Acara dihadiri oleh 4 delegasi kota. Mereka berasal dari kota Majene, Polewali Mandar, Balikpapan, dan Makassar
Ada beberapa kota yg rencana hadir tapi mengalami beberapa kendala, seperti palu sudah diperjalanan tapi mengalami kecelakaan dalam perjalanan, kemudian ambon yg rencana berangkat tapi tidak ada jadwal kapal bertepatan dengan kegiatan rakorwil
Menurut Ketua FPPI Kota Makassar, Risno, rapat ini diadakan sehubungan dalam mempererat tali persaudaraan antar sesama kader dan mengevaluasi kerja-kerja tiap kota
Selain itu rapat ini untuk mengetahui masalah-masalah sosial dan ekonomi ditiap kota itu sendiri "ujar risno
Tragedi Pembunuhan Di Berbagai Kampus
Mengerikan, pembunuhan tersistematis sedang terjadi di berbagai kampus. Tidak segan-segan pembunuhan itu menewaskan beberapa mahasiswa, beberapa kawan-kawan kita. Kawan kita dibunuh dengan buasnya. Pembunuhan ini tak main-main, bahkan pelaku diketahui dilakukan oleh beberapa orang. Mereka membunuh tapi semua diam saja. Malah disinyalir aktor yang paling berkuasa di lingkungan kita yang memerintahkan para pembunuh itu. Kejam, memang.
Beberapa pembunuh itu dikenal dengan nama UKT, SKS, dan Regulasi. Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh ketiganya hingga hari ini didiamkan begitu saja. Mengapa? Karena kawan kita yang dibunuh adalah mereka yang dicap pembangkang! Pembunuh ini diperintahkan oleh yang punya kuasa membunuh kawan kita dengan bayaran setinggi langit. UKT memaksa mahasiswa dan orang tua merogoh kantong lebih dalam. UKT adalah pembunuh berdarah dingin yang siap merenggut hak mahasiswa dan rakyat Indonesia akan pendidikan!
Pembunuh kedua, SKS adalah yang membunuh kebebasan dan kreatifitas kita selama menjadi mahasiswa. Dengan menekan masa hidup kita di Universitas dalam batasan waktu yang pendek lagi padat, terbunuhlah kesempatan untuk mengeksplorasi potensi mahasiswa. Mahasiswa dipaksa harus cepat besar, cepat paham, dan cepat pintar dengan waktu yang singkat. Lagi-lagi ini sengaja dilakukan oleh yang berkuasa supaya mempercepat produksi komoditas tenaga kerja terdidik—sarjana.
Terakhir, pembunuh tersebut ialah Regulasi. Pembunuh ini paling bengis diantara yang lainnya. Lewat dia pembunuh yang lain mendapat celah membunuh mahasiswa dan kawan-kawan kita. Baru-baru ini keluar regulasi berupa perintah jam malam. Regulasi dikatakan untuk menjaga keamanan kampus. Omong kosong. Jam malam hanya membunuh kegiatan-kegiatan mahasiswa. Kegiatan setelah sibuk dalam perkuliahan di kampus dikekang karena larangan melakukan kegiatan di waktu malam.
Apakah lantas kita diam saja dengan pembunuhan tersebut? Diam akan terbunuhnya hak kita? Kebebasan dan kreatifitas kita? Adili mereka yang berkuasa, yang melahirkan pembunuh-pembunuh bengis yang berbahaya bagi mahasiswa. Kelaliman dan kedzaliman tidak boleh terus-menerus didiamkan, dan secara kritis kita lancarkan perubahan! Salam Perjuangan!
