Paradoks Waktu Dan Uang

Beda dulu, beda sekarang... mungkin kalimat ini yang paling tepat menggambarkan penduduk bumi yang semakin kompleks. Jumlah manusia bertambah dan jenis pekerjaan pun semakin banyak hingga menjadi tumpukan kewajiban. Pada akhirnya, orang-orang bekerja, tapi di sisi lain, mereka mulai menghitung waktu sebagai uang.
Buruh-buruh pabrik harus menggerakkan tangan dengan cepat untuk membuat banyak barang, sedangkan sopir-sopir truk bermuatan harus mengirimkannya tepat waktu. Lalu, alat transportasi seperti pesawat, kapal laut, dan motor harus berangkat tepat waktu dan mesin pabrik tidak boleh berhenti meski hanya satu jam. Sebab, akan muncul kesalahn fatal jika sampai tidak tepat waktu. Dunia yang berputar pada porosnya seperti jarum jam, membuat waktu dinilai sama dengan uang
Pernyataan dari Benjamin Franklin yang menulis dasar deklarasi kemerdekaan Amerika, dengan jelas telah menunjukkan waktu adalah uang. Ketika Franklin berusia 17 tahun dan bekerja sebagai penjaga toko buku, seorang pengunjung menanyakan harga buku. Franklin menjawab 1 dolar dan pengunjung itu meminta diskon. Lalu, Franklin berkata harga bukunya menjadi  1 dolar 10 sen. Pengunjung itu terkejut, lalu membayar 1 dolar. Tapi kemudian, Franklin berkata lagi harga buku itu 1 dolar 20 sen yang menekankan kepada pengunjung itu untuk membayar kekurangannya. Pengunjung itupun marah kemudian menanyakan alasan Franklin menaikkan harga buku, Franklin menjawab, "waktu lebih berharga daripada uang. Karena anda mengambil waktu saya, bukankah pantas kalau anda harus membayar lebih atas pemakaian waktu dari harga buku?"

Pada hakikatnya waktu dan uang terperangkap dalam paradoks... yang mungkin bisa dinamai paradoks Waktan(Waktu & Uang). Waktu dan uang secara tidak langsung memiliki hubungan yang sangat dekat. Apa kalian tahu alasan kenapa kata "waktu adalah uang" dalam msyarakat modern menjadi pepatah paling penting???


KADER FOKMAD ANGKATAN IV

Berjuang melawan kekuasaan sama saja berjuang melawan lupa.

Problematika Pengelolaan Tanah (Eksklusif Hari Tani)

Tanah merupakan sumber daya penting dan strategis karena menyangkut hajat hidup seluruh rakyat Indonesia yang sangat mendasar. Disamping itu tanah juga memiliki karakteristik yang bersifat multi-dimensi, multi-sektoral, multi-disiplin dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Sebagaimana diketahui masalah tanah memang merupakan masalah yang sarat dengan berbagai kepentingan, baik ekonomi, sosial, politik, bahkan untuk Indonesia, tanah juga mempunyai nilai religius yang tidak dapat diukur secara ekonomis. Sifat konstan tanah dan terus bertambahnya manusia yang membutuhkan tanah semakin menambah tinggi nilai tanah.

 

Dari waktu ke waktu, seiring dengan pertambahan penduduk, kemajuan teknologi dan industri, serta pergeseran budaya, jumlah kebutuhan akan tanah terus meningkat. Pergeseran budaya misalnya, telah merubah corak negara Indonesia yang dulu agraris menjadi negara yang secara perlahan mengarah pada negara Industri. Tanah yang dulu menjadi sumber mata pencaharian utama sebagian besar rakyat khususnya di bidang pertanian, kini pemanfaatannya bergeser sebagai lahan yang diperuntukkan bagi industri dan perdagangan.

 

Pola pemilikan dan penguasaan tanah juga semakin terkonsentrasi pada sekelompok kecil masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan. Keadaan ini berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya yang penghidupannya bergantung pada tanah. Kebijakan pembangunan pemerintah yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dengan fokus pembangunan di bidang industri dan perdagangan, tanpa memperhatikan masalah agraria sebagai basis pembangunan telah berdampak pada alih fungsi tanah sekaligus magernalisasi masyarakat pedesaan.

Alih fungsi tanah juga terjadi di daerah perkotaan. Seiring dengan meningkatnya aktivitas pembangunan khususnya di kota-kota besar, banyak lahan dan pemukiman penduduk di sekitar pusat pemerintahan dan pusat perdagangan beralih fungsi menjadi pabrik, pertokoan, atau fasilitas umum lainnya. Meningkatnya kebutuhan akan tanah yang diperuntukkan bagi kegiatan pembangunan baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta membawa konsekuensi pada pemerintah untuk menyediakan lahan bagi kegiatan tersebut, sementara lahan yang tersedia bersifat terbatas. Keadaan ini memaksa pemerintah untuk melakukan pengambilalihan tanah rakyat.

prakteknya pengambilalihan tanah untuk kepentingan umum baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun swasta sering kali menjadi salah satu penyebab sengketa atas tanah yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. baik berupa konflik yang disebabkan oleh pengalihan hak milik warga atau hak ulayat masyarakat adat untuk kegiatan pembangunan atau investasi maupun sengketa tanah yang melibatkan pihak aparat seperti TNI dan Kepolisian.

BPN menyebutkan sekitar 2.865 kasus sengketa tanah skala besar yang belum selesai dan berdampak pada terhambatnya penyelesaian pendaftaran dan pemberian hak atas tanah (Sinar Harapan:2007). Tulisan ini mencoba untuk mengkaji apa yang menjadi akar permasalahan konlfik pertanahan di Indonesia dan upaya untuk mengatasi hal tersebut?

Penggunaan Tanah Untuk Kegiatan Pembangunan

Problematika pengelolaan tanah muncul menjadi persoalan besar dan memburuk sejak diberlakukannya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I yang merupakan titik awal pembangunan ekonomi melalui penerapan strategi pertumbuhan ekonomi (Mahanani, 2001: 21). Pelaksanaan strategi ini membutuhkan investasi dan modal besar melalui para investor baik domestik maupun asing, sedangkan kegiatan investasi itu sendiri memerlukan lahan sebagai sarananya baik melalui penggunaan tanah negara yang tersedia maupun melalui pengambilalihan tanah rakyat. Tindakan pengambilalihan tanah yang dilakukan oleh pemerintah tidak jarang dilakukan melalui cara-cara yang otoriter dan pada akhirnya menempatkan rakyat dalam posisi yang berseberangan dengan pemerintah.

Implementasi strategi pembangunan nasional sangat berpengaruh pada pelaksanaan Hak Menguasai Negara yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan menerapkan kebijakan pertanahan yang arah dan tujuannya untuk mendukung pelaksanaan pembangunan tersebut. Berbagai peraturan pertanahan dan peraturan lainnya yang memerlukan akses tanah cenderung mengedepankan kepentingan pemilik modal. Lemahnya posisi rakyat terutama terhadap akses informasi pertanahan seperti sertifikasi dan keterbatasan pengetahuan akan hak-hak yang dimilikinya menjadikannya sasaran kesewenang-wenangan.

JALAN BARU GERAKAN RAKYAT PEKERJA MELAWAN NEOLIBERALISME

Sekiranya tema di atas bukanlah lagi menjadi barang baru bagi organisasi kita dalam melakukan pembacaan situasi hari ini. Jalan baru yang kita maksud adalah sebuah alternatif lain dalam berhadapan dengan Neoliberalisme yang kita pandang sebagai musuh bersama! Neoliberalisme telah melakukan sekian metemorfosa dalam melakukan penindasan-penghisapan terhadap rakyat, dan oleh karena itu pula mesin berkekuatan besar tersebut tidak mudah untuk dihancurkan. Hal ini tentu pula menjadi tantangan dalam kerja-kerja perubahan yang sedang dan akan terus kita kerjakan. Kiranya tak ada jawaban yang lebih konkrit untuk menjawab tantangan kerja tersebut selain melakukan terobosan aplikatif gagasan NDK sebagai antitesa atas situasi sosial hari ini.

Bersandar atas itu semua, bacaan ini semoga dapat membantu memberikan sebuah gambaran yang menyeluruh atas kerja-kerja organisasi kita ke depan. Di samping itu, begitu banyak percepatan laju gerak kader baik yang berada di dalam lingkup organisasi maupun tidak, menuntut kita untuk segera menemukan penyelarasan kerja di semua lini agar eksperimentasi yang telah dilakukan bisa menjadi suatu kerja-kerja organik yang sedikitnya mampu menjadi langkah kecil kita menuju cita-cita bersama atas pensemestaan Nasional Demokrasi Kerakyatan.

Pemanasan Global (Global Warming) & Model Pembangunan Neoliberalisme
Pemanasan global (global warming) akhir-akhir ini telah mengemuka menjadi isu sentral yang mengemuka di belahan dunia manapun. Selain itu, International Panel On Climate Change (IPCC) memperkirakan, kenaikan suhu bumi antara 0,5-2,0 derajat celcius tiap tahun terjadi peningkatan air laut hingga 10-12 cm, jika pemanasan global tidak ditekan, tahun 2010 air laut akan meninggi sampai 95 cm. Bahkan polusi semakin menggila, apabila karbondioksida (zat sisa pembakaran meningkat dua kali lipat bisa dipastikan temperatur bumi bakal menaik 4,5 derajat celcius. Pemanasan global juga memusnahkan 30 persen satwa dan tumbuhan Indonesia akibat kenaikan suhu 0,2-1 derajat celcius dalam 34 tahun terakhir ini. Tidak dapat diragukan lagi bahwa iklim bumi berubah karena tindakan manusia dan bukan karena sebab alami. Efek Rumah Kaca disebabkan oleh emisi gas-gas rumah kaca (GRK) semacam karbon dioksida, methane dan CFC. Gas-gas tersebut berasal dari dibakarnya bahan bakar fosil dan penebangan hutan. Perubahan seperti ini dapat berdampak drastis. Pola cuaca akan berubah, menyebabkan banjir, kemarau yang panjang dan mungkin musim dingin yang malah lebih dingin lagi di berbagai bagian dunia. Dengan melelehnya gunung-gunung es, laut akan pasang dan akan membanjiri daratan.