Sumber: Bung Dylan
#FPPI
#Fokmad
FPPI MAKASSAR KECAM PERNYATAAN REKTOR UNASMAN
8 kader FPPI Makassar telah melakukan unjuk rasa di Jl Sultan Alauddin. Depan kampus 1 UIN Alauddin Makassar
Adapun poin tuntutan kader FPPI Makassar tersebut adalah mendesak Rektor Unasman untuk meminta maaf kepada seluruh kader FPPI, mencabut kembali statement komunis dan isis pada organ FPPI, dan kembalikan citra politik organisasi dan demokratisasi kampus melalui pemberian ruang berekspresi bagi kader FPPI di kampus unasman.
Dalam penyampaian orasinya massa menyayangkan tindakan pencelaan organisasi FPPI yang dilakukan rektor unasman.
Pada, Sabtu (31/12/2016) di depan Kampus I, UIN Alauddin Makassar.
Jendral Lapangan, Anas dalam orasinya meminta pihak universitas untuk memberikan sanksi kepada rektor tersebut berupa pemecatan.
"Kami ingin rektor tersebut mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada kami" kata Anas.(*)
Pesta Demokrasi Diakhiri Dengan Makan-Makan
Kita telah setuju mengatakan Demokrasi yang murni adalah demokrasi yang berasal dari mahasiswa,oleh Mahasiswa, untuk mahasiswa, tetapi kita sendiri juga yang menghancurkan makna demokrasi di kampus peradaban ini. Karena faktanya, suara mahasiswa hanya diwakili oleh ketua tingkat dan sekretaris . Padahal kalau kita mau menelisik lebih jauh hal tersebut, maka hal itu jauh dari kata demokrasi yang sesungguhnya melainkan demokrasi seperti itu layak disebut demokrasi terpimpin yang notabene otoriterianisme.
Sebaiknya yang perlu di kerjakan adalah berani belajar dari kepemimpinan sebelumnya, karena jika ada banyak hal yang tidak tercapai dalam kepemimpinan sebelumnya perlu di biacarakan. Kebanyakan pemimpin hanya mencari-cari keuntungan di dalam sebuah kekuasaannya.
Kampus Yang Tak Kurindukan
Kampus tak selalunya berkaitan dengan urusan intelektual yakni, pertukaran ide ataupun transfer keilmuan, kampus yang sekarang tidak menjadi lagi tempat murni berbagi keilmuan.Tulisan Fokmad kali ini akan menggambarkan sosok kampus yang nyaris gak ada indah-indahnya,beradab-adabnya, dan baik-baiknya sehingga mendorong mahasiswa tidak akan merindukan kampusnya lagi setelah pulang ke kampungnya. Seperti judul tulisan ini "Kampus Yang Tak di Rindukan".
Tidak ada ruang yang hijau, tidak ada kebebasan berorganisasi, tidak ada kebebasan berpendapat, birokrasi yang kompleks, tidak ada dana kuliah yang murah, parkir pun dibayar, tidak ada buku gratis, makan gratis,kopi gratis, diskusi gratis, seminar gratis, bazaar gratis dan beberapa tahun kedepan lagi tidak ada yang gratis. Mungkin saat ini ada seminar gratis tapi gak akan berkualitas karena sangat sarat dengan kepentingan ekonomi dan politik... liat saja spanduk seminar yang sponsornya berjejeran dan tema nya begitu pro dengan status quo.
Ruang keilmuan kampus yang merupakan tempat pertukaran ide antara dosen dan mahasiswa tidak bisa dikatakan ruang keilmuan yang ideal karena ruang kelas tersebut jauh dari kata kelayakan. Lantai yang retak, proyektor yang terbatas, jendela pecah, kursi yang tak nyaman, dan berbagai masalah ruang kelas yang begitu kontra dengan humanisasi.
Oh kampus ku jangan salahkan mahasiswa kalian yang hanya tau kuliah pulang kos karena kampus sudah tidak ada daya tariknya lagi bagi mahasiswa tersebut. Rambut gondrong, celana robek, dompet tipis, badan kurus, muka suram, dan bersifat anarko merupakan antitesis dari kampus itu sendiri. Jika tesisnya kampus yang biadab maka sudah pasti antitesisnya adalah mahasiswa kayak gitu.