Di AS sudah ada gelombang panas yang menewaskan 200 an orang. Di China bagian tengah, Danau Donghu, Wuhan, Provinsi Hubei ribuan ikan seberat 30.000 kilogram mati karena polusi dan cuaca panas (Kompas, Jum’at, 13/07). Dampak ekologis tersebut terjadi akibat industri yang dijalankan sama sekali tidak memerhatikan keseimbangan tatanan struktur alam yang ada sehingga dampaknya pun akhirnya mengakibatkan bencana yang tak terelakkan lagi bagi mahluk hidup lainnya, termasuk manusia.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa pola manusia dalam memenuhi tuntutan ekonomisnya tidak bisa dipisahkan dari faktor alam yang melingkupinya. Semuanya memiliki keterkaitan erat antara yang satu dengan yang lain. Keseimbangan ekosistem ternyata turut juga dipengaruhi dari tata cara manusia dalam menjalani kehidupan dengan sekian tuntutannya. Hal ini terbukti dari meningkatnya suhu panas bumi akibat proses industrialisasi yang dijalankan tidak memerhatikan aspek lingkungan.

Pada akhirnya, sudah tidak bisa dihindari lagi bahwa permasalahan pemanasan global akan memberikan dampak masalah yang kompleks mulai dari persoalan ekonomi, lingkungan hidup, bahkan sampai kelestarian spesies mahluk hidup. Namun bila diteliti lebih jauh, fenomena perubahan iklim lebih disebabkan karena kompetensi laju gerak industri negara-negara maju yang membabi buta. Artinya, kampanye atas isu global warming sesungguhnya tidak lain hanya sebuah ketakutan para pemodal internasional akan "krisis" sumber daya alam yang pada nantinya akan mengancam keberadaan industri negara-negara maju itu sendiri dimana industri yang dijalankan tersebut amat sangat bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki negara-negara dunia ketiga.

Artinya, mode produksi kapitalisme yang membabi buta pasca terjadinya revolusi industri telah menyebabkan keseimbangan alam menjadi tidak terjaga. Seiring dengan itu semua, kebutuhan atas industrialisasi telah mendorong perjalanan sejarah peradaban manusia untuk meningkatkan kualitas pemenuhan kebutuhan hidupnya sehingga kemudian dimulailah babak baru baru untuk mencari bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industrinya di negara-negara dunia ketiga.

Pada akhirnya hubungan antara negara-negara maju dengan negara-negara dunia ketiga menciptakan hubungan antara negara pusat dengan negara pinggiran. Hubungan ini sangat tidak adil dalam perkembangannya, karena negara pusat hanya menjadikan negara pinggiran sebagai wilayah yang dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan industri negara pusat yang ironisnya tidak disertai dengan transformasi tekhnologi. Industrialisasi yang dilakukan negara-neara maju ini terjadi terus menerus membabi buta dengan menjadikan negara dunia ketiga sebagai korban karena sumber daya alam yang harusnya diperuntukkan bagi kemakmuran rakyatnya harus tersedot demi berlangsungnya industrialisasi.

Artinya, permasalahan sesungguhnya yang dihadapi umat manusia saat ini adalah mode prouksi global yang bertumpu pada sektor industri. Industri, sesungguhnya tidak selalu menghasilkan efek buruk bagi masyarakat jika saja industri tersebut berlandaskan kebutuhan masyarakat dan memerhatikan alam sebagai penyedia bahan baku. Akan ettapi praktek industrialisasi yang terjadi di dunia ketiga tidak memerhatikan kondisi yang dialami masyarakat saat ini. Industrialisasi yang berlangsung notabene adalah kepanjangan tangan dari ekonomi neoliberal untuk menghabisi kekuatan ekonomi nasional negara-negara pinggiran

PENDIDIKAN VS POLITIK?

Tulisan saya tentang politik dan pendidikan bukan memperbincangkan pertarungan antara pendidik dan politisi, tetapi lebih mengutamakan hubungan politik dan pendidikan karena pada hakikatnya politik & pendidikan adalah hubungan yang sangat kompleks.

Pendidikan di Indonesia begitu kompleks ketika diperbincangkan hampir sama halnya dengan politik yang begitu carut marut ketika dibicarakan. Kedudukan politik didalam Islam sama pentingnya dengan pendidikan. Tanpa otoritas politik, syariat Islam sulit bahkan mustahil untuk ditegakkan kekuasaan adalah sarana untuk mempertahankan syiar Islam.

Pendidikan bergerak dalam usaha menyadarkan umat untuk menjalankan syariat. Umat tidak akan mengerti syariat tanpa pendidikan.
Bila politik berfungsi mengayomi dari atas, maka pendidikan melakukan pembenahan lewat arus bawah. Pemikiran Plato soal pendidikan & politik telah tertulis dalam bukunya yang berjudul Republica, Plato meyakini adanya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan & Aktivitas politik.

Dalam ungkapan Abernethy & combee, pendidikan & politik saling terkait tanpa bisa dipisahkan. Menurut mereka, hubungan timbal balik antara pendidikan dan pendidikan politik dapat terjadi melalui tiga aspek
- pembentukan sikap kelompok
- masalah pengangguran
- peranan politik kaum cendekia

ORGANISASI ATAU SEKEDAR POPULARITAS

Tidak ada yang abu-abu dalam berorganisasi. Yang ada hanya hitam & putih baik dan buruk. Kalaupun organisasi yang anda masuki terlihat baik, bisa saja hanya tipuan . Lama-kelamaan kamu baru menyadari bahwa organisasi tersebut merugikan.
Organisasi yang hanya mengedapnkan aspek pencitraan dibanding keilmuan maka organisasi tersebut hanya mengejar popularitas. Terkadang kualitas organisasi hanya ditentukan dari segi kuantitas.
Dengarkan hati kecilmu saat berorganisasi. Jika didalam organisasimu kamu merasa tertekan dan tidak bahagia, lebih baik tinggalkan masih banyak organisasi yang bisa menghargai para anggotanya. Buat apa bertahan di organisasi tersebut jika hanya memberikan kebahagian semu bernama popularitas!!

Bagaimana Menjadi Laut??

Dunia Yang Bermoral???

FILOSOFI PANGGILAN 'BUNG'

Kata “Bung” kerap menjadi sebutan panggilan bagi kawan - kawan kami di Fokmad. Panggilan “Bung” juga ditemukan di Tanah Melayu, khususnya di negeri Pahang, dengan arti yang sama. Jika “Bang” lebih merupakan sebutan kekerabatan terhadap kakak, atau sebutan umum untuk menuakan seseorang, maka “Bung” justru berkesan menghapus jenjang itu. Dalam “Bung” terkandung sikap egalitarian, tanpa menanggalkan rasa hormat di antara penggunanya.

Dalam kondisi perang, “Bung” menemukan wataknya yang revolusioner, sehingga digunakan sebagai sapaan kebanggaan di antara para pejuang. Tak mengherankan, ketika “Bung” yang melekat pada nama para pejuang itu, diingat pula sebagai sebutan bagi pahlawan, seperti terpantul dari sajak Chairil Anwar, Krawang Bekasi yang berbunyi:
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir

Kata “Bung” pun menjadi keteguhan bangkit dan melawan! Pada saat itu, muncul poster yang terlukis sebagai gambar orang yang dirantai, tetapi rantai itu sudah putus. Lalu, seorang penyair, Chairil Anwar memberi kata :
“Boeng, ajo boeng.”

Dalam catatan sejarah perubahan, kaum muda memiliki peran dan andil yang sangat besar terhadap perubahan yang terjadi di Nusantara ini. Mereka berdeterminasi untuk memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan rakyat. Namun demikian, jati diri pemudi-pemuda Indonesia yang ingin menjadi Agent of Change,Social of Control, & Moral of Force nampaknya sudah memudar.
Seperti yang dapat kita saksikan, kondisi bangsa saat ini penuh dengan berbagai persoalan kompleks.

Kini, sebutan “Bung” jarang terdengar sebagai panggilan publik bagi pemimpin kita. Sejarah kata “Bung” pun sama sekali tidak masuk ke bangku-bangku sekolah. Begitulah, “Bung” menguap seperti asap. Mungkin karena revolusi dirasa telah selesai, atau mungkin sebutan “Bung” memprasyaratkan penyandangnya berbuat sesuatu tanpa pamrih. Hal ini yang terasa langka pada masa sekarang. Mungkin juga, hubungan antara pemimpin dan rakyat cenderung semakin berjarak, sehingga tidak perlu sapaan lagi bagi seorang pemimpin.

KETUA BARU FPPI PERIODE 2016-2018

Selamat atas terpilihnya Trisno sebagai ketua baru FPPI Kota Makassar

ANTIVIRUS ORGANISASI??

Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini muncul dari hiruk pikuk yang terjadi ketika organisasi mengalami gangguan dan orang lalu mengatakan bahwa gangguan itu timbul sebagai akibat "ada"-nya suatu virus. Berbagai usaha mengatasi hal itu biasanya dilakukan dengan mengaktivasi program-program yang kategorinya disebut AntiVirus jika dianalogikan pada komputer.

Sebagai istilah yang sebelumnya hanya lazim di lingkungan biomedis, term VIRUS ketika digunakan untuk menjelaskan ihwal gangguan atas komputer ada hubungannya dengan mekanisme internal komputer yang disebut BIOS yang sekilas lalu memang identik dengan peristilahan BIOLOGI. Padahal, istilah BIOS yang berlaku dalam komputer adalah kependekan dari BI yang artinya GANDA dan OS yang merupakan singkatan dari OperatingSystem.