Oh tetapi apakah kampusnya saja yang biadab???. Maka kampus dan mahasiswa pun sama saja. Mahasiswa di kelas yang sibuk bermain hape dan tidak memperhatikan apa yang dosen jelaskan. Mahasiswi yang belajar hanya semalam sebelum ujian dan karena ujian, bukan karena mereka ingin tahu. Mahasiswa yang mencari angka-angka dalam selembar kertas dan bukan pengetahuan. Mahasiswa yang rela membolos untuk urusan mereka di luar sementara tidak rela masuk untuk menuntut ilmu. Begitu pula mahasiswa yang mengerjakan tugas sehari sebelum dikumpulkan. Tidak ada keinginan dan ketertarikan sama sekali dalam diri mereka. Tugas adalah beban. Itu saja. Dan hasil dari model semacam ini ya semacam itu.
Ataukah seluruh fenomena ini hanya karena kesalahan pihak kampus? Ah entahlah mending saya tetap menghidupkan kampus ini dengan diskusi-diskusi gratisan saja dan untuk mengakhiri tulisan ini saya katakan
Birokrasi Kompleks
Mendengar lagunya slank yang berjudul Birokrasi Kompleks membangkitkan nalar saya untuk menulis coretan kelam ini, maka nampak lah lagu ini sebagai suatu gambaran-gambaran di universitas kita, fakultas kita, jurusan kita, dan segala proses administrasinya yang begitu sulit & kompleks.
Mau urus beasiswa saja contohnya, harus minta tanda tangan ini lalu tanda tangan sana, meja sini - meja sana,beli ini - beli itu sehingga kita pun terjebak dan terkurung didalamnya
Entah bagaimana sulitnya mengurus sesuatu sampai-sampai membuat kampus kita mirip dengan kantor, mirip dengan perusahaan, dan mirip dengan pabrik yang kesemuanya itu justru bercorak kapital. Jadi sampailah kita menyimpulkan bahwa kampus yang merupakan pusat peradaban ilmu telah tercoreng menjadi pusat pelayanan Birokrasi yang kompleks.
Meniru kata Roem "kuliah itu candu" memberi gambaran kepada kita semua yakni kita seakan-akan dibius oleh segala kebijakan birokrasi kita.
Akan tetapi tetapkanlah hati kita kawan bahwa kampus bisa membawa kita ke pusat peradaban ilmu itu, dengan cara menyatukan suara kita, suara persatuan tepatnya!
Tapi nampaknya ini cuman keluh kesah mahkluk yang rindu akan persatuan
TAN MALAKA (Edisi Hari Pahlawan)
Salam NADEMKRA!!!
Ketika mahasiswa(i) saat ini masih terjerat dalam budaya Fun-Food-Fashion, maka hari pahlawan hanyalah sekedar momentum tiada arti sehingga pahlawan-pahlawan nasional kita yang tercinta hanya dikenang saat ini dan dilupakan hari-hari berikutnya.
Maka pahlawan Nasional seperti "Tan Malaka" merupakan bukti yang besar, dimana bahwa bangsa sendiri justru melupakan pahlawannya sendiri.
Akhirnya, pada tulisan kali ini bertepatan dengan momentum hari pahlawan , saya akan secara khusus mengupas kisah hidup tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah Indonesi. Sekaligus menjadi pengantar untuk memahami pahlawan yang terbuang di Indonesia. Bagi kalian yang tertarik dengan cerita sejarah perjuangan Indonesia, Maka sosok TAN MALAKA patut untuk dibahas, pastikan kalian sediakan waktu khusus untuk baca kisahnya di bawah ini:
PAHLAWAN REVOLUSIONER YANG LEGENDARIS
(TAN MALAKA)
Tan Malaka lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka menurut keturunannya ia termasuk suku bangsa Minangkabau. Pada tanggal 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang Sumatra Barat Tan Malaka dilahirkan. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejajar dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.
Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.
Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Syarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.
Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin).
Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.
Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner.
Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.
Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.
Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis Menuju Republik Indonesia. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya Tan Malaka Bapak Republik Indonesia memberi komentar: Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah.
Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya MADILOG mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara Text book thinking, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.
Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang text book thinking dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.
Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekuen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.
Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.
Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi republik Indonesia akibat Perjanjian Linggarjati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta. Dan pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur.
Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Sukarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.
BERGELAP-GELAPLAH DALAM TERANG, BERTERANG-TERANGLAH DALAM GELAP !
- TAN MALAKA
Paradoks Waktu Dan Uang
Beda dulu, beda sekarang... mungkin kalimat ini yang paling tepat menggambarkan penduduk bumi yang semakin kompleks. Jumlah manusia bertambah dan jenis pekerjaan pun semakin banyak hingga menjadi tumpukan kewajiban. Pada akhirnya, orang-orang bekerja, tapi di sisi lain, mereka mulai menghitung waktu sebagai uang.
Buruh-buruh pabrik harus menggerakkan tangan dengan cepat untuk membuat banyak barang, sedangkan sopir-sopir truk bermuatan harus mengirimkannya tepat waktu. Lalu, alat transportasi seperti pesawat, kapal laut, dan motor harus berangkat tepat waktu dan mesin pabrik tidak boleh berhenti meski hanya satu jam. Sebab, akan muncul kesalahn fatal jika sampai tidak tepat waktu. Dunia yang berputar pada porosnya seperti jarum jam, membuat waktu dinilai sama dengan uang
Pernyataan dari Benjamin Franklin yang menulis dasar deklarasi kemerdekaan Amerika, dengan jelas telah menunjukkan waktu adalah uang. Ketika Franklin berusia 17 tahun dan bekerja sebagai penjaga toko buku, seorang pengunjung menanyakan harga buku. Franklin menjawab 1 dolar dan pengunjung itu meminta diskon. Lalu, Franklin berkata harga bukunya menjadi 1 dolar 10 sen. Pengunjung itu terkejut, lalu membayar 1 dolar. Tapi kemudian, Franklin berkata lagi harga buku itu 1 dolar 20 sen yang menekankan kepada pengunjung itu untuk membayar kekurangannya. Pengunjung itupun marah kemudian menanyakan alasan Franklin menaikkan harga buku, Franklin menjawab, "waktu lebih berharga daripada uang. Karena anda mengambil waktu saya, bukankah pantas kalau anda harus membayar lebih atas pemakaian waktu dari harga buku?"
Pada hakikatnya waktu dan uang terperangkap dalam paradoks... yang mungkin bisa dinamai paradoks Waktan(Waktu & Uang). Waktu dan uang secara tidak langsung memiliki hubungan yang sangat dekat. Apa kalian tahu alasan kenapa kata "waktu adalah uang" dalam msyarakat modern menjadi pepatah paling penting???
Problematika Pengelolaan Tanah (Eksklusif Hari Tani)
Tanah merupakan sumber daya penting dan strategis karena menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia yang sangat mendasar. Disamping itu tanah juga memiliki karakteristik yang bersifat multi-dimensi, multi-sektoral, multi-disiplin dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Sebagaimana diketahui masalah tanah memang merupakan masalah yang sarat dengan berbagai kepentingan, baik ekonomi, sosial, politik, bahkan untuk Indonesia, tanah juga mempunyai nilai religius yang tidak dapat diukur secara ekonomis. Sifat konstan tanah dan terus bertambahnya manusia yang membutuhkan tanah semakin menambah tinggi nilai tanah.