Kenapa komputer berlaku dengan pengerjaan dua sistem operasi ada kaitannya dengan bahwa performa komputer sebagai mesin dari tampilan luarnya adalah seperti televisi yang digabung dengan mesin ketik dalam konfigurasi tertentu berbasis klasifikasi memmory. Walau hal itu hanyalah gambaran dari tampilan luar, penting tentunya kita memahami perbedaan atau mungkin juga persamaan antara komputer dengan televisi di satu sisi dan perbedaan dan atau persamaan komputer dengan mesin ketik.

Paling tidak, pertanyaan yang muncul adalah menyangkut bagaimanakah kita mengusahakan terminasi yang memadai antara BIOS dengan periode yang terbentuk sejak berlakunya status DualCore daripada processor sebagaimana menjadi ikon mutakhir dari produk IT.

Mengenai pertanyaan atas bagaimanakah kita memeriksa Virus dan AntiVirus kisaran pembahasannnya adalah mengenai hal yang mungkin timbul menjadi masalah justru ketika kita menggunakan istilah ANTI dalam program yang digunakan mengatasi gangguan virus-virus yang ada. Bukan tidak mungkin dibutuhkan perlakuan baru ketika konfigurasi AntiVirus malah melahirkan virus-virus baru yang lebih kuat dan sulit diidentifikasi. Salam Perjuangan!

Lawan Kriminalisasi Gerakan Rakyat dan Wujudkan Demokrasi Sejati

                    Demokrasi yang telah diperjuangkan dengan tetesan darah oleh gerakan mahasiswa dan rakyat hingga berhasil menumbangkan rezim otoriter dengan memaksa Soeharto mengumumkan pengunduran diri pada 21 Mei 1998. Kini telah tiada setelah berkuasa selama 32 tahun diatas jutaan nyawa rakyat tak berdosa) namun politik orde baru masih terus berjalan, para kroni Soeharto-orba masih berkuasa hingga saat ini. Berbagai tragedi masa lalu (seperti: pembantaian massal 1965, MALARI , AMARAH, TANJUNG PRIOK, MARSINAH, PAPUA, SEMANGGI) hingga kini belum juga terselesaikan. Alih-alih menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu, kini berbagai pelanggaran HAM dan pembungkaman demokrasi terus dilancarkan oleh pemerintahan pasca Soeharto hingga sekarang Joko Widodo. Sebut saja penembakan petani Takalar, pembunuhan warga pampang Makassar saat aksi menolak kenaikan harga BBM, pemukulan terhadap aksi-aksi mahasiswa, pelarangan pemutaran film-film tertentu, hingga pembubaran paksa aksi damai Gerakan Buruh Indonesia (GBI) yang berlanjut pasa pengkriminalisasian/ancaman pidana.

                    Pemerintahan Joko Widodo jelas hanya berpihak pada kepentingan Modal-investor, tak boleh ada aktivitas yang bisa menghambat laju perputaran kapital. Dengan dalih stabilitas, semua rakyat harus tunduk, tak boleh ada yang melakukan Demo menuntut kesejahteraan, pemutaran film tertentu (Senyap,Samin Vs Semen dll) bahkan diskusi pun dibatasi walau dikampus sekalipun, tempat dimana ide dan intelektualitas dipertarungkan, kini kampus hanya menjadi tempat dimana anak muda di didik untuk menjadi buruh murah yang Patuh. (AMI,30 Oktober 2015)

SUDAH SAATNYA KITA MENGGUGAT DOSEN

Sudah saatnya kita menggugat dosen, mungkin itu kata yang tepat bagi kawan-kawan mahasiswa saat ini. Berbagai banyaknya problematika dosen yang kita liat saat ini , seharusnya sudah mampu menyadarkan mahasiswa agar menggugat dosen.

Dosen bukanlah dewa, dan mahasiswa bukanlah kerbau yang selalu mau digiring(Adaptasi Soe Hoek Gie), Tetapi yang saya harus tegaskan disini gak semua dosen yang harus digugat hanya beberapa. Dosen yang selalu datang terlambat, dosen yang selalu merasa benar, dosen yang tak tahan kritik.... Secara garis besar Mungkin itulah Dosen yang pantas masuk ke keranjang sampah.

Kehendak akan kebenaran  atau Saya tidak pernah salah lah yang mungkin dipakai dosen tersebut untuk mendidik mahasiswanya. Bayangkan saja masih ada saja  dosen yang saya dapati tidak mampu membedakan mendidik dengan mengajar sekaligus tidak memberi contoh teladan yang baik dan masih ada dosen yang salah dalam menyampaikan pasal-pasal... Anehkan???

Sebagai Agent of Change & Social of Control sudah saatnya kita menggugat Dosen!!!!
"MENOLAK TUNDUK MENUNTUT TANGGUNG JAWAB"

Moralitas Itu Berbahaya (Rumah Filsafat)

 Moralitas Itu Berbahaya

Ada satu pola menarik di dalam sejarah. Para pelaku kejahatan terbesar justru adalah orang-orang yang hidup dalam bayang-bayang moralitas. Para penguasa Persia di masa lalu merasa bermoral tinggi, dan melakukan penaklukan ke berbagai penjuru Timur Tengah. Para penguasa Mesir di masa lalu merasa bermoral tinggi, dan memperbudak penduduknya sendiri untuk membangun Piramid.
Orang-orang Yahudi mengaku bangsa bermoral dan bertuhan. Namun, mereka yang menyalibkan Yesus, tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Kekaisaran Ottoman Turki mengaku bermoral dan bertuhan. Namun, mereka melakukan penaklukan berdarah ke berbagai penjuru negara Timur Tengah.

Eropa mengaku sebagai benua yang beradab dan bertuhan. Namun, mereka memperbudak dan menjajah begitu banyak bangsa selama kurang lebih 500 tahun. Hitler hidup dalam panduan moral yang tinggi. Ia menjadi otak sekaligus pelaksana pembantaian orang-orang Yahudi di masa perang dunia kedua.

Amerika Serikat mengaku bangsa yang bermoral dan bertuhan. Namun, mereka menjadi otak dari begitu banyak pembantaian massal di berbagai penjuru dunia di abad 20. Kini, para teroris dengan pandangan Islam ekstrimisnya menjadi pelaku kekerasan di berbagai penjuru dunia. Mereka juga mengaku bermoral dan bertuhan.

Mengapa ini terjadi? Mengapa orang-orang yang mengaku bermoral, bertuhan dan beragama justru menjadi pelaku kejahatan-kejahatan terbesar di dalam sejarah? Saya berpendapat, bahwa sumber dari segala kejahatan ini justru lahir dari moralitas itu sendiri. Moralitas bukanlah solusi atas kejahatan, melainkan justru akar dari kejahatan itu sendiri.


Moralitas

Moralitas adalah pertimbangan baik dan buruk. Apakah suatu tindakan baik? Apakah suatu tindakan buruk? Keputusan apa yang baik untuk saya ambil? Inilah kiranya pertanyaan-pertanyaan terkait dengan moralitas.

Kita juga seringkali menggunakan pertimbangan moral dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup. Apakah pernikahan baik untuk saya? Pekerjaan mana yang baik untuk saya? Jahatkah saya, jika saya mengambil keputusan ini?

Satu hal yang pasti adalah, bahwa moralitas adalah pertimbangan pikiran. Ia terjadi di dalam pikiran manusia. Ia tidak ada secara nyata dan empiris di dalam kenyataan sehari-hari. Moralitas bukanlah kenyataan alamiah.

Apa itu kenyataan alamiah? Sesungguhnya, kenyataan alamiah tidak memiliki konsep atau kata untuk menjelaskannya. Ia adalah “sesuatu”. Para filsuf Eropa menyebutnya sebagai “Ada” (Being, Sein, to on). Para mistikus India menyebutnya sebagai “Diri” (the Self). Namun, sejatinya, ia tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Moralitas itu Berbahaya

Lalu, mengapa moralitas itu berbahaya? Moralitas, seperti saya jelaskan sebelumnya, selalu terkait dengan baik dan buruk. Jika sebuah pertimbangan dianggap buruk secara moral, maka orang akan menjauhinya. Jika sebuah pertimbangan dianggap baik secara moral, maka orang akan mengikutinya.

Namun, hidup tidak sesederhana itu. Apa yang buruk biasanya memikat. Apa yang baik biasanya membosankan. Inilah yang sekarang ini banyak terjadi.

Ketika orang melakukan yang buruk, maka ia akan memperoleh kenikmatan sementara. Namun, semua itu akan berakhir pada penyesalan dan penderitaan. Orang akan merasa bersalah, karena ia telah bertindak jahat. Tindakan tersebut telah menyakiti dirinya dan orang lain.

Orang yang suka berbohong memang kelihatan berhasil pada awalnya. Namun, semakin lama, jika ia terus berbohong, ia akan tenggelam di dalam kebohongannya. Ia tidak bisa lagi membedakan kenyataan dan kebohongan yang ia bangun sendiri. Ia pun hidup dalam penderitaan.

Sebaliknya, ketika orang bertindak baik, maka ia akan berusaha untuk mempertahankan tindakannya tersebut. Ia lalu melekat dan terikat dengan tindakan tersebut. Ia tergantung secara emosional dengan tindakan itu. Dalam perjalanan waktu, tindakan baik itu menghasilkan banyak tegangan batin di dalam dirinya.

Tegangan batin, pada akhirnya, akan menghancurkan tindakan baik tersebut. Yang muncul kemudian adalah perasaan bersalah, karena orang tak lagi mampu mempertahankan tindakan baik itu. Orang merasa munafik atau justru menjadi orang yang munafik. Ia justru malah menjadi kejam pada sesamanya dan dirinya sendiri. Tak heran, banyak pelaku kejahatan kejam di dalam sejarah justru adalah orang yang memiliki prinsip moral tinggi, atau bahkan amat religius.

Orang yang memegang erat prinsip jujur akan mengalami ketenangan batin pada awalnya. Namun, ia hanyalah manusia. Ia tidak bisa jujur setiap saat dan setiap waktu. Ada waktunya, ia perlu berbohong, seringkali dengan alasan-alasan yang masuk akal. Orang yang memegang erat prinsip jujur juga pada akhirnya akan berbohong juga. Ini akan melahirkan perasaan bersalah dan penderitaan yang amat dalam pada orang tersebut.