Dari waktu ke waktu, seiring dengan pertambahan penduduk, kemajuan teknologi dan industri, serta pergeseran budaya, jumlah kebutuhan akan tanah terus meningkat. Pergeseran budaya misalnya, telah merubah corak negara Indonesia yang dulu agraris menjadi negara yang secara perlahan mengarah pada negara Industri. Tanah yang dulu menjadi sumber mata pencaharian utama sebagian besar rakyat khususnya di bidang pertanian, kini pemanfaatannya bergeser sebagai lahan yang diperuntukkan bagi industri dan perdagangan.
Pola pemilikan dan penguasaan tanah juga semakin terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan. Keadaan ini berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya yang penghidupannya bergantung pada tanah. Kebijakan pembangunan pemerintah yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dengan fokus pembangunan di bidang industri dan perdagangan, tanpa memperhatikan masalah agraria sebagai basis pembangunan telah berdampak pada alih fungsi tanah sekaligus magernalisasi masyarakat pedesaan.
Alih fungsi tanah juga terjadi di daerah perkotaan. Seiring dengan meningkatnya aktivitas pembangunan khususnya di kota-kota besar, banyak lahan dan pemukiman penduduk di sekitar pusat pemerintahan dan pusat perdagangan beralih fungsi menjadi pabrik, pertokoan, atau fasilitas umum lainnya. Meningkatnya kebutuhan akan tanah yang diperuntukkan bagi kegiatan pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta membawa konsekuensi pada pemerintah untuk menyediakan lahan bagi kegiatan tersebut, sementara lahan yang tersedia bersifat terbatas. Keadaan ini memaksa pemerintah untuk melakukan pengambilalihan tanah rakyat.
prakteknya pengambilalihan tanah untuk kepentingan umum baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun swasta sering kali menjadi salah satu penyebab sengketa atas tanah yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. baik berupa konflik yang disebabkan oleh pengalihan hak milik warga atau hak ulayat masyarakat adat untuk kegiatan pembangunan atau investasi maupun sengketa tanah yang melibatkan pihak aparat seperti TNI dan Kepolisian.
BPN menyebutkan sekitar 2.865 kasus sengketa tanah skala besar yang belum selesai dan berdampak pada terhambatnya penyelesaian pendaftaran dan pemberian hak atas tanah (Sinar Harapan:2007). Tulisan ini mencoba untuk mengkaji apa yang menjadi akar permasalahan konlfik pertanahan di Indonesia dan upaya untuk mengatasi hal tersebut?
Penggunaan Tanah Untuk Kegiatan Pembangunan
Problematika pengelolaan tanah muncul menjadi persoalan besar dan memburuk sejak diberlakukannya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I yang merupakan titik awal pembangunan ekonomi melalui penerapan strategi pertumbuhan ekonomi (Mahanani, 2001: 21). Pelaksanaan strategi ini membutuhkan investasi dan modal besar melalui para investor baik domestik maupun asing, sedangkan kegiatan investasi itu sendiri memerlukan lahan sebagai sarananya baik melalui penggunaan tanah negara yang tersedia maupun melalui pengambilalihan tanah rakyat. Tindakan pengambilalihan tanah yang dilakukan oleh pemerintah tidak jarang dilakukan melalui cara-cara yang otoriter dan pada akhirnya menempatkan rakyat dalam posisi yang berseberangan dengan pemerintah.
Implementasi strategi pembangunan nasional sangat berpengaruh pada pelaksanaan Hak Menguasai Negara yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan menerapkan kebijakan pertanahan yang arah dan tujuannya untuk mendukung pelaksanaan pembangunan tersebut. Berbagai peraturan pertanahan dan peraturan lainnya yang memerlukan akses tanah cenderung mengedepankan kepentingan pemilik modal. Lemahnya posisi rakyat terutama terhadap akses informasi pertanahan seperti sertifikasi dan keterbatasan pengetahuan akan hak-hak yang dimilikinya menjadikannya sasaran kesewenang-wenangan.