Jadi, tindakan buruk menghasilkan tegangan dan penderitaan. Tindakan baik juga menghasilkan ketegangan dan penderitaan. Keduanya melahirkan tegangan dan ketakutan di dalam batin. Dari  tegangan, penderitaan dan ketakutan batin tersebut, orang justru malah menjadi kejam pada orang lain, dan pada dirinya sendiri. Ini seperti lingkaran setan yang tak bisa diputuskan.

Moralitas menghasikan semacam keterpecahan kepribadian di dalam diri manusia. Ia terbelah antara harapan tentang dirinya sendiri, dan keadaan nyata di depan matanya tentang dirinya sendiri. Moralitas menghasilkan semacam neurosis di dalam pikiran manusia. Ia memiliki fungsi terbalik, yakni justru mendorong orang untuk menjadi tidak bermoral.


Moral dan keputusan

Sayangnya, kita seringkali menggunakan pertimbangan moral di dalam membuat keputusan. Pertimbangan moral, dan tindakan yang lahir darinya, selalu melahirkan ketegangan di dalam batin. Ketegangan batin berujung pada penderitaan batin. Banyak orang tak kuat menanggung tegangan dan penderitaan batin tersebut. Mereka justru menjadi orang yang paling kejam.

Maka, menurut saya, moralitas itu berbahaya. Ia mencoba menyelesaikan sebuah masalah dengan menciptakan masalah-masalah baru. Banyak negara yang mengaku bermoral justru bertindak kejam terhadap warganya dan terhadap negara lain. Ini lahir dari tegangan dan penderitaan yang sudah selalu tertanam di dalam moralitas itu sendiri.

Indonesia mengaku sebagai negara bermoral dan beragama. Semua orang berteriak soal moral dan agama. Namun, korupsi dan  kebohongan menyelubungi dunia politik kita. Diskriminasi dan kebencian mewarnai hidup bermasyarakat kita. Kita pun gemar menghukum mati orang-orang yang kita anggap tak layak hidup. Ini contoh yang amat pas untuk menggambarkan bahaya dari moralitas yang justru menghasilkan kemunafikan dan kekejaman.

Panduan Baru: Kejernihan Berpikir

Yang jelas, kita membutuhkan panduan lain dalam hidup kita, selain moralitas. Kita membutuhkan pijakan lain untuk membuat keputusan. Moralitas seolah menjadi jawaban, namun ia seringkali justru melahirkan masalah-masalah baru yang lebih besar. Moralitas adalah sesuatu yang harus dilampaui.

Saya menawarkan panduan lain, yakni kejernihan berpikir. Pertanyaan yang harus diajukan bukanlah “Apakah ini baik atau buruk?”, melainkan “Apakah ini lahir dari kejernihan berpikir, atau tidak?” Pikiran yang jernih berarti lepas dari pertimbangan baik dan buruk. Pikiran yang jernih berarti lepas dari pertimbangan untuk dan rugi.

Pikiran yang jernih bersifat alamiah. Ia muncul dari kesadaran diri manusia, dan bukan dari pertimbangan akal budi, baik-buruk atau untung-rugi. Pikiran yang jernih melihat situasi nyata. Ia bersikap tepat pada setiap keadaan yang terjadi.

Pikiran yang jernih tidak sibuk dengan masa lalu. Pikiran yang jernih menolak untuk melompat ke masa depan. Ia berfokus pada situasi disini dan saat ini. Ia memecahkan masalah sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Bagaimana melahirkan kejernihan berpikir? Caranya sederhana: stop melakukan analisis dan stop berpikir! Lakukan apa yang mesti dilakukan disini dan saat ini. Bertindaklah mengalir secara alamiah dari saat ke saat.

Berbohong bukanlah baik atau buruk. Ia amat tergantung pada kontqeks. Berbohong untuk menyelamatkan nyawa orang lain adalah tindakan yang lahir dari kejernihan berpikir. Membunuh untuk mempertahankan diri dan keluarga dari serangan perampok adalah tindakan yang juga lahir dari kejernihan berpikir. Membunuh dan berbohong adalah tindakan yang jernih, jika dilakukan secara tepat pada keadaan-keadaan tertentu.

Melampaui Moralitas

Ketika pertimbangan akal budi masuk, maka kejernihan hilang. Ketika orang sibuk memikirkan baik dan buruk, maka kejernihan hilang. Ketika orang sibuk memikirkan untung dan rugi, maka kejernihan hilang. Orang yang sibuk memikirkan baik dan buruk akan terus mengalami ketegangan di dalam hatinya.

Ia seperti hidup dalam penjara yang dibangun oleh pikirannya sendiri. Hal yang sama terjadi dengan orang yang selalu sibuk melakukan pertimbangan untuk dan rugi di dalam hidupnya. Hidupnya tidak akan pernah lepas dari kecemasan. Dari kecemasan itu, ia bisa bertindak kejam pada orang lain, dan pada dirinya sendiri.