JALAN BARU GERAKAN RAKYAT PEKERJA MELAWAN NEOLIBERALISME
Sekiranya tema di atas bukanlah lagi menjadi barang baru bagi organisasi kita dalam melakukan pembacaan situasi hari ini. Jalan baru yang kita maksud adalah sebuah alternatif lain dalam berhadapan dengan Neoliberalisme yang kita pandang sebagai musuh bersama! Neoliberalisme telah melakukan sekian metemorfosa dalam melakukan penindasan-penghisapan terhadap rakyat, dan oleh karena itu pula mesin berkekuatan besar tersebut tidak mudah untuk dihancurkan. Hal ini tentu pula menjadi tantangan dalam kerja-kerja perubahan yang sedang dan akan terus kita kerjakan. Kiranya tak ada jawaban yang lebih konkrit untuk menjawab tantangan kerja tersebut selain melakukan terobosan aplikatif gagasan NDK sebagai antitesa atas situasi sosial hari ini.
Bersandar atas itu semua, bacaan ini semoga dapat membantu memberikan sebuah gambaran yang menyeluruh atas kerja-kerja organisasi kita ke depan. Di samping itu, begitu banyak percepatan laju gerak kader baik yang berada di dalam lingkup organisasi maupun tidak, menuntut kita untuk segera menemukan penyelarasan kerja di semua lini agar eksperimentasi yang telah dilakukan bisa menjadi suatu kerja-kerja organik yang sedikitnya mampu menjadi langkah kecil kita menuju cita-cita bersama atas pensemestaan Nasional Demokrasi Kerakyatan.
Pemanasan Global (Global Warming) & Model Pembangunan Neoliberalisme
Pemanasan global (global warming) akhir-akhir ini telah mengemuka menjadi isu sentral yang mengemuka di belahan dunia manapun. Selain itu, International Panel On Climate Change (IPCC) memperkirakan, kenaikan suhu bumi antara 0,5-2,0 derajat celcius tiap tahun terjadi peningkatan air laut hingga 10-12 cm, jika pemanasan global tidak ditekan, tahun 2010 air laut akan meninggi sampai 95 cm. Bahkan polusi semakin menggila, apabila karbondioksida (zat sisa pembakaran meningkat dua kali lipat bisa dipastikan temperatur bumi bakal menaik 4,5 derajat celcius. Pemanasan global juga memusnahkan 30 persen satwa dan tumbuhan Indonesia akibat kenaikan suhu 0,2-1 derajat celcius dalam 34 tahun terakhir ini. Tidak dapat diragukan lagi bahwa iklim bumi berubah karena tindakan manusia dan bukan karena sebab alami. Efek Rumah Kaca disebabkan oleh emisi gas-gas rumah kaca (GRK) semacam karbon dioksida, methane dan CFC. Gas-gas tersebut berasal dari dibakarnya bahan bakar fosil dan penebangan hutan. Perubahan seperti ini dapat berdampak drastis. Pola cuaca akan berubah, menyebabkan banjir, kemarau yang panjang dan mungkin musim dingin yang malah lebih dingin lagi di berbagai bagian dunia. Dengan melelehnya gunung-gunung es, laut akan pasang dan akan membanjiri daratan.
Di AS sudah ada gelombang panas yang menewaskan 200 an orang. Di China bagian tengah, Danau Donghu, Wuhan, Provinsi Hubei ribuan ikan seberat 30.000 kilogram mati karena polusi dan cuaca panas (Kompas, Jum’at, 13/07). Dampak ekologis tersebut terjadi akibat industri yang dijalankan sama sekali tidak memerhatikan keseimbangan tatanan struktur alam yang ada sehingga dampaknya pun akhirnya mengakibatkan bencana yang tak terelakkan lagi bagi mahluk hidup lainnya, termasuk manusia.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa pola manusia dalam memenuhi tuntutan ekonomisnya tidak bisa dipisahkan dari faktor alam yang melingkupinya. Semuanya memiliki keterkaitan erat antara yang satu dengan yang lain. Keseimbangan ekosistem ternyata turut juga dipengaruhi dari tata cara manusia dalam menjalani kehidupan dengan sekian tuntutannya. Hal ini terbukti dari meningkatnya suhu panas bumi akibat proses industrialisasi yang dijalankan tidak memerhatikan aspek lingkungan.
Pada akhirnya, sudah tidak bisa dihindari lagi bahwa permasalahan pemanasan global akan memberikan dampak masalah yang kompleks mulai dari persoalan ekonomi, lingkungan hidup, bahkan sampai kelestarian spesies mahluk hidup. Namun bila diteliti lebih jauh, fenomena perubahan iklim lebih disebabkan karena kompetensi laju gerak industri negara-negara maju yang membabi buta. Artinya, kampanye atas isu global warming sesungguhnya tidak lain hanya sebuah ketakutan para pemodal internasional akan "krisis" sumber daya alam yang pada nantinya akan mengancam keberadaan industri negara-negara maju itu sendiri dimana industri yang dijalankan tersebut amat sangat bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki negara-negara dunia ketiga.
Artinya, mode produksi kapitalisme yang membabi buta pasca terjadinya revolusi industri telah menyebabkan keseimbangan alam menjadi tidak terjaga. Seiring dengan itu semua, kebutuhan atas industrialisasi telah mendorong perjalanan sejarah peradaban manusia untuk meningkatkan kualitas pemenuhan kebutuhan hidupnya sehingga kemudian dimulailah babak baru baru untuk mencari bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industrinya di negara-negara dunia ketiga.
Pada akhirnya hubungan antara negara-negara maju dengan negara-negara dunia ketiga menciptakan hubungan antara negara pusat dengan negara pinggiran. Hubungan ini sangat tidak adil dalam perkembangannya, karena negara pusat hanya menjadikan negara pinggiran sebagai wilayah yang dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan industri negara pusat yang ironisnya tidak disertai dengan transformasi tekhnologi. Industrialisasi yang dilakukan negara-neara maju ini terjadi terus menerus membabi buta dengan menjadikan negara dunia ketiga sebagai korban karena sumber daya alam yang harusnya diperuntukkan bagi kemakmuran rakyatnya harus tersedot demi berlangsungnya industrialisasi.
Artinya, permasalahan sesungguhnya yang dihadapi umat manusia saat ini adalah mode prouksi global yang bertumpu pada sektor industri. Industri, sesungguhnya tidak selalu menghasilkan efek buruk bagi masyarakat jika saja industri tersebut berlandaskan kebutuhan masyarakat dan memerhatikan alam sebagai penyedia bahan baku. Akan ettapi praktek industrialisasi yang terjadi di dunia ketiga tidak memerhatikan kondisi yang dialami masyarakat saat ini. Industrialisasi yang berlangsung notabene adalah kepanjangan tangan dari ekonomi neoliberal untuk menghabisi kekuatan ekonomi nasional negara-negara pinggiran
PENDIDIKAN VS POLITIK?
Tulisan saya tentang politik dan pendidikan bukan memperbincangkan pertarungan antara pendidik dan politisi, tetapi lebih mengutamakan hubungan politik dan pendidikan karena pada hakikatnya politik & pendidikan adalah hubungan yang sangat kompleks.
Pendidikan di Indonesia begitu kompleks ketika diperbincangkan hampir sama halnya dengan politik yang begitu carut marut ketika dibicarakan. Kedudukan politik didalam Islam sama pentingnya dengan pendidikan. Tanpa otoritas politik, syariat Islam sulit bahkan mustahil untuk ditegakkan kekuasaan adalah sarana untuk mempertahankan syiar Islam.
Pendidikan bergerak dalam usaha menyadarkan umat untuk menjalankan syariat. Umat tidak akan mengerti syariat tanpa pendidikan.