Moralitas melahirkan ketegangan. Ketegangan mendorong sikap agresif. Sikap agresif lahir bisa diarahkan pada orang lain, atau pada diri sendiri. Selama orang masih melekat pada moralitas, selamanya ia akan terjebak pada lingkaran setan ketegangan dan penderitaan hidup.

Jalan keluar dari masalah ini hanya satu: kejernihan berpikir. Orang yang hidup dengan kejernihan pikiran tidak hanya berhasil dalam karir, tetapi juga menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati di dalam batinnya. Ia keluar dari lingkaran setan kehidupan yang dibangun oleh moralitas. Jadi, apakah pikiranmu sudah jernih?

Kajian Teoritis ( Sejarah Gerakan Rakyat)

        Dilihat dari sudut pandang dan sejarah,negara ini bagaikan pelacur(dijajah,dirampas,ditubuhi) lalu ditinggalkan seluruh perhiasan-perhiasan, Negara mulai dirampas pada era 1511 yang notabenenya adalah kenikmatan. Contohnya saja Portugis,Belanda,Inggris,Jepang yang hanya menggerogoti tubuh Hindia Belanda.
        Dilihat dari awal mulanya masuk kolonial di Hindia.Nusantara itu bermuara pada pelayaran Marcopolo dengan kapal Vacto De Gama untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat
         Hasil dari pelayaran itulah negara-negara Eropa berbondong-bondong masuk ke Hindu karena melihat dua pulau dari hasil pelayaran Marcopolo yaitu pulau emas
Di Papua dan Pulau padi Di Kalimantan. Inilah cikal bakal masuknya para kolonial di bumi nusantara/hindia Belanda (01/April/2016)

KAJIAN TEORITIS FOKMAD

               Hari Jumat tanggal 24 Maret tahun 2016  jam 9 malam. Fokmad sukses mengadakan kajian teoritis seputar permasalahan pendidikan di Indonesia. Dengan tema "Revolusi Pendidikan " kajian tersebut terbilang aktif  dengan Bung Fanshuri sebagai pemateri. Kajian ini di hadiri  oleh seperempat anggota.
             "Materi kajian pada hari ini bisa dibilang menarik dan seru sehingga bisa mengetahui hakikat mahasiswa itu sendiri " kata bung Rusman.. selain itu kata kata terakhir dari bung fanshuri sebagai penutup diskusi "Mendidik Rakyat dengan Perlawanan Mendidik Penguasa dengan Perlawanan!!!!" (24/03/2016)

KADER FOKMAD ANGKATAN I

Kader Fokmad Angkatan II

SINDIRAN BUAT UIN ALAUDDIN MAKASSAR

PENGURUSAN ADMINISTRASI SEPERTI ANTRIAN SEMBAKO 


Mungkin itu hanya sekilas kata sindiran jika melihat situasi kampus yang sangat padat dan begitu sesak oleh kerumunan mahasiwa yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing mengurus pembayaran kuliah, pengurusan akhir kuliah (skiripsi) atau administrasi lainnya. Namun sebelum pengurusan itu selesai kita wajib melewati “RUANGAN ADMINISTRASI DILANTAI DUA” khususnya di Fakultas Tarbiyah sebagai syarat mutlak, ini seperti memasuki labirin kesesatan atau mungkin wormhole (lubang cacing) yang sangat sulit untuk kita masuki. Kita mungkin akan berpikir kenapa pihak kampus berani membuat kebijakan tanpa melihat keadaan dan kondisi. Seharusnya kebijakan bukan dibuat hanya menguntungkan satu pihak (birokrasi) tetapi mahasiswa juga harus. Ini tentang bagaimana sulitnya mengurus berkas akademik dengan penerapan sistem antrian yang harus melewati loket-loket pengurusan sistem seperti ini sama seperti antrian sembako pada waktu bulan idul fitri telah tiba. Sekiranya kita sepakat dengan penerapan sistem itu tapi, Jika dipikir ulang bagaimana bisa dua loket dengan dua pegawai mengurusi antrian ribuan mahasisiwa.....!!!???. herankan...

Hari-hari yang kita jalani akan semakin menjadi muak, dijalanan laki-laki tua bertopi petani mendorong kursi roda lantaran kakinya putus karna kusta dan ternistakan pula oleh masyarakat yang lebih tertarik untuk berteriak dan mengulurkan tangan untuk korban palestina sedangkan kemiskinan dinegara sendiri tumbuh subur seperti jamur dimusim hujan, penjahat agama begitu pintar menyembunyikan kebiadaban dibalik bait-bait suci, orang hipokrit pura-pura berbuat kebaikan sedangkan dibalik kepala telah bertahta wajah keserakahan. Dikampus apalagi.......politik kampus sama busuknya dengan politik praktis mengikis habis peradaban dan menjadikannya hiasan-hiasan dinding yang dipajang dipamflet-pamflet, dihalaman buku saku mahasiswa, diportal akademik. Premanisme di legalkan dan dipelihara, kekerasanpun dibenarkan dengan alasan yang ambigu, kritikan menjadi ancaman dari perspektif akademik menjadikan kaum pergerakan menemukan jalan buntu dan tercekal dengan ancaman DO memaksakan mereka untuk tunduk.


http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html