Bila politik berfungsi mengayomi dari atas, maka pendidikan melakukan pembenahan lewat arus bawah. Pemikiran Plato soal pendidikan & politik telah tertulis dalam bukunya yang berjudul Republica, Plato meyakini adanya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan & Aktivitas politik.
Dalam ungkapan Abernethy & combee, pendidikan & politik saling terkait tanpa bisa dipisahkan. Menurut mereka, hubungan timbal balik antara pendidikan dan pendidikan politik dapat terjadi melalui tiga aspek
- pembentukan sikap kelompok
- masalah pengangguran
- peranan politik kaum cendekia
ORGANISASI ATAU SEKEDAR POPULARITAS
Tidak ada yang abu-abu dalam berorganisasi. Yang ada hanya hitam & putih baik dan buruk. Kalaupun organisasi yang anda masuki terlihat baik, bisa saja hanya tipuan . Lama-kelamaan kamu baru menyadari bahwa organisasi tersebut merugikan.
Organisasi yang hanya mengedapnkan aspek pencitraan dibanding keilmuan maka organisasi tersebut hanya mengejar popularitas. Terkadang kualitas organisasi hanya ditentukan dari segi kuantitas.
Dengarkan hati kecilmu saat berorganisasi. Jika didalam organisasimu kamu merasa tertekan dan tidak bahagia, lebih baik tinggalkan masih banyak organisasi yang bisa menghargai para anggotanya. Buat apa bertahan di organisasi tersebut jika hanya memberikan kebahagian semu bernama popularitas!!
FILOSOFI PANGGILAN 'BUNG'
Kata “Bung” kerap menjadi sebutan panggilan bagi kawan - kawan kami di Fokmad. Panggilan “Bung” juga ditemukan di Tanah Melayu, khususnya di negeri Pahang, dengan arti yang sama. Jika “Bang” lebih merupakan sebutan kekerabatan terhadap kakak, atau sebutan umum untuk menuakan seseorang, maka “Bung” justru berkesan menghapus jenjang itu. Dalam “Bung” terkandung sikap egalitarian, tanpa menanggalkan rasa hormat di antara penggunanya.
Dalam kondisi perang, “Bung” menemukan wataknya yang revolusioner, sehingga digunakan sebagai sapaan kebanggaan di antara para pejuang. Tak mengherankan, ketika “Bung” yang melekat pada nama para pejuang itu, diingat pula sebagai sebutan bagi pahlawan, seperti terpantul dari sajak Chairil Anwar, Krawang Bekasi yang berbunyi:
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir
Kata “Bung” pun menjadi keteguhan bangkit dan melawan! Pada saat itu, muncul poster yang terlukis sebagai gambar orang yang dirantai, tetapi rantai itu sudah putus. Lalu, seorang penyair, Chairil Anwar memberi kata :
“Boeng, ajo boeng.”
Dalam catatan sejarah perubahan, kaum muda memiliki peran dan andil yang sangat besar terhadap perubahan yang terjadi di Nusantara ini. Mereka berdeterminasi untuk memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan rakyat. Namun demikian, jati diri pemudi-pemuda Indonesia yang ingin menjadi Agent of Change,Social of Control, & Moral of Force nampaknya sudah memudar.
Seperti yang dapat kita saksikan, kondisi bangsa saat ini penuh dengan berbagai persoalan kompleks.
Kini, sebutan “Bung” jarang terdengar sebagai panggilan publik bagi pemimpin kita. Sejarah kata “Bung” pun sama sekali tidak masuk ke bangku-bangku sekolah. Begitulah, “Bung” menguap seperti asap. Mungkin karena revolusi dirasa telah selesai, atau mungkin sebutan “Bung” memprasyaratkan penyandangnya berbuat sesuatu tanpa pamrih. Hal ini yang terasa langka pada masa sekarang. Mungkin juga, hubungan antara pemimpin dan rakyat cenderung semakin berjarak, sehingga tidak perlu sapaan lagi bagi seorang pemimpin.